Oleh: Jalal

Kemarin saya bangun pada pagi yang terasa biasa saja.  Tetapi kemudian ponsel saya, seperti ponsel jutaan atau bahkan miliaran orang lain di seluruh dunia, mulai memuntahkan video dari sebuah lembah di perbatasan Nepal dan Tibet. Dalam rekaman-rekaman itu tidak ada dentuman yang dramatis, tidak ada momen yang bisa ditunjuk sebagai “di sinilah semuanya dimulai.” Yang ada hanya larutan lumpur berwarna coklat, abu-abu seperti semen basah, atau bahkan hitam, bergerak dengan kecepatan yang tinggi. Ia kemudian menelan rumah, jembatan besi, barisan kendaraan yang terparkir di sepanjang jalan dan atap gedung, juga orang-orang yang berlarian di sekitarnya.

Saya menonton salah satu video itu tiga kali berturut-turut, mencoba mencari logika di baliknya, sebelum menyadari bahwa yang sedang saya saksikan bukan sebuah kejadian bencana biasa, melainkan sebuah proses geologis yang dipercepat.  Dan saya, dengan perasaan yang tidak pernah muncul senyata ini, segera tersadar bahwa berkontribusi dalam percepatan proses geologis yang  mematikan itu.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu pagi, 26 Agustus, di kawasan pegunungan yang membentang antara Distrik Rasuwa dan Nuwakot di Nepal dan Kabupaten Gyirong di sisi Tibet. Menurut rekonstruksi awal para ilmuwan yang dikutip oleh AP, BBC, dan Al Jazeera, sebuah bongkahan besar es dan batuan runtuh dari ketinggian sekitar 1.200 meter.  Itu adalah sebuah ‘keruntuhan glasial’, istilah yang dipakai para peneliti untuk menyebut lepasnya massa gletser secara gravitasional dalam skala sangat besar.  Agaknya bukan istilah ilmiah baku, tetapi cukup untuk menggambarkan betapa dahsyatnya energi yang dilepaskan.

Getaran akibat longsoran itu sempat disalahartikan sebagai gempa berkekuatan 4,4 skala Richter, sebelum Survei Geologi Amerika Serikat mengoreksi bahwa sinyal seismik tersebut sebenarnya berasal dari longsoran itu sendiri, yang belakangan tercatat setara dengan gempa bermagnitudo 5,2. Analisis citra satelit awal dari Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal menduga puing es dan batu itu sempat membendung Sungai Bhote Koshi di hulu, menciptakan genangan yang kemudian jebol dan melepaskan gelombang air raksasa.  Gelombang setinggi puluhan meter itu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa tinggi, lalu menghantam Trishuli Bazar, menghancurkan Pelabuhan Gyirong yang selama ini menangani hampir sepertiga perdagangan Nepal-Tiongkok, lalu terus menyapu ke arah selatan.

Hingga saya menulis artikel ini, jumlah korban tewas yang terkonfirmasi oleh The Guardian telah mencapai 469 orang, dengan ratusan lainnya, termasuk lebih dari tujuh ratus warga negara asing dari puluhan negara, masih belum diketahui nasibnya. Sebagian dari mereka yang hilang sedang dalam perjalanan menuju perayaan Janai Purnima, sebuah festival keagamaan yang jatuh tepat pada hari bencana itu terjadi.  Ini adalah sebuah ‘kebetulan’ yang membuat kesedihan ini terasa lebih tajam, karena orang-orang itu sedang menuju sesuatu yang sakral ketika gunung di atas mereka runtuh.

Yang membuat saya, sebagai orang yang selama tiga dekade menekuni isu-isu keberlanjutan termasuk krisis iklim, tidak terlalu terkejut oleh peristiwa itu sendiri adalah karena pola ini sudah lama saya kenal. Pegunungan Hindu Kush Himalaya—yang membentang dari Afghanistan hingga Myanmar dan menjadi sumber air bagi hampir dua miliar manusia—telah kehilangan massa esnya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Sejumlah kajian menunjukkan laju kehilangan es di kawasan itu meningkat sekitar 65 persen lebih cepat pada dekade 2011–2020 dibandingkan dekade sebelumnya, dan gletser-gletser Nepal sendiri diperkirakan telah kehilangan hampir sepertiga volumenya dalam kurang lebih tiga puluh tahun terakhir. Dua tahun lalu, banjir bandang akibat jebolnya danau glasial di Desa Thame, wilayah Everest, sudah menjadi pertanda. Tahun lalu juga tahun-tahun sebelumnya, musim hujan di Nepal selalu membawa longsor dan banjir yang merenggut ratusan nyawa. Para ilmuwan, dengan kehati-hatian yang menjadi ciri khas profesi mereka, tentu enggan menyebut peristiwa 26 Agustus ini sebagai akibat langsung dari perubahan iklim—terlalu dini, kata mereka, untuk menautkan satu kejadian tunggal dengan tren jangka panjang. Namun hampir semua komentar pakar yang saya baca dan tonton  sepakat pada satu hal: bencana ini terjadi di sebuah kawasan yang sedang memanas dan kehilangan esnya dengan cepat, dan kondisi semacam itulah yang membuat lereng menjadi tidak stabil, gletser menjadi rapuh, dan ambang bahaya menjadi semakin mudah terlampaui.

Ironisnya, Tiongkok dan Nepal sebenarnya telah membangun sistem peringatan dini banjir bandang yang, menurut laporan South China Morning Post, selama bertahun-tahun berhasil mencegah jatuhnya korban. Sistem itu mengandalkan pemantauan ketinggian air—metode yang lebih cocok untuk banjir musiman ketimbang banjir bandang yang meledak dalam hitungan menit. Seorang geomorfolog yang saya simak komentarnya menduga lantaran volume air yang datang begitu besar sehingga kemungkinan langsung menghancurkan alat-alat sensor yang ada di lapangan. Ini adalah gambaran yang menyayat: manusia telah membangun mekanisme untuk membaca gunung yang berubah, tetapi gunung itu berubah lebih cepat daripada kemampuan kita membacanya.

Dua hal, setelah keterkejutan pertama itu mereda di sinag hari kemarin, yang di sore harinya membuat saya sungguh sedih.  Dan kesedihan itu terasa berbeda dari kesedihan ‘biasa’ saat membaca banyak berita bencana lainnya.

Yang pertama adalah kesadaran bahwa ini bukan sebuah puncak, melainkan hanya sebuah titik di tengah kurva yang masih menanjak. Krisis iklim, sepanjang pengetahuan yang saya kumpulkan dari standar dan kajian ilmiah global selama ini, bukanlah sesuatu yang akan berhenti memburuk begitu kita berhenti menambah emisi—ia memiliki inersia, sebuah momentum yang akan terus mendorong pemanasan dan pencairan es selama beberapa dekade ke depan, bahkan dalam skenario paling optimistis sekalipun. Itu berarti apa yang terjadi di Rasuwa dan Gyirong minggu ini kemungkinan besar bukan yang terakhir, dan bahkan mungkin bukan yang terburuk. Desa-desa lain, di lembah-lembah lain sepanjang Himalaya, Andes, Karakoram, atau pegunungan Alpen, tengah menyimpan gletser dan danau glasial yang perlahan-lahan kehilangan kestabilannya, menunggu kombinasi cuaca dan geologi yang tepat untuk runtuh. Membayangkan itu sebagai sebuah pola yang akan berulang, bukan sebuah insiden yang berdiri sendiri, adalah jenis kesedihan yang tidak selesai begitu saja setelah berita kemarin tenggelam di linimasa beberapa hari ke depan.

Yang kedua, dan ini yang lebih personal, adalah kesadaran bahwa siapa pun yang menghasilkan emisi gas rumah kaca—termasuk saya, yang menulis esai ini dari sebuah ruangan berpendingin udara, yang menumpang kendaraan bermotor hampir setiap hari, yang hidup dalam ekonomi yang dibangun di atas bahan bakar fosil—ikut menyumbang, betapa pun kecilnya, pada kondisi atmosfer yang membuat lereng-lereng di Himalaya menjadi rapuh.

Ini bukan rasa bersalah yang lumpuh; saya cukup lama bergelut dengan isu ini untuk tahu bahwa rasa bersalah yang berlebihan justru sering membuat orang mundur, bukan bergerak. Tetapi ada sesuatu yang jujur dan perlu dihadapi dalam pengakuan bahwa jarak antara knalpot taksi serta sumber listrik MRT yang saya naiki, dengan gletser yang runtuh di ketinggian 1.200 meter itu, dalam sistem iklim Bumi yang satu dan sama, sebenarnya tidak sejauh yang terasa secara geografis. Kita semua adalah bagian dari sirkuit yang sama—penghasil emisi di satu ujung, dan desa-desa yang tersapu air bercampur lumpur di ujung yang lain—meski dengan kontribusi dan konsekuensi yang sangat tidak setara.

Ketimpangan itulah yang barangkali paling perlu direnungkan. Dibanding negara-negara maju dunia yang meraih kemakmuran dengan menghasilkan polusi gas rumah kaca raksasa penyebab perubahan iklim dan pemanasan global, emisi gas rumah kaca yang diproduksi Nepal sangat rendah, bahkan nyaris tidak ada (sekitar 0,1% dari emisi gas rumah kaca global). Ironisnya, masyarakat Nepal kini harus menanggung sebagian dari akibat paling brutal dari pemanasan yang sebagian besar diciptakan di tempat lain. Ini adalah wujud dari struktur ketidakadilan iklim yang sudah lama dibicarakan dalam forum-forum internasional.  Tetapi sekarang ia punya wajah yang jelas: ratusan orang yang sedang menuju perayaan keagamaan mereka, juga mereka yang sedang beraktivitas lain, tersapu air yang suhunya naik karena pilihan energi dan perubahan bentang alam yang dibuat jauh dari tanah mereka.

Saya tak mau mengakhiri tulisan ini dengan memberi resep yang tampak rapi.  Tidak ada resep yang cukup rapi untuk sebuah krisis yang jelas sedang bergerak jauh lebih cepat daripada tata kelola yang dirancang untuk menghadapinya.  Apalagi, tata kelola secara umum memang masih tak peduli pada dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari krisis iklim. Yang bisa saya tawarkan hanyalah cara memandang bahwa kesedihan yang kita rasakan atas peristiwa seperti ini semestinya tidak berhenti pada empati sesaat, melainkan menjadi bagian dari cara kita, siapa pun kita, mengevaluasi ulang jejak yang kita tinggalkan pada atmosfer, air dan tanah di tempat yang kita tinggali bersama ini.

Gletser di perbatasan Nepal dan Tibet itu telah runtuh. Begitu pula kehidupan orang-orang yang berada di lintasan air dan lumpur yang mengikutinya.  Yang tersisa bagi kita yang berada jauh dari sana adalah pertanyaan yang jauh lebih sunyi, tetapi tidak kalah beratnya: berapa banyak lagi yang bersedia kita biarkan runtuh, atau bahkan secara sadar kita runtuhkan, sebelum kita benar-benar mengubah cara kita hidup di Bumi ini?

–##–

Depok, 28 Agustus 2026 10:35