Oleh: T.H. Hari Sucahyo *

Aksi iklim kini bukan lagi menjadi topik yang hanya dibicarakan oleh para ilmuwan, pembuat kebijakan, atau organisasi yang bergerak di bidang lingkungan. Di berbagai wilayah Australia, semakin banyak anak muda yang mulai mengenal persoalan perubahan iklim melalui pendidikan, kegiatan komunitas, diskusi, maupun berbagai proyek kreatif. Mereka tidak hanya belajar memahami apa yang sedang terjadi pada lingkungan, tetapi juga mulai mencari cara untuk mengambil bagian dalam menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Bagi banyak anak muda Australia, keterlibatan dalam isu iklim sering kali berawal dari hal yang sederhana, yaitu rasa ingin tahu. Sebuah proyek sekolah tentang lingkungan, persoalan ekologis yang terjadi di sekitar tempat tinggal, film dokumenter, unggahan di media sosial, atau bahkan percakapan bersama teman dapat menjadi pemicu munculnya ketertarikan yang lebih besar.

Dari rasa ingin tahu tersebut, seseorang dapat mulai mencari informasi, berdiskusi dengan orang lain, mengikuti kegiatan komunitas, hingga terlibat dalam proyek lingkungan yang memberikan dampak nyata. Kesempatan untuk berpartisipasi juga semakin terbuka melalui berbagai program dan mekanisme yang memungkinkan suara kaum muda didengar.

Pemerintah Australia, misalnya, menyediakan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pandangan mengenai isu lingkungan dan perubahan iklim melalui kelompok penasihat serta berbagai bentuk konsultasi pemuda. Kehadiran ruang semacam ini penting karena anak muda bukan sekadar kelompok yang akan mewarisi dampak dari keputusan hari ini. Mereka juga memiliki gagasan, pengalaman, kreativitas, dan perspektif yang dapat memberikan kontribusi terhadap proses pengambilan keputusan.

Perubahan iklim sendiri merupakan persoalan jangka panjang. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga akan memengaruhi kehidupan generasi yang masih muda dan generasi yang akan datang. Karena itu, memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk belajar mengenai lingkungan, mengembangkan keterampilan, serta terlibat dalam proses pengambilan keputusan menjadi semakin penting.

Pendidikan iklim yang baik tidak seharusnya berhenti pada penyampaian informasi mengenai pemanasan global, emisi karbon, atau kerusakan lingkungan. Anak muda juga perlu diberi kesempatan untuk memahami bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, program aksi iklim pemuda yang efektif sebaiknya tidak hanya berfokus pada pengajaran tentang perubahan iklim.

Program tersebut perlu memberikan ruang bagi kaum muda untuk mengembangkan kemampuan yang dapat mereka gunakan dalam berbagai situasi. Mereka dapat belajar memahami persoalan lingkungan secara lebih mendalam, membedakan informasi yang dapat dipercaya dari informasi yang menyesatkan, bekerja bersama orang lain, mengembangkan kemampuan memimpin, serta mencari solusi yang realistis terhadap persoalan di sekitar mereka.

Cerita mengenai Arshaan Ameer, Penulis dan Sutradara Dokumenter Termuda dari dari Brisbane, Australia  bisa menjadi contoh aksi ini. Arshaan Ameer yang saat ini berusia 13 tahun, bukanlah anak kelas tujuh biasa. Ia telah mencatat sejarah sebagai penulis dan sutradara dokumenter termuda di dunia. Di saat kebanyakan anak masih bermain, Arshaan telah menjelma menjadi suara kreatif, yang menginspirasi untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan dan krisis iklim.

Kemampuan mencari dan menilai informasi juga menjadi semakin penting. Di tengah banyaknya informasi mengenai perubahan iklim yang beredar di internet dan media sosial, anak muda perlu memiliki kemampuan untuk mengetahui sumber mana yang dapat dipercaya. Dengan keterampilan tersebut, mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu berpikir kritis sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu klaim.

Keterampilan ini pada akhirnya dapat membantu mereka mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab, baik dalam kehidupan pribadi maupun ketika terlibat dalam kegiatan masyarakat. Selain pengetahuan, kemampuan bekerja sama juga menjadi bagian penting dari aksi iklim. Persoalan lingkungan jarang dapat diselesaikan oleh satu orang saja. Sebuah proyek penghijauan, misalnya, membutuhkan kerja sama antara siswa, guru, masyarakat, organisasi lokal, dan pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan yang sama.

Melalui kegiatan semacam itu, kaum muda dapat belajar bagaimana menyampaikan pendapat, mendengarkan perspektif orang lain, membagi tugas, menyelesaikan perbedaan, dan bekerja menuju tujuan bersama. Keterlibatan dalam aksi lingkungan juga dapat menjadi kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan.

Seorang anak muda mungkin memulai dari peran sederhana, seperti membantu mengatur kegiatan daur ulang di sekolah atau mengajak teman-temannya mengikuti kegiatan bersih-bersih. Seiring waktu, pengalaman tersebut dapat berkembang menjadi kemampuan untuk merencanakan kegiatan, mengoordinasikan kelompok, berbicara di depan umum, dan mengajak lebih banyak orang untuk terlibat.

Dengan demikian, kegiatan lingkungan tidak hanya menghasilkan manfaat bagi alam, tetapi juga membantu kaum muda membangun keterampilan yang berguna untuk pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial mereka. Kantor Urusan Pemuda Australia juga memberikan ruang bagi kaum muda untuk menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan kebijakan, termasuk isu yang berkaitan dengan lingkungan.

Kesempatan seperti ini menunjukkan bahwa partisipasi pemuda seharusnya tidak sekadar bersifat simbolis. Partisipasi yang bermakna berarti anak muda benar-benar diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, mengusulkan gagasan, dan terlibat dalam proses yang dapat memengaruhi keputusan. Mereka tidak hanya diberi tahu mengenai apa yang harus dilakukan, tetapi juga dipercaya untuk ikut memikirkan solusi.

Hal ini penting karena tidak semua anak muda memiliki cara yang sama dalam menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Tidak semua orang harus menjadi aktivis iklim atau berbicara di depan publik. Keterlibatan dalam isu lingkungan dapat dilakukan melalui banyak jalur, sesuai dengan minat, kemampuan, dan pengalaman masing-masing individu.

Anak muda yang tertarik pada ilmu pengetahuan, misalnya, dapat mempelajari keanekaragaman hayati, konservasi, teknologi energi terbarukan, atau pengelolaan sumber daya alam. Mereka yang memiliki ketertarikan pada dunia menulis dapat membuat artikel, cerita, atau konten edukatif yang membantu orang lain memahami persoalan lingkungan.

Sementara itu, mereka yang tertarik pada fotografi, desain, atau pembuatan film dapat menggunakan keterampilan kreatifnya untuk mendokumentasikan kondisi lingkungan dan berbagai kegiatan komunitas. Karya visual tersebut dapat menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pesan lingkungan kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan pendekatan yang kreatif, isu perubahan iklim yang terkadang terasa rumit dapat disampaikan melalui cerita dan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ada pula banyak bentuk kegiatan sederhana yang dapat menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk berpartisipasi. Di sekolah, mereka dapat terlibat dalam proyek keberlanjutan, pengurangan sampah, penghematan energi, atau program penghijauan. Di lingkungan tempat tinggal, mereka dapat mengikuti kegiatan bersih-bersih, penanaman pohon, pengelolaan sampah, konservasi air, atau perlindungan habitat satwa.

Mereka juga dapat bergabung dalam proyek yang berfokus pada keanekaragaman hayati, menghadiri kegiatan lingkungan, mengikuti konsultasi pemuda, atau menggunakan cerita dan karya kreatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Yang terpenting, aksi lingkungan tidak harus selalu dimulai dari proyek besar. Perubahan dapat berawal dari langkah yang sederhana dan realistis.

Seorang siswa dapat mengajak beberapa teman untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kelompok kecil di sekolah dapat membuat kebun sederhana. Komunitas lokal dapat mengadakan kegiatan penanaman pohon atau membersihkan area publik. Meskipun terlihat kecil, kegiatan seperti ini dapat menjadi pengalaman belajar yang berharga dan, apabila dilakukan secara konsisten, dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.

Keterlibatan kaum muda dalam aksi iklim bukan hanya tentang menyelesaikan persoalan lingkungan saat ini. Lebih dari itu, keterlibatan tersebut merupakan kesempatan untuk membangun generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan masa depan. Ketika anak muda diberi kesempatan untuk belajar, mencoba, gagal, memperbaiki, dan menyampaikan gagasan mereka sendiri, mereka dapat berkembang menjadi bagian penting dari solusi.

Karena itu, pendekatan terhadap aksi iklim pemuda sebaiknya tidak hanya berfokus pada apa yang harus dilakukan oleh kaum muda, tetapi juga pada bagaimana menciptakan ruang agar mereka dapat menemukan bentuk kontribusi yang sesuai dengan diri mereka. Ada yang mungkin memilih penelitian, ada yang tertarik pada kegiatan komunitas, sementara yang lain mungkin lebih nyaman menggunakan seni, tulisan, teknologi, atau media digital. Semua bentuk keterlibatan tersebut memiliki nilai selama dapat membantu membangun kesadaran dan mendorong tindakan nyata.

Tidak ada satu cara yang benar untuk berkontribusi terhadap lingkungan. Yang paling penting adalah menemukan bidang yang terasa bermakna, sesuai dengan kemampuan, dan memungkinkan seseorang untuk mengambil langkah nyata. Dengan memberikan ruang yang lebih luas bagi kaum muda untuk belajar dan berpartisipasi, aksi iklim dapat menjadi bukan hanya sebuah gerakan untuk melindungi lingkungan, tetapi juga sebuah proses untuk membangun generasi yang lebih siap, kreatif, dan bertanggung jawab terhadap masa depan.

–##–

*  T.H. Hari Sucahyo adalah Peminat bidang Keutuhan Ciptaan dan Keanekaragaman Hayati, Penggagas Forum Grup Diskusi “BENIH”.