Hilangnya keanekaragaman hayati mengancam kemampuan bumi memenuhi kebutuhan manusia.

Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh University of British Columbia (UBC) dan University of Michigan yang diumumkan pada publik Rabu lalu (6/6).

Dengan hilangnya keanekaragaman hayati, kemampuan bumi untuk menyediakan produk dan jasa seperti air, pangan, pakan, tanah yang subur, perlindungan dari hama dan penyakit menjadi semakin rentan.

Sebanyak 17 peneliti dari berbagai negara, termasuk para ahli biologi dari University of British Columbia dan McGill, melakukan penelitian ini selama 20 tahun dan memresentasikan hasil penemuan mereka dalam jurnal “Nature” edisi 7 Juni.

Laporan mereka merangkum lebih dari 1.000 penelitian ekologis yang dilakukan sejak berlangsungnya Earth Summit di Rio de Janeiro, Brasil, tahun 1992.

“Kami menyimpulkan, upaya melindungi spesies dan keanekaragaman biologi bukanlah sebuah upaya yang terpisah,” ujar Diane Srivastava, professor dan peneliti dari University of British Columbia yang menyusun laporan ini.

Menurut penelitian ini, keanekaragaman genetik bisa meningkatkan hasil panen, produksi kayu, ketersediaan pakan di darat dan ikan di laut. Keanekaragaman tanaman juga meningkatkan daya tahan tanaman terhadap patogen, termasuk terhadap infeksi jamur dan virus.

Penyerapan karbon di atas permukaan tanah juga akan meningkat dengan bertambahnya biomasa, produksi mineral dan bahan-bahan organik dalam tanah.

“Sama seperti peringatan dokter bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan, para ahli sepakat, hilangnya keanekaragaman hayati di ekosistem bumi akan mengancam kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada produk dan jasa dari alam ini,” ujar Bradley Cardinale, peneliti dari University of Michigan yang memimpin penelitian ini.

“Kita perlu mengatasi masalah hilangnya keanekaragaman hayati ini dengan lebih serius. Setiap individu hingga lembaga internasional harus terlibat dalam upaya mencegah hilangnya spesies di muka bumi.”

Panggilan untuk beraksi ini seiring dengan diselenggarakannya Konferensi Pembangunan Berkelanjutan (Rio+20) di Rio de Janeiro, tanggal 20 Juni nanti.

Konferensi ini bertepatan dengan 20 tahun peringatan Earth Summit di kota yang sama pada tahun 1992, dimana 193 negara sepakat untuk mendukung Konvensi Keanekaragaman Biologis guna melindungi keanekaragaman hayati sekaligus menjaga kelestarian sumber daya alam untuk generasi kini dan mendatang.

Redaksi Hijauku.com