Salah satu cara paling efektif untuk mencegah pemanasan global adalah dengan menanam pohon dan menjaga kelestarian hutan. Namun sebuah penelitian dari Marine Biological Laboratory (MBL) yang diterbitkan Mei lalu menemukan, pemanasan global bisa merusak fungsi pohon sebagai penyerap karbon.

Menurut analisis Physorg, pohon dan tanaman menangkap karbon dioksida dalam proses yang dikenal dengan nama fotosintesis. Pohon membantu menyerap gas rumah kaca di udara yang menjadi penyebab utama pemanasan global, dengan cara menyimpan gas tersebut dalam lapisan kayunya.

Namun pemanasan global bisa merusak kemampuan pohon untuk menyerap karbon dengan mengubah siklus nitrogen di hutan. Demikian kesimpulan studi yang diketuai oleh Jerry Melillo, ilmuwan senior dari Marine Biological Laboratory (MBL) Ecosystems Center yang diterbitkan dalam jurnal ternama “Proceedings of the National Academy of Sciences”.

Laporan tersebut merupakan hasil penelitian selama 7 tahun di Hutan Harvard di Massachusetts. Seperempat dari lahan di hutan tersebut dihangatkan secara mekanis dengan cara menaikkan suhu di atas rata-rata, untuk mensimulasi efek pemanasan global. Pemanasan global diperkirakan terjadi pada akhir abad ini jika kita tidak berhasil mengontrol secara agresif polusi gas rumah kaca akibat dari pembakaran bahan bakar fosil dan penebangan hutan.

Penelitian itu memperkuat hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa iklim yang lebih “hangat” mempercepat pembusukan (decomposition) bahan-bahan organik di tanah yang akan memperbesar jumlah pelepasan karbon dioksida ke udara.

Namun, untuk pertama kalinya, penelitian itu mengungkap bahwa suhu yang lebih hangat juga meningkatkan jumlah karbon yang tersimpan dalam serat pohon. Peningkatan jumlah karbon di tanaman ini menurut para peneliti disebabkan oleh meningkatnya jumlah nitrogen di udara sebagai efek dari pemanasan global.

“Pertumbuhan pohon di hutan-hutan Amerika terganggu karena nitrogen yang berlebih,” ujar Melillo. “Pemanasan global menyebabkan nitrogen yang tersimpan dalam bahan-bahan organik di dalam tanah terlepas dalam bentuk nitrogen unorganik (inorganic) seperti amonium, bentuk umum nitrogen yang ditemukan dalam pupuk taman. Saat pohon menyerap bahan-bahan unorganik ini, mereka akan tumbuh lebih cepat dan dalam prosesnya menyimpan lebih banyak karbon.”

Melillo mengatakan, proses biologis yang mengaitkan pemanasan global dengan meningkatnya jumlah karbon yang tersimpan di serat tanaman, percepatan pembusukan bahan organik dalam tanah dan meningkatnya jumlah nitrogen di udara ini hanya akan terjadi di hutan-hutan yang bersuhu sedang di negara-negara maju seperti di Amerika Utara, Eropa dan perbatasan Eropa dan Asia.

Pertumbuhan pohon di daerah beriklim tropis dipengaruhi lebih banyak faktor, tidak hanya nitrogen, sehingga penemuan ini kurang relevan untuk menganalisis hutan di daerah tropis.

Namun menurut Melillo, penelitian ini bisa membantu ilmuwan memprediksi interaksi antara karbon dan nitrogen dalam beberapa dekade ke depan. “Keseimbangan karbon di ekosistem hutan akan tergantung dari berbagai macam faktor yang terus berubah dalam berabad ke depan, seperti ketersediaan air, efek peningkatan suhu terhadap proses fotosintesis, proses respirasi tanaman dan konsentrasi karbon dioksida di udara.”

Redaksi Hijauku.com