Paradigma pertanian baru ini menjadi solusi dari kegagalan sistem Revolusi Hijau yang telah merusak industri pertanian di negara berkembang.

Sistem pertanian saat ini tidak akan bisa memenuhi kebutuhan generasi mendatang. Untuk bisa berkembang, pertanian harus belajar melestarikan lingkungan.

Inilah paradigma baru yang diperkenalkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sebagai respon atas kegagalan Revolusi Hijau yang diterapkan di seluruh dunia sejak 1960-an. Dalam laporan berjudul “Save and Grow” yang diterbitkan FAO tahun lalu, M.S. Swaminathan, Bapak Revolusi Hijau India menyebut pendekatan baru ini sebagai Revolusi Lestari atau “Evergreen Revolution”.

Revolusi Hijau telah menyelamatkan sekitar satu miliar penduduk dari bencana kelaparan dengan strategi tata kelola pertanian modern mengandalkan pada bantuan irigasi, bibit unggul, mesin dan pupuk kimia. Hijauku.com telah menulis serial Revolusi Hijau beberapa waktu yang lalu di sini. Para petani di negara berkembang berhasil meningkatkan produksi pangan dari 800 juta ton menjadi lebih dari 2,2 miliar ton antara tahun 1961 hingga 2000.

Namun prestasi ini menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Di berbagai negara, sistem Revolusi Hijau mengeringkan sumber air dan menggerus kesuburan tanah. Sistem ini juga memicu menyebarnya hama tanaman, merusak keanekaragaman hayati, mencemari udara, air dan tanah.

Saat populasi dunia diperkirakan mencapai 9,2 miliar jiwa pada 2050, dunia tidak lagi memiliki pilihan lain selain melakukan intensifikasi pertanian untuk lebih menggenjot produksi pangan. Namun upaya seperti Revolusi Hijau tidak lagi dapat diterapkan. Saat ini kerusakan lingkungan hasil peninggalan Revolusi Hijau masih terus terjadi. Kompetisi memerebutkan sumber daya air terus meningkat seiring dengan kenaikan harga minyak dan dampak perubahan iklim yang semakin parah.

Untuk bisa bertumbuh, pertanian dunia harus merubah paradigma. Menurut FAO, para petani bisa meningkatkan hasil panen, menjaga kesuburan tanah, menghemat waktu dan biaya produksi dengan beralih ke sistem intensifikasi produksi pertanian yang berkelanjutan (sustainable crop production intensification, SCPI).

Sistem ini adalah sistem pertanian yang menerapkan praktik konservasi atau penyelamatan sumber daya alam (conservation agriculture), meminimalisir penggunaan lahan pertanian dengan beralih ke tanaman yang lebih produktif yang mampu menjaga kesuburan tanah.

Semua praktik tersebut, menurut FAO, terbukti mampu mengurangi kebutuhan air hingga 30% dan biaya produksi hingga 60%. Penerapan sistem ini di wilayah Afrika bagian selatan telah berhasil meningkatkan produksi gamdum hingga enam kali lipat.

Dengan menerapkan pola irigasi yang lebih tepat guna, para petani bisa menghasilkan panen lebih banyak. Petani juga bisa mengurangi kebutuhan pupuk kimia dengan menerapkan pola pemupukan yang lebih tepat sasaran sehingga bisa melipatgandakan nutrisi yang diserap oleh tanaman. Dengan menggunakan insektisida secara lebih bijaksana mereka bisa menyelamatkan predator alami yang membantu penanggulangan hama.

Penelitian FAO di 57 negara berkembang menemukan, dengan menggunakan air secara lebih efisien, mengurangi penggunaan pestisida dan meningkatkan kesuburan tanah, petani akan bisa meningkatkan hasil panen rata-rata mencapai 79%.

Penelitian lain menyimpulkan bahwa sistem pertanian yang mampu melestarikan layanan ekosistem dengan menerapkan sistem konservasi lahan, diversifikasi tanaman serta pengendalian hama alami mampu menghasilkan panen yang setara dengan sistem intensif yang lain yang tidak ramah lingkungan.

Dengan menciptakan ekosistem pertanian yang sehat, menurut FAO, dunia akan bisa membantu keluarga petani miskin di negara berkembang – yang jumlahnya mencapai 2,5 miliar penduduk – memaksimalkan hasil panen untuk menjamin biaya pendidikan dan kesehatan keluarga. (Bersambung)

Redaksi Hijauku.com