Ekosistem yang lestari akan membantu masyarakat bertahan sebelum, ketika dan sesudah terjadi bencana alam.

Gempa berkekuatan 8,5 skala richter yang terjadi di wilayah Sumatra baru-baru ini yang disertai dengan peringatan potensi tsunami kembali mengingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi bencana alam yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Gempa adalah salah satu jenis bencana alam yang tak bisa kita cegah. Masih banyak jenis bencana alam lain yang mengancam masyarakat seperti banjir, angin topan, kekeringan ekstrem, letusan gunung berapi dsb. Nilai kerusakan akibat berbagai bencana alam ini mencapai rekor pada 2011 sebesar US$378 miliar.

Walau jumlah korban jiwa akibat bencana alam jauh menurun karena bantuan sistem peringatan dini dan teknologi lain, sebanyak 29.700 jiwa masih menjadi korban dari 302 bencana yang terjadi tahun lalu.

Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP) risiko sebelum, sesaat dan sesudah terjadi bencana akan bisa jauh dikurangi jika dunia bisa menciptakan ekosistem yang sehat dan lestari.

Ibrahim Thiaw, Direktur Divisi Penerapan Kebijakan Lingkungan UNEP, dalam diskusi yang diselenggarakan di New York, Jum’at lalu (13/4) menyatakan, dunia akan bisa menciptakan alat penahan alami (natural buffer) terhadap bencana sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi jika dunia bisa memerbaiki cara pengelolaan hutan, tanah basah (wetlands) dan ekosistem yang lain.

Upaya mengurangi risiko dan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana adalah bagian dari konsep pembangunan berkelanjutan yang menjadi isu utama pada konferensi Rio+20 mendatang.

“Ekosistem yang sehat adalah perlindungan terbaik bagi masyarakat yang mengandalkan ekonominya dari sumber daya alam. Ekosistem yang sehat juga memberikan banyak keuntungan termasuk keuntungan sosial, ekonomi dan lingkungan saat terjadi bencana atau tidak,” ujarnya.

Contoh keberhasilan ekosistem meningkatkan ketahanan alami masyarakat terhadap bencana bisa dilihat di Burkina Faso. Lebih dari 200.000 hektar lahan kering di wilayah itu berhasil disuburkan kembali oleh petani lokal melalui teknik pertanian tradisional dan “agroforestry” (teknik yang mengintegrasikan pengelolaan hutan dan pertanian). Hasilnya para petani lokal mampu meningkatkan hasil produksi pangan sebesar 80.000 ton per tahun.

Di Ethiopia, 1 juta hektar lahan berhasil direhabilitasi dan 600.000 hektar hutan berhasil dihijaukan kembali melalui program pengelolaan lahan dan air yang berkelanjutan yang dikenal dengan nama MERET. Kesuksesan ini berhasil mengurangi risiko kekeringan dan meningkatkan keamanan pangan keluarga sebesar 50%.

Di wilayah barat Jamaika, Program Lingkungan PBB berhasil mengungkap peran terumbu karang dan rumput laut guna melindungi pantai dari erosi dan badai. Program reboisasi pantai juga berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia dengan penanaman kembali hutan bakau (mangrove) yang rusak.

Contoh dari negara maju datang dari pemerintah Belanda yang sejak lama dikenal karena kemampuannya mengendalikan banjir, melindungi 4 juta penduduknya yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai.

Sementara pemerintah Swiss berinvestasi di sektor kehutanan yang mampu melindungi penduduk dari bencana alam yang sering terjadi di pegunungan, seperti longsor batu maupun salju. Investasi di sektor kehutanan ini 5-10 kali lebih murah dibanding jika pemerintah harus berinvestasi di infrastruktur teknis untuk mengatasi bencana alam.

Redaksi Hijauku.com