Stasiun pemantauan di Arktika (Kutub Utara) baru-baru ini mendeteksi rekor baru konsentrasi emisi CO2 di atmosfer yang jauh melebihi batas aman 350 ppm.

Hal ini terungkap dari laporan di situs NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) yang diterbitkan akhir bulan Mei lalu (31/5).

Konsentrasi CO2 di atmosfer di wilayah Barrow, Alaska, jauh melampaui batas aman sebesar 350 ppm – menjadi rata-rata 400 ppm per bulan – sejak bulan April lalu.

Karbon dioksida adalah gas rumah kaca hasil pembakaran bahan bakar fosil serta aktivitas manusia lain dan menjadi penyebab utama perubahan iklim.

“Laporan stasiun pemantau di Arktika ini menunjukkan tren yang akan terjadi secara global,” ujar Pieter Tans, peneliti di Earth System Research Laboratory (ESRL) milik NOAA yang berlokasi di Boulder, Colorado. “Konsentrasi emisi CO2 rata-rata dunia diperkirakan akan mencapai angka 400 ppm pada 2016.”

Kenaikan konsentrasi emisi CO2 di atmosfer juga tercatat di enam stasiun pemantau lain di Alaska, Kanada, Islandia, Finlandia, Norwegia dan di sebuah pulau di Pasifik Utara, setidaknya satu kali sejak April lalu.

Kenaikan konsetrasi emisi CO2 ini menurut NOAA disebabkan oleh meningkatnya polusi udara di seluruh dunia dalam jangka panjang. “Dengan naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, Anda sama dengan mencolokkan selimut pemanas ke listrik,” ujar Jim Butler, Direktur ESRL Global Monitoring Division. “Anda tahu suhu akan naik namun Anda tidak tahu pasti secepat apa kenaikan suhu itu akan terjadi. Pemanasan selimut – atau atmosfer – memerlukan waktu.”

Tahun lalu, menurut data NOAA, konsentrasi CO2 dunia sudah mencapai 390,4 ppm dan diperkirakan akan mencapai 400 ppm pada tahun 2016. Sebagai perbandingan, sebelum revolusi industri pada tahun 1880-an, konsentrasi rata-rata CO2 dunia adalah 280 ppm.

Redaksi Hijauku.com