Kualitas sumber daya manusia menjadi kunci pencapaian target layanan sanitasi dan air bersih di negara berkembang.

Hal ini terungkap dari laporan dua lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diterbitkan kemarin (12/4).

Laporan yang disusun oleh UN-Water dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini menyebutkan, sebanyak 74 negara – naik dari 43 negara pada 2010 – kekurangan keahlian teknis dan sumber daya manusia guna mengoperasikan dan merawat fasilitas air dan sanitasi hasil bantuan 24 lembaga bilateral dan multilateral.

Memberikan layanan sanitasi dan air minum yang aman adalah salah satu Target Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals).

Menurut laporan yang berjudul “Global Analysis and Assessment of Sanitation and Drinking Water” ini, jumlah bantuan sanitasi dan air minum di negara-negara berkembang meningkat sebesar 3% antara 2008 hingga 2010, menjadi US$ 7,8 miliar, walau dunia tengah dilanda krisis keuangan.

Namun hanya separuh dari bantuan itu yang berhasil dialokasikan untuk negara yang benar-benar memerlukan, seperti negara-negara di wilayah Afrika sub-Sahara, Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Satu dari tiga negara di wilayah-wilayah itu kekurangan dana untuk mengelola fasilitas air dan sanitasi di perkotaan. Dan hanya 7% sumber daya eksternal (salah satunya adalah hasil bantuan lembaga bilateral dan multilateral) yang dipakai untuk mengelola layanan air dan sanitasi ini. Sehingga layanan sanitasi dan pasokan air bersih di wilayah tersebut banyak yang tertinggal.

Laporan ini juga menyebutkan, banyak negara sudah memiliki komitmen untuk mendanai fasilitas air dan sanitasi sejak tahun 2010. Namun sebanyak 83% dan 70% negara tertinggal dalam pencapaian target nasional mereka, memberikan akses atas sanitasi dan air minum yang layak.

“Diperlukan konsolidasi dan investasi di layanan air dan sanitasi guna memastikan terpenuhinya kebutuhan sanitasi dasar dan air minum yang aman,” ujar Direktur Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat WHO, Maria Neira. “Layanan air dan sanitasi yang layak penting guna mencegah kematian yang diakibatkan oleh penyakit pencernaan di seluruh dunia,” ujarnya.

Siaran pers dari UN Water bisa diakses di sini dan diunduh di sini.

Redaksi Hijauku.com