Tangerang, 9 Agustus 2026 — Di hari terakhir pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, Koalisi Masyarakat Sipil menggelar aksi edukasi publik dengan membagikan fl yer bertajuk “Pilih Kendaraan yang Gak Nyusahin Orang Lain”. Aksi ini menjadi momentum bagi koalisi untuk mendesak Gabungan Industri Kendaraan Motor Indonesia (GAIKINDO) dan seluruh anggotanya agar tidak sekadar menjadikan EV sebagai pajangan pameran, melainkan mengambil tanggung jawab penuh atas transisi energi yang adil secara nyata.
Koalisi menegaskan bahwa tanggung jawab pabrikan otomotif tidak berhenti pada tahap produksi dan pameran, melainkan mencakup emisi Scope 3, yaitu termasuk jejak karbon purna jual dari jutaan kendaraan fosil dan hibrida yang mereka lepas ke jalan raya. Untuk itu, produsen otomotif dituntut aktif membangun ekosistem pendukung, infrastruktur pengisian daya domestik, serta mempercepat penjualan kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV).
Desakan ini diperkuat oleh data dari Kementerian Perdagangan yang mencatat lonjakan pasar EV nasional yang mengalami pertumbuhan hingga 69,4% pada semester I 2026, sehingga kini seperempat mobil baru di Indonesia telah berteknologi ramah lingkungan. Tren positif ini dinilai sejalan dengan ketegasan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memfokuskan insentif penuh pada BEV berbasis komponen dalam negeri tanpa adanya rencana pemberian insentif bagi mobil hibrida.
Menanggapi kebijakan tersebut, Bondan Andriyanu, Outreach and Advocacy Manager dari CERAH menyatakan bahwa keputusan pemerintah sudah tepat. “Kami melihat ada dorongan dari industri untuk tidak segera bertransisi secara penuh, termasuk dengan mempromosikan hibrida. Pernyataan Menkeu sudah tepat. Uang negara tidak boleh dialokasikan untuk memfasilitasi teknologi setengah-setengah seperti hibrida yang masih bergantung pada BBM impor,” tegasnya.
Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) “Transport,” in Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change mengonfirmasi bahwa BEV adalah solusi paling efektif untuk menekan emisi transportasi. Dalam konteks wilayah Indonesia, hal ini krusial mengingat wilayah perkotaan seperti Jakarta hanya mencatatkan 2% hari dengan kualitas udara bersih sepanjang 2025 menurut data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.
Dhany Al Falah, Juru Kampanye Satya Bumi menegaskan bahwa pabrikan harus memikul akuntabilitas atas krisis udara ini. “Memfasilitasi kendaraan hibrida hanya akan memperpanjang krisis kualitas udara, dan produsen otomotif harus mengambil tanggung jawab atas emisi dari produk yang mereka jual. Transisi penuh ke BEV berbasis energi bersih adalah satu-satunya jalan untuk menghentikan polusi beracun yang berkepanjangan ini,” jelasnya.
Selain itu, Fitrianti Sofyan, Manager Komunikasi dan Kampanye Koaksi Indonesia meluruskan narasi seputar rantai pasok energi. “Narasi bahwa EV adalah solusi semu karena listrik kita masih bergantung pada PLTU batu bara harus kita luruskan. Akselerasi transisi ke EV justru harus menjadi momentum untuk mendorong percepatan energi terbarukan. Ketika bauran energi terbarukan masuk ke jaringan listrik nasional, keunggulan BEV akan kian mutlak. Sehingga, industri otomotif wajib berinvestasi pada ekosistem masa depan ini, bukan malah memperlambat prosesnya dengan terus mendorong pemasaran teknologi fosil,” ujar Fitrianti.
Koalisi juga menyoroti sektor komersial dan logistik yang sering terabaikan. Kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) mengungkap bahwa populasi truk, meski hanya 4% dari total kendaraan atau sekitar 6 juta unit, menyumbang hingga 30% emisi sektor transportasi darat di Indonesia.
Rafaela Xaviera, Campaign Lead ‘Janji Jangan Ngebul’ mendesak produsen otomotif di segmen komersial untuk melakukan lompatan besar. “Sektor truk adalah penyumbang emisi dan konsumsi BBM fosil terbesar. Jika produsen serius mendukung transisi energi, tanggung jawab mereka adalah memasarkan truk listrik yang terjangkau secara massal sekaligus membangun infrastruktur pengisian dayanya di jalur logistik nasional,” tegas Rafaela.
Koalisi mengimbau produsen otomotif anggota GAIKINDO untuk menyelaraskan strategi purna jual dan investasi domestik mereka dengan komitmen netralitas karbon global yang sering mereka gaungkan. Menghentikan dorongan terhadap insentif hibrida dan mengalihkan fokus investasi pada ekosistem BEV lokal adalah bentuk tanggung jawab nyata industri bagi masa depan Indonesia.
“Lewat aksi bersama ini, kami ingin kami ingin menyuarakan harapan masyarakat serta terus mengawal transisi menuju transportasi bersih, transisi yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kesehatan warga,” tutup Rafaela.
–##–
Leave A Comment