Polusi udara di berbagai kota-kota dunia terus meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat.
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis September lalu, sebanyak 2 juta orang meninggal dunia setiap tahun karena polusi udara luar ruang dan dalam ruang.
Penyebab utama kematian tersebut adalah meningkatnya konsentrasi PM10 di udara. PM10 adalah partikel-partikel halus yang berukuran sama atau kurang dari 10 mikron.
Sedemikian kecilnya, PM10 bisa menyusup dalam paru-paru dan aliran darah sehingga memicu penyakit jantung, kanker paru-paru, asma dan infeksi pernafasan akut.
Di negara maju maupun di negara berkembang, penyumbang polusi udara terbesar di wilayah perkotaan adalah emisi dari kendaraan bermotor, pabrik skala kecil dan pembangkit listrik tenaga batu bara.
Sementara untuk wilayah pedesaan, penggunaan bahan bakar tradisional seperti kayu dan batu bara untuk memasak dan memanaskan ruangan menjadi penyebab polusi utama.
Standar kualitas WHO untuk polusi PM10 adalah 20 mikrogram/m3 per tahun. Alih-alih memenuhi standar, data WHO mengungkapkan, tingkat polusi PM10 di sejumlah kota dunia ada yang mencapai 300 mikrogram/m3 per tahun.
Dalam laporannya ini WHO menyertakan data polusi di hampir 1100 kota dari 91 negara, termasuk di wilayah ibu kota dan kota dengan penduduk lebih dari 100.000 jiwa.
Dari lima kota di Indonesia yang diteliti WHO, hanya kota Pekanbaru yang konsentrasi rata-rata PM10-nya memenuhi standar kualitas yaitu 11 mikrogram/m3 per tahun.
Konsentrasi PM10 di Ibu Kota kita tercinta, Jakarta, masih dua kali lipat di atas ambang batas WHO yaitu sebesar 43 mikrogram/m3/tahun. Polusi PM10 di Surabaya mencapai 69 mikrogram/m3/tahun. Sementara konsentrasi PM10 di Medan jauh lebih tinggi, mencapai 111 mikrogram/m3/tahun.
Tingkat polusi udara di wilayah perkotaan ini terus meningkat tercermin dari terus naiknya jumlah kematian prematur dari 1,15 juta jiwa per tahun pada 2004 menjadi 1,34 juta per tahun pada 2008.
Menurut WHO, jika saja standar PM10 ini terpenuhi, dunia bisa mencegah 1,09 juta kematian per tahun pada 2008. Dan jika dunia bisa mengurangi konsentrasi rata-rata PM10 dari 70 mikrogram/m3 saat ini menjadi 20 mikrogram/m3 per tahun, dunia akan bisa mengurangi risiko kematian sebesar 15%.
Kesuksesan ini akan menjadi prestasi yang membanggakan di bidang kesehatan.
Untuk itu WHO menyeru masyarakat dunia agar sadar akan bahaya polusi udara ini dan meminta pemerintah menerapkan kebijakan yang efektif guna mengurangi dan mengawasi polusi udara – tidak hanya di perkotaan namun juga di wilayah pedesaan.
Redaksi Hijauku.com
Profesor saya dulu pernah menulis di buku saya : “Never believe what so called expert says”…. saya rasa ini cukup Qur’ani… wa la ta’fu maa laisalaka bihi ‘ilmun.. jangan mengikuti apa yang kamu tidak punya pengetahuan tentang halnya… karena Allah akan meminta pertanggung jawaban pada pendengaran, penglihatan dan mata hati kita..
Termasuk hasil Laporan WHO ini… jangan langsung percaya…
Mengkorelasikan “polusi” dengan “perubahan iklim” adalah korelasi yang terlampau jauh. 5 Kota Besar di Indonesia mencakup luas berapa km2 dibanding luas Indonesia nan hijau (30% daratan) dan biru (70% laut).
Pernah lihat Jakarta sehabis hujan? betapa segarnya… hujan tropis yang deras di kepulauan terluas di muka jagad ini bisa menurunkan partikel, debu dan ion2 negatif di angkasa Jakarta dalam sekejap. Bandingkan dengan smog di atas Los Angeles dan fog di atas San Francisco yang menggantung menyesakkan nafas… kondisi alam kita diberi perbedaan…
Volkano kita bahkan mencatat sejarah telah mendinginkan bumi beberapa kali… Instant Global Cooling ! Letusan G Tambora th 1815 mennurunkan suhu bumi 1 deg C dalam beberapa hari !. Letusan G Toba supervulcano malah memicu Ice Age, karena global cooling 4-5 deg C !. Bandingkan dengan klaim global warming sekarang, yang memakai data 150 tahun terakhir suhu naik 0.56 deg C.
Oleh karenanya, “Laporan WHO” atau lembaga internasional lainnya, tidak bisa serta merta bisa berlaku di sini… dan perlu dikritisi seperti suruhan Qur’an tadi.
Terima kasih Pak Agus, Anda benar kita harus kritis membaca data. Mengenai pemanasan global dan polusi udara, sebenarnya data ini merujuk pada fenomena global tidak bisa hanya merujuk pada satu atau dua kota. Benar yang Bapak sampaikan. Pemanasan global adalah hasil perubahan yang sudah dimulai sejak masa pra industri, masa industri hingga saat ini. Mungkin Bapak tertarik untuk membaca konsep keadilan iklim atau Climate Justice. Indonesia masih beruntung dikaruniai alam yang masih relatif lestari dan cuaca tropis. Hutan di Indonesia juga masih berperan sebagai paru-paru dunia, menyerap emisi CO2. Namun di wilayah-wilayah yang lain seperti di wilayah tanduk Afrika, kekeringan ekstrim melanda. Di sejumlah wilayah Asia hujan ektrem membawa bencana. Kesadaran kita untuk menjaga alam dan mengurangi emisi CO2 adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai warga dunia. Menuju sistem pengelolaan alam dan lingkungan yang lebih baik. Terima kasih.