Menonton Ulang Trilogi Dokumenter Karya Josh dan Rebecca Tickell
Oleh: Jalal
Di luar jendela tempat saya menulis artikel ini, langit Agustus 2026 terasa sedemikian buram sekaligus panas. El Niño yang oleh para klimatolog kini dijuluki ‘Godzilla’ telah memanggang tiga benua sekaligus, mengeringkan sawah-sawah di Jawa Timur hingga retak, dan mengubah ladang-ladang gandum di Saskatchewan menjadi hamparan debu berwarna seperti besi berkarat. Beberapa laporan menyatakan suhu global telah melampaui ambang 1,5 derajat Celsius bukan sebagai projeksi, melainkan sebagai kenyataan yang diukur sekarang. Dalam kepanasan yang mencekik ini, sebuah trilogi dokumenter yang dimulai enam tahun lalu terasa bukan lagi sekadar tontonan tentang pertanian, melainkan semacam kitab petunjuk penyelamatan kehidupan yang terlambat kita buka. Saya memutuskan untuk menontonnya lagi beberapa hari lalu, selain untuk kepentingan diskusi di Jumat sore tanggal 14 Agustus nanti, saya juga mencari beragam petunjuk yang mungkin terlewat ketika dulu menontonnya satu per satu.
Trilogi itu—Kiss the Ground (2020), Common Ground (2023), dan Groundswell (2026)—adalah karya Josh dan Rebecca Tickell, pasangan sineas yang selama dua dekade terakhir mengabdikan kamera mereka pada isu lingkungan. Nama mereka betul-betul menjulang gegera film pertama dan semakin kokoh berada di puncak para sineas lingkungan, khususnya pertanian regeneratif, setelah tayangnya kedua film berikutnya. Namun menyebut ketiga film tersebut sekadar ‘dokumenter pertanian’ sama kelirunya dengan menyebut An Inconvenient Truth sekadar presentasi PowerPoint tentang cuaca ekstrem. Ketiganya adalah argumen sinematik yang disusun dengan presisi jurnalisme investigatif, dibungkus videografi yang membuat tanah hitam dan subur di Dakota Utara tampak seindah lukisan Caravaggio, dan disuarakan oleh deretan bintang Hollywood yang meminjamkan gravitas mereka pada pesan yang selama ini hanya beredar di konferensi-konferensi pertanian yang sepi dari perhatian publik.
Tiga Film dengan Kontinum Pesan
Film pertama, yang tayang perdana pada September 2020, membuka tirai dengan narasi Woody Harrelson. Suaranya yang serak dan santai menjadi jembatan sempurna antara data ilmiah yang padat dan penonton awam yang mungkin baru pertama kali mendengar istilah seperti ‘karbon tanah’. Harrelson tidak sendirian sebagai bintang narasi. Tom Brady, Gisele Bündchen, Ian Somerhalder, Rosario Dawson, dan Patricia Arquette muncul sebagai penyampai segmen, masing-masing membawa audiens mereka sendiri ke dalam percakapan tentang mikrobioma tanah.
Namun kekuatan sejati film ini terletak pada para pakarnya. Gabe Brown, peternak dari North Dakota yang mengubah 5.000 ekar tanah tandus menjadi ekosistem hidup tanpa bajak dan tanpa pupuk sintetis, tampil sebagai bukti berjalan bahwa regenerasi bukan utopia. Dr. Rattan Lal, ilmuwan tanah asal Ohio State University yang kemudian menerima World Food Prize, menjelaskan dengan tenang bagaimana satu persen peningkatan bahan organik tanah dapat mengunci miliaran ton karbon dioksida. Ray Archuleta, mantan konservasionis USDA, membongkar kegagalan pertanian industrial dengan kemarahan yang sangat terkendali. John Liu, ekolog yang mendokumentasikan pemulihan Dataran Loess di Tiongkok, menyuguhkan citra satelit sebelum-sesudah yang membuat penonton terdiam. Pesan utamanya lugas: tanah yang sehat adalah teknologi penangkap karbon paling murah, paling teruji, dan paling tersedia yang dimiliki umat manusia. Film ini meraih Audience Award di Santa Barbara International Film Festival dan memicu gelombang pendaftaran ke program pelatihan Kiss the Ground yang diikuti lebih dari 30.000 peserta dalam tahun pertamanya.
Jika film pertama adalah kuliah umum yang efektif, maka Common Ground adalah kerja lapangan yang rajin. Tayang perdana di Tribeca Film Festival 2023 dan meraih Tribeca Audience Award untuk kategori dokumenter, film ini menurunkan kamera dari langit ke lumpur. Naratornya kini lebih beragam—Laura Dern membawa kehangatan seorang ibu yang cemas, Donald Glover menyuntikkan ironi generasi muda, Jason Mraz tampil sebagai musisi-petani yang memang telah lama mempraktikkan pertanian regeneratif di kebunnya sendiri. Strukturnya mengikuti lima keluarga petani dan peternak di berbagai zona iklim Amerika: dari padang rumput Montana hingga lahan kapas Georgia. Penonton melihat langsung bagaimana cover cropping, rotational grazing, dan penghapusan pengolahan tanah yang berlebihan mengubah ekonomi sebuah ranch dalam tiga musim tanam.
Dr. Nicole Masters, ahli biologi tanah dari Selandia Baru, menjelaskan hubungan simbiotik antara jamur mikoriza dan akar tanaman dengan animasi yang membuat jaringan bawah tanah tampak seperti kota metropolitan yang berdenyut. Pesan film ini bergeser dari ‘ini mungkin terjadi’ menjadi ‘ini sedang terjadi, dan ini jelas menguntungkan’. Data ekonomi ditampilkan berdampingan dengan data ekologi: margin keuntungan yang melebar, input kimia yang menyusut, tanah yang menahan air lebih lama saat kekeringan. Di Tribeca, penonton berdiri memberikan standing ovation—sesuatu yang saya tak pernah tahu terjadi untuk sebuah film tentang pertanian.
Film ketiga, Groundswell, yang dirilis ke seluruh dunia pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2026, adalah puncaknya. Josh dan Rebecca Tickell memerluas lensa mereka melampaui Amerika. Naratornya kini mencakup suara-suara dari negara-negara Global South—sebuah pilihan yang sadar dan politis. Para pakar yang diwawancarai mencakup Rattan Lal dalam kapasitasnya sebagai penasihat kebijakan iklim PBB, Vandana Shiva yang mengaitkan regenerasi tanah dengan kedaulatan pangan, serta generasi baru ilmuwan tanah dari Brasil, Kenya, dan Indonesia yang membawa perspektif tropis yang selama ini absen dalam literatur Barat.
Pesan utamanya adalah skala dan urgensi. Film ini berargumen bahwa pertanian regeneratif bukan lagi pilihan alternatif, melainkan satu-satunya jalur yang tersisa ketika adaptasi pasif telah gagal. Segmen tentang El Niño 2025–2026 ditampilkan dengan footage yang memilukan: panen yang hangus, ternak yang mati, komunitas adat yang kehilangan sumber pangan. Namun film ini menolak berakhir dalam keputusasaan. Tiga puluh menit terakhirnya adalah katalog kebijakan yang sudah ada dan siap ditegakkan—subsidi yang dialihkan, program karbon kredit untuk petani kecil, reformasi pengadaan pangan publik—yang menunjukkan bahwa transformasi sistemik bukan fantasi.
Gading Kuat dengan Retakan Kecil
Disaksikan sebagai satu kesatuan, trilogi ini menyusun argumen tiga babak yang nyaris sempurna. Babak pertama: tanah adalah kunci, dan kita telah menghancurkannya. Babak kedua: solusi sudah ada, berhasil, dan menguntungkan. Babak ketiga: solusi itu harus menjadi kebijakan, menjadi gerakan, menjadi norma. Ketiganya menolak dikotomi palsu antara ekologi dan ekonomi, antara sains dan spiritualitas, antara Utara dan Selatan global.
Apa yang membuat trilogi ini begitu efektif, dan sependek pengetahuan saya belum ada karya tandingan yang menyamainya, adalah konvergensi sejumlah kekuatan yang jarang hadir bersamaan dalam satu projek dokumenter. Pertama, kecanggihan ilmiahnya tidak pernah mengorbankan emosi. Setiap klaim didukung data yang peer-reviewed, setiap grafik diverifikasi, namun penyajiannya selalu dijangkarkan pada wajah-wajah manusia—petani yang menangis terharu melihat cacing tanah kembali ke ladangnya setelah dua puluh tahun absen, atau anak-anak yang bermain di padang rumput yang dulunya gurun. Kedua, produksi visualnya beroperasi pada level sinema naratif, bukan televisi dokumenter. Fotografi udara yang menunjukkan transisi dari tanah gundul ke padang rumput hijau dalam time-lapse empat musim memiliki daya persuasi yang jelas melampaui seribu grafik batang. Sinematografi bawah tanah, yang memotret pergerakan akar dan hifa jamur dengan lensa makro khusus, mengubah sesuatu yang tak kasatmata menjadi tontonan yang memukau.
Ketiga, keterlibatan selebritas dikelola dengan disiplin yang ketat: tidak ada satu pun bintang yang dibiarkan berbicara tanpa naskah yang diverifikasi ilmuwan, sehingga kredibilitas tidak pernah tergadaikan demi daya tarik. Keempat, musik orisinal yang mengiringi setiap film—dari musik folk Americana di film pertama hingga komposisi orkestral dengan instrumen gamelan dan djembe di film ketiga—mengikat pengalaman menonton menjadi sesuatu yang nyaris seperti pengalaman religius, sebuah ritual pengakuan dosa ekologis sekaligus pertobatan. Kelima, dan ini yang paling krusial, trilogi ini berhasil melakukan hal yang gagal dilakukan puluhan kampanye lingkungan: ia membuat penonton merasa mampu berbuat, bukan merasa bersalah. Tidak ada sama sekali jari yang menuding. Yang ada adalah undangan untuk masuk ke dalam gerakan.
Namun trilogi ini, sekuat apa pun, menuntun kita mengakui ruang-ruang yang masih menganga. Dokumenter pertanian regeneratif masih menyisakan kekosongan besar dalam hal representasi tropis. Ketiga film, bahkan Groundswell yang telah menjangkau Global South, tetap berpusat pada logika ekologis padang rumput temperate—siklus empat musim, tanaman penutup musim dingin, penggembalaan rotasional di lahan luas. Padi sawah di Asia Tenggara, agroforestri di Afrika Barat, sistem milpa di Mesoamerika, memiliki dinamika mikrobiologis dan sosial yang sama sekali berbeda, dan belum ada satu pun film beranggaran besar yang mengeksplorasinya dengan kedalaman setara.
Selain itu, narasi petani kecil nyaris absen. Trilogi ini, terutama dua film pertamanya, cenderung menampilkan petani-pemilik lahan luas di Amerika yang memiliki modal untuk menjalani masa transisi. Bagaimana dengan petani gurem di Bihar atau di Nusa Tenggara Timur yang menggarap setengah hektar dan tidak memiliki jaring pengaman untuk menanggung dua atau tiga musim panen yang menurun sebelum tanah pulih? Pertanyaan tentang keadilan transisi—siapa menanggung biaya, siapa menuai hasil, siapa memiliki karbon yang tersimpan—hanya disentuh sekilas di Groundswell dan layak menjadi subjek film tersendiri. Kalau boleh meminta trilogi ini menjadi tetralogi, tema itu yang akan saya usulkan.
Hambatan struktural juga perlu dibedah lebih tajam: lobi korporasi agrokimia yang menghabiskan miliaran dolar untuk memertahankan status quo, struktur subsidi yang menghukum petani yang berhenti memakai pupuk sintetis, konsentrasi kepemilikan lahan yang membuat regenerasi menjadi kemewahan. Sebuah dokumenter yang berani menyebut nama dan menghadapi kekuatan-kekuatan ini, dengan keberanian investigatif setara The Big Short atau Inside Job, belumlah lahir. Dan akhirnya, dimensi spiritual dan kultural hubungan manusia dengan tanah—yang dalam tradisi Jawa disebut Ibu Pertiwi, dalam tradisi Andes disebut Pachamama—masih menunggu perlakuan sinematik yang tidak mereduksinya menjadi sekadar ornamen eksotis.
*****
Maka inilah ajakan saya untuk para pembaca: tontonlah ketiga film itu, berurutan, dalam satu akhir pekan. Biarkan narasi Woody Harrelson membuka mata Anda, biarkan suara Laura Dern menggerakkan hati Anda, dan izinkan Groundswell menggetarkan nurani Anda. Lalu melangkahlah lebih jauh. Bacalah karya Gabe Brown, ikuti pelatihan daring Kiss the Ground atau pelatihan luring yang kini banyak tersedia, kunjungi petani regeneratif di Salatiga, di Ubud atau di Flores yang telah mempraktikkan ini jauh sebelum kamera Hollywood tiba. Indonesia, dengan 33 juta hektar lahan pertanian dan kerentanan luar biasa terhadap El Niño, tidak memiliki kemewahan untuk menunggu. Tanah vulkanik kita yang subur adalah modal yang sedang kita bakar. Trilogi ini bukanlah hiburan. Ia adalah undangan—dari dalam maupun permukaan tanah—demi keselamatan kita semua. Dan tanah, sebagaimana diingatkan Rattan Lal di penghujung Groundswell, tidak pernah berbohong. Ia hanya menunggu kita berhenti menyakitinya.
–##–
Leave A Comment