Dari Bencana Sumatera, Kita Belajar Soal Ketangguhan Listrik
Bencana besar yang melanda Sumatera beberapa waktu lalu kembali mengingatkan kita pada satu hal yang sering dianggap sepele yaitu ketangguhan listrik.
Bencana besar yang melanda Sumatera beberapa waktu lalu kembali mengingatkan kita pada satu hal yang sering dianggap sepele yaitu ketangguhan listrik.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merekomendasikan masyarakat di wilayah terdampak tetap waspada terhadap potensi hujan intensitas sedang hingga lebat, angin kencang, serta gangguan aktivitas harian yang dapat terjadi terutama di lokasi yang rawan.
Peningkatan suhu bumi menjadi penyebab hujan ekstrem yang terjadi di Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, dan sejumlah wilayah di sekitarnya. Kondisi ini mengikuti prinsip Clausius-Clapeyron. Berikut adalah hasil penelitian ilmiahnya.
Tragedi ini adalah sebuah bencana ekologis yang merupakan perpaduan antara krisis iklim dan kerusakan alam di tingkat lokal. Berakar dari kebijakan politik nasional yang menciptakan tata kelola lingkungan yang eksploitatif.
Faktor cuaca bukanlah penyebab tunggal daya hancur yang besar dari kejadian banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Ada jejak ekologis akumulatif yang mengubah tata ruang yang memicu bencana.
Kondisi air laut yang lebih ‘asam’ akan melarutkan kalsium karbonat, sehingga organisme seperti terumbu karang, kerang, siput, dan plankton yang membutuhkan cangkang kapur sulit tumbuh optimal.