Wisdom Capital: Modal yang Tak Pernah Pensiun

2026-08-21T10:04:07+07:0021 August 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan|

Indonesia saat ini duduk di atas kekayaan yang tak pernah masuk dalam neraca pembangunan mana pun: jutaan warga senior yang membawa enam, tujuh, delapan dekade pengalaman hidup, dan yang oleh masyarakat kita—masyarakat yang tergesa-gesa, yang mengukur nilai seseorang dari kecepatan dan kebaruan—terlalu sering diperlakukan seolah telah lewat masa gunanya.

Belajar Hidup dengan Kabar Buruk agar Bisa Terus Berkarya

2026-08-19T07:18:44+07:0019 August 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan|

Dari Ukraina hingga Gaza dan Iran, perang-perang baru terus membakar hutan, meracuni tanah dan air dengan logam berat serta zat kimia, serta menyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang sebanding dengan emisi satu negara—sementara sumberdaya yang semestinya dipakai untuk rehabilitasi, restorasi, dan regenerasi ekologis justru dibakar habis untuk membangun kembali apa yang baru saja dihancurkan.

Seandainya Aku Bisa Merayakan Kemerdekaan dengan Lebih Gembira

2026-08-28T10:57:34+07:0017 August 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan|

Ritual kemerdekaan itu, seperti detak jantung sebuah bangsa, tidak pernah berhenti. Tetapi ada sesuatu yang saya rasa berbeda tahun ini, sesuatu yang lebih sunyi daripada biasanya di balik gegap-gempita seremoni: sebuah keheningan yang bukan berasal dari kekhidmatan, melainkan dari kelelahan.

Mengapa Para Pembenci Pohon Justru Merajalela di Musim Godzilla?

2026-08-14T13:54:42+07:0014 August 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan, Laporan Utama|

Pohon peneduh bukan hanya sebuah elemen estetika. Mereka adalah infrastruktur untuk bertahan hidup. Satu batang mahoni dewasa bisa menurunkan suhu udara dan efek pulau panas perkotaan. Menghilangkan pohon di musim panas seperti saat ini bukan sekadar kelalaian estetis. Ia adalah tindakan melawan kepentingan bersama.

Ketika Pertanian Regeneratif Menjadi Sebuah Keniscayaan

2026-08-12T14:52:06+07:0012 August 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan|

Dalam kepanasan yang mencekik yang mengeringkan sawah-sawah di Jawa Timur hingga retak dan mengubah ladang-ladang gandum di Saskatchewan menjadi hamparan debu berwarna seperti besi berkarat, sebuah trilogi dokumenter terasa bukan lagi sekadar tontonan tentang pertanian, melainkan semacam kitab petunjuk penyelamatan kehidupan yang terlambat kita buka. 

Inilah Musuh Terbesar Bumi dan Pemicu Utama Krisis Iklim

2026-08-10T14:12:24+07:0010 August 2026|Jalal Menulis Keberlanjutan, Laporan Utama|

Musuh terbesar bumi dan pemicu utama krisis iklim ternyata adalah gerombolan berseragam militer, bersenjata lengkap yang terus membuat kerusakan di muka bumi tanpa ada yang mengawasi.

Go to Top