Kemitraan dan kerjasama pembangunan antar negara menjadi kunci percepatan menuju ekonomi yang berkelanjutan.

Pernyataan ini disampaikan oleh Sha Zukang, Sekretaris Jenderal Konferensi Pembangunan Berkelanjutan (Rio+20) dalam siaran pers PBB kemarin, (14/5). Menurut Zukang, saat ini, bantuan harus difokuskan ke negara berkembang guna menemukan solusi jangka panjang atas masalah kemiskinan dan membantu mereka beralih ke ekonomi hijau.

“Dari persiapan Rio+20 kami menyimpulkan bahwa ide dasar kerjasama pembangunan antar negara berperan penting memercepat penerapan pola pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya dalam pembukaan Simposium Tingkat Tinggi Australia dengan tema “Shaping a Sustainable Future – Partners in Development Cooperation,” yang berlangsung hingga hari ini.

Simposium ini memfasilitasi para pembuat kebijakan, organisasi multilateral dan sipil, lembaga filantropi dan perusahaan swasta untuk berdialog secara informal tentang potensi kerjasama pembangunan yang berkelanjutan.

Menurut Sha Zukang, negara-negara berkembang terus menghadapi tantangan dalam mengentaskan kemiskinan, mengatasi masalah kelaparan dan memberikan akses sosial dasar kepada masyarakatnya. Kerjasama pembangunan harus bisa memerbaiki kondisi masyarakat dalam jangka panjang dan bukan hanya memberikan solusi sesaat.

“Dalam konsep pembangunan yang berkelanjutan, pembangunan harus bisa memberdayakan termasuk para perempuan maupun kaum muda untuk bisa mandiri dan bermimpi akan masa depan yang lebih baik – masa depan yang mereka inginkan,” ujarnya.

Laporan Panel Tingkat Tinggi PBB (UN High-Level Panel) terbaru menyatakan, dunia akan memerlukan pangan 50% lebih banyak pada tahun 2030. Tidak hanya pangan, dunia juga membutuhkan energi 45% lebih banyak dan air 30% lebih banyak pada 2030. Kerjasama pembangunan antar negara memiliki peran penting membantu negara-negara miskin menciptakan kebijakan yang tepat guna mengatasi masalah ekonomi, sosial dan masalah lingkungan.

Simposium ini adalah persiapan menuju Forum Kerjasama Pembangunan PBB (UN Development Cooperation Forum) yang akan berlangsung di markas besar PBB di New York, pada 5-6 Juli. Hasil simposium ini juga akan menjadi bahan dalam Konferensi Pembangunan Berkelanjutan (Rio+20) yang akan berlangsung bulan depan di Brazil.

Redaksi Hijauku.com