“Alarm iklim menyala dari segala arah,” kata Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perubahan Iklim, Selasa, 28 Juli 2026 sebagaimana dikutip dalam berita PBB.

Menurut Stiell, bencana akibat krisis iklim saat ini telah menjelma menjadi “mimpi buruk” akibat “kecanduan” manusia terhadap bahan bakar fosil. “Dengan temperatur yang diperkirakan akan melonjak lagi minggu ini, biaya mengerikan dari krisis iklim ini – baik kemanusiaan maupun ekonomi – sudah mencapai tingkat darurat nasional, ” tambah Stiell lagi.

Berikut adalah sejumlah data bencana yang mengerikan akibat krisis iklim. Lebih dari 250.000 hektar lahan di Eropa terbakar, dengan 1.254 kebakaran terdeteksi sejak awal tahun 2026. Rekor kebakaran hutan melanda Prancis, Spanyol, dan bagian lain Eropa, memaksa evakuasi massal dan menghantam ekonomi regional serta nasional, disertai gelombang panas brutal yang telah mengeringkan lanskap Eropa.

Di Indonesia, indikasi luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada periode Januari hingga Juni 2026 telah mencapai 107.465,47 hektar, dengan wilayah terluas tercatat di Kalimantan Barat. Data resmi ini dirilis melalui SiPongi Kementerian Kehutanan pada pertengahan tahun 2026. Luas kebakaran hutan ini meningkat 366% dibandingkan semester pertama tahun 2025 dan naik 120% dari tahun 2019. Dibagi menurut pembagian tipe lahan yang mengalami kebakaran: 54% berada di kawasan hutan dan 46% di areal penggunaan lain (APL) atau non-kawasan hutan. Provinsi yang terdampak paling luas adalah Provinsi Kalimantan Barat dengan luas kebakaran hutan tertinggi mencapai 28.216,31 hektar.

Rekor suhu maksimum harian tertinggi di Indonesia tercatat mencapai 38,2°C di Palembang (Sumatera Selatan), disusul wilayah lain seperti Kapuas Hulu (36,4°C) dan Ciputat/Tangerang (35,4°–35,5°C). Catatan ini dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) selama periode perluasan musim kemarau.

Di Afrika Utara, suhu mendekati 49°C, mengancam nyawa dan mata pencaharian penduduk, membebani rumah sakit dan sistem pasokan energi listrik. Di Chile, badai mematikan telah menghancurkan rumah dan kehidupan. Di Jepang, rekor suhu terus terpecahkan dan kini telah mencapai rekor panas terpanjang 40°C yang pernah tercatat dalam sejarah.

Menurut Stiell “lingkaran setan bencana” ini kini menjadi kenyataan hidup bagi miliaran orang di seluruh dunia yang semakin panas, karena umat manusia bergerak terlalu lambat beralih dari bahan bakar fosil ke energi bersih. Umat manusia juga dianggap gagal melindungi hutan secara memadai.

Ilmu pengetahuan mengenai penyebab pemanasan global dan krisis iklim sangat jelas. Pemanasan global didorong oleh perilaku manusia yang membakar batu bara, minyak, dan gas dalam jumlah besar, memicu gelombang panas berkepanjangan, banjir parah, dan badai mega dahsyat yang lebih sering, lebih intens, dan lebih merugikan masyarakat.

“Yang perlu dilakukan juga jelas: tinggalkan batu bara, minyak, dan gas lebih cepat, tingkatkan energi terbarukan, dan lindungi masyarakat di lokasi yang dampaknya sudah paling parah,” ujar Stiell.

Banyak negara rentan yang membutuhkan dukungan untuk bisa bergerak dengan kecepatan dan skala yang diperlukan guna mencegah bencana.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan, sistem pemantauan, peramalan, berbagi data lintas batas, dan peringatan dini sangat penting untuk melindungi nyawa, mata pencaharian, dan ekosistem. Melalui  inisiatif Peringatan Dini untuk Semua, WMO mendorong upaya ini dengan mempromosikan kerangka kerja standar, meningkatkan interoperabilitas, dan mendorong kolaborasi internasional dalam layanan cuaca kebakaran.

Redaksi Hijauku.com