Sektor swasta dan pemerintah terus meningkatkan investasi di industri ramah lingkungan guna beralih lebih cepat ke sistem ekonomi rendah karbon.

Hal ini terungkap dalam laporan PBB yang diterbitkan Rabu (16 November). Laporan ini menyebutkan, tren ini akan terus berlanjut dan akan menfasilitasi transisi ke model ekonomi yang lebih efisien dan memiliki tanggung jawab sosial.

Laporan yang berjudul “Towards a Green Economy: Pathways to Sustainable Development and Poverty Eradication” yang disusun oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) ini menekankan, hanya dengan berinvestasi 2% dari Produk Domestik Bruto Global di 10 sektor kunci, peralihan ke ekonomi hijau dari model ekonomi saat ini yang tidak efisien dan mencemari lingkungan akan bisa dimulai.

Menurut Achim Steiner, Direktur Eksekutif UNEP, “Ada sejumlah negara yang beralih lebih cepat ke ekonomi hijau dan ini akan menjadi “faktor penarik” bagi negara-negara lain untuk turut serta dalam beberapa bulan dan tahun mendatang.”

China memimpin investasi di sektor energi terbarukan mengambil alih posisi Spanyol pada 2009. Tahun lalu, China berinvestasi sebesar US$49 miliar di energi terbarukan. Secara keseluruhan, China berkomitmen berinvestasi sebesar US$468 miliar dalam lima tahun mendatang – naik lebih dari dua kali lipat dibanding investasi dalam lima tahun sebelumnya – di industri-industri kunci termasuk di sektor energi terbarukan, teknologi ramah lingkungan (clean technologies) dan pengelolaan limbah.

Menurut Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, “Dengan kebijakan publik yang cerdas pemerintah bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja sekaligus meningkatkan kemajuan sosial dengan cara yang lebih humanis dan masih dalam batas-batas kemampuan ekologis bumi.”

Di Mesir misalnya, investasi di energi terbarukan naik sebesar US$800 juta ke US$1,3 miliar dengan dimulainya proyek tenaga surya di Kom Ombo dan proyek pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 220-megawatt di wilayah Padang Pasir Zayt (Gulf of Zayt). 

Di Kenya, investasi di teknologi ramah alam – seperti pembangkit listrik tenaga angin, panas bumi, pembangkit listrik tenaga air skala kecil dan biofuel – naik hampir dari nol pada 2009 ke US$1,3 miliar tahun lalu.

Secara global, investasi sebesar US$100 milliar hingga US$300 milliar per tahun di sektor pertanian ramah lingkungan (green agriculture), mulai dari sekarang hingga tahun 2050, akan bisa memerbaiki kualitas tanah dan meningkatkan hasil panen komoditas-komoditas penting sebesar 10% dari strategi yang ada saat ini.

Dengan berinvestasi sebesar 2% dari Produk Domestik Bruto Dunia di bidang pertanian, energi, bangunan, air, kehutanan, perikanan, manufaktur, limbah, pariwisata dan transportasi, dunia tidak hanya akan bertumbuh secara berkelanjutan namun juga bisa menjaga dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dibanding jika dunia masih mempertahankan model bisnis tradisional yang ada saat ini.

Redaksi Hijauku.com