Upaya pemulihan lingkungan di wilayah penghasil minyak Nigeria, Ogoniland bisa menjadi upaya paling ekstensif dan paling lama di dunia.

Minyak telah mencemari pasokan air minum, tanah, sungai-sungai kecil dan ekosistem lain sehingga membutuhkan waktu untuk mengembalikannya seperti semula. Demikian laporan penelitian PBB yang dikeluarkan kemarin (Kamis, 4 Agustus).

Dibutuhkan waktu 25-30 tahun, dengan biaya awal mencapai US$1 miliar selama lima tahun pertama agar bisa membersihkan polusi minyak di Niger Delta hasil dari polusi penambangan minyak selama lebih dari 50 tahun.

Bencana minyak di wilayah tersebut meliputi kerusakan tanaman bakau hingga pencemaran sumur-sumur oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang bisa menyebabkan kanker di wilayah dengan penduduk 1 juta jiwa tersebut.

Penelitian independen yang dilakukan oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) selama 14 bulan menunjukkan hasil yang lebih mengerikan daripada asumsi sebelumnya.

Tim UNEP meneliti lebih dari 200 lokasi dan memeriksa jaringan pipa sepanjang 122 kilometer, menganalisis 4.000 sampel tanah dan air, memeriksa 5.000 laporan medis serta mendengarkan masukan dari 23.000 orang dalam pertemuan masyarakat lokal.

Laporan yang berjudul “Kajian Lingkungan Ogoniland” (Environmental Assessment of Ogoniland) ini mengusulkan dibentuknya Badan Pemulihan Lingkungan Ogoniland (Ogoniland Environmental Restoration Authority) tanpa menunggu waktu dengan modal awal sebesar US$1 miliar yang berasal dari perusahaan minyak dan pemerintah guna menutupi biaya pembersihan minyak selama lima tahun pertama serta membentuk pusat manajemen lahan (soil management centre) dengan ratusan pusat-pusat penanggulangan mini yang bisa membuka ratusan lapangan kerja.

Usulan lain adalah dengan membentuk pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat bagi mereka yang terkena dampak bencana minyak ini di wilayah Niger Delta dan wilayah lain di dunia.

Penelitian itu juga menemukan, tingkat polusi dalam tanah lebih parah di sejumlah wilayah yang sebelumnya tidak terindentifikasi di permukaan tanah sehingga tindakan untuk menjamin kesehatan dan mengurangi polusi harus dilakukan segera.

Kesehatan penduduk juga terancam bahaya di setidaknya 10 komunitas di mana air minum sudah tercemar parah oleh hidrokarbon.

Di salah satu komunitas, Nisisioken Ogale, yang terletak di dekat jaringan pipa milik Perusahaan Minyak Nasional Nigeria, penduduk terpaksa minum dari sumur yang tercemar bensin – yang dikenal sebagai pemicu kanker – dengan level lebih dari 900 kali lebih tinggi dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehingga perlu tindakan darurat atas ancaman kesehatan ini.

Sementara itu efek polusi minyak terhadap tanaman bakau juga tak kalah berbahayanya. Di sungai-sungai kecil di mana tanaman bakau berfungsi sebagai tempat berkembang biak ikan dan penyaring polusi alami, akar-akar bakau terlihat dilapisi oleh polutan karbon berwarna hitam. Walaupun begitu, konsumsi ikan tidak menimbulkan masalah kesehatan.

Setiap hari, masyarakat Ogoni terus terancam oleh polusi minyak dengan berbagai cara. Polusi udara dari ladang-ladang minyak semakin parah dan mengancam kesehatan lebih dari 1 juta penduduk. UNEP menekankan, penelitian yang dimulai pada akhir 2009, ini adalah penelitian independen yang dibiayai oleh Shell Petroleum Development Company sesuai dengan “polluter-pays principle”.

Redaksi Hijauku.com