Tim dari Program Lingkungan PBB (UNEP) telah menyelesaikan misi memelajari limbah akibat gempa bumi dan tsunami di Jepang yang terjadi tahun lalu.

Misi yang selesai kemarin ini (Senin, 5 Maret 2012) adalah langkah awal guna membentuk jaringan ahli pengelolaan limbah untuk wilayah yang terkena bencana.

Menurut UNEP, Jepang telah mengambil langkah yang mengagumkan guna menangani sampah paska bencana alam terburuk yang mereka alami dalam satu abad terakhir.

Mereka berhasil menciptakan standar baru dalam menangani jutaan ton sampah paska tsunami dan gempa. Gempa bumi dan tsunami memakan korban lebih dari 15.000 penduduk, merusak kota dan desa di sepanjang garis pantai di wilayah Tohoku, Jepang.

Sebanyak 29 juta ton sampah terkumpul di wilayah ini saja. Masih ada 3.305 penduduk yang dilaporkan hilang sementara 340.000 lainnya masih mengungsi.

Misi Program Lingkungan PBB ini dilakukan atas permintaan pemerintah Jepang. Para ahli internasional saling berbagi pengalaman dan informasi cara penanganan limbah dan sampah paska bencana dengan penduduk yang terlibat dalam upaya pembersihan.

Jepang adalah salah satu negara yang memiliki reputasi tanggap bencana terbaik di dunia. Para ahli juga ingin memelajari bagaimana Jepang menangani masalah yang muncul paska gempa berkekuatan 9.0 skala richter yang terjadi 11 Maret tahun lalu ini.

Misi para ahli UNEP ini diselenggarakan oleh International Environmental Technology Centre (IETC), yang bermarkas di Osaka, Jepang bekerja sama dengan Post-Conflict and Disaster Management Branch, yang berpusat di Jenewa, Swiss.

Menurut data dari UN Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR), kerugian total dari bencana alam ini diperkirakan mencapai rekor US$366 miliar (sekitar 28 trilyun yen) di 2011, dengan kerugian di Jepang mencapai dua pertiganya.

Redaksi Hijauku.com