Oleh: Jalal

Pada Juli 2025, ketika Amerika Serikat mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah diplomasi modern—menjatuhkan sanksi ekonomi dan larangan perjalanan kepada seorang pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa—dunia internasional tersentak dari kebisuannya. Target dari kemarahan Washington adalah Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak 1967.

Kesalahan Albanese di mata negara adidaya tersebut? Melakukan pekerjaannya dengan ketelitian forensik yang tak kenal ampun dan keberanian moral yang langka. Di tengah badai kecaman, ancaman hukuman penjara, dan upaya sistematis untuk membungkamnya, Albanese tidak mundur selangkah pun. Sebaliknya, melalui dua karya monumentalnya, A Moon Will Rise from the Darkness (2025) dan When the World Sleeps (2026), ia memberikan kepada dunia sesuatu yang selama puluhan tahun dihindari oleh komunitas internasional: sebuah pemahaman komprehensif yang menelanjangi anatomi genosida, rezim aparteid, dan kolonialisme pemukim (settler-colonialism) yang dilakukan oleh Israel.

Izinkan saya berbagi kisah soal dua buku tersebut serta kekaguman saya pada perempuan pahlawan yang berani bersuara lantang ketika Zionis Israel dan mayoritas “pemimpin” negara Barat bersekongkol mencekik dan membungkam suara-suara yang kritis sembari terus melumuri tangan mereka dengan darah warga Palestina.

Menghadirkan Wajah Manusia di Balik Angka

Sebelum laporan-laporannya yang bergema di ruang-ruang sidang Jenewa memicu krisis diplomatik global, Albanese memulai perjalanannya bukan sebagai seorang pelapor khusus, melainkan sebagai seorang pengacara hak asasi manusia yang terjun langsung ke lapangan. Dalam bukunya yang sangat personal dan reflektif, When the World Sleeps: Stories, Words, and Wounds of Palestine, terbit April 2026, Albanese menolak untuk membiarkan Palestina direduksi menjadi sekadar statistik korban atau perdebatan geopolitik yang steril. Ia merajut benang merah historis dari Nakba (malapetaka) tahun 1948 hingga kehancuran total Gaza pasca-Oktober 2023, melalui lensa sepuluh individu yang membentuk pemahamannya.

Dari Hind Rajab, gadis berusia enam tahun yang memohon penyelamatan melalui telepon sebelum tubuh kecilnya dihujani ratusan peluru oleh tentara Israel, hingga Dr. Ghassan Abu-Sittah, ahli bedah yang menyaksikan langsung runtuhnya sistem kesehatan Gaza dan menyebutnya sebagai “puncak gunung es genosida”. Albanese dengan brilian menunjukkan bahwa kekerasan di Palestina bukanlah sebuah konflik antara dua pihak yang setara, melainkan manifestasi dari sistem apartheid dan kolonialisme yang dirancang untuk menghapus keberadaan penduduk asli. Ia meminjam konsep unchilding (perampasan masa kecil) untuk menggambarkan bagaimana anak-anak Palestina dipaksa menanggung beban trauma, penahanan militer, dan kehilangan rumah. Ia juga menyoroti kisah para seniman seperti Malak Mattar dan arsitektur forensik Eyal Weizman, membuktikan bahwa penghancuran Palestina adalah sebuah projek yang terstruktur, sistematis, dan disengaja—sebuah spasiosida (pembunuhan ruang hidup) yang bertujuan mematahkan ikatan rakyat dengan tanah mereka. Dunia berhutang pada Albanese atas keberaniannya mengembalikan martabat manusia ke dalam diskursus hukum yang seringkali mati rasa.

Membongkar “Kamuflase Kemanusiaan” dan Ambang Batas Genosida

Ketika dunia masih dalam fase penyangkalan dan kelumpuhan institusional pasca-7 Oktober 2023, Albanese bergerak dengan kecepatan, presisi, dan ketajaman pisau hukum yang tak tertandingi. Dalam buku A Moon Will Rise from the Darkness: Reports on Israel’s Genocide in Palestine, terbit Oktober 2025, yang merangkum tiga laporan monumentalnya untuk Dewan HAM PBB, Albanese meletakkan dasar hukum yang tak terbantahkan secara kronologis.

Pertama, pada Maret 2024, melalui laporan Anatomy of a Genocide, ia menjadi salah satu otoritas pertama yang secara eksplisit menyimpulkan bahwa ambang batas genosida telah terlampaui. Di sini Albanese memerkenalkan konsep ‘kamuflase kemanusiaan’ (humanitarian camouflage)—sebuah istilah brilian yang membongkar bagaimana Israel memanipulasi hukum humanitarian internasional untuk melegitimasi pembantaian. Dengan melabeli seluruh penduduk sipil sebagai “perisai manusia” dan zona aman sebagai “target militer”, Israel, menurut analisis Albanese, telah menciptakan ekosistem di mana tidak ada satu pun warga Palestina yang aman. Laporan ini tidak hanya menjadi rujukan utama bagi kasus genosida yang diajukan oleh Afrika Selatan di Mahkamah Internasional (ICJ), tetapi juga memaksa masyarakat global untuk menghadapi realitas bahwa genosida di abad ke-21 memang disiarkan secara langsung oleh para pelakunya sendiri.

Enam bulan kemudian, pada Oktober 2024, ia merilis Genocide as Colonial Erasure. Laporan ini memerluas cakrawala analisis, menunjukkan bahwa genosida di Gaza bukanlah sebuah insiden yang terisolasi atau sekadar respons terhadap serangan, melainkan eskalasi “logis” dari proyek kolonial yang merambah ke Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Dengan merujuk pada Opini Penasihat ICJ pada Juli 2024 yang menyatakan pendudukan Israel sebagai tindakan ilegal dan menganeksasi, Albanese dengan brilian meruntuhkan narasi ‘hak membela diri’ yang selama ini digunakan Israel dan para pendukungnya untuk membenarkan pembantaian warga Palestina. Ia memaksa dunia untuk melihat melalui tiga lensa: totalitas tanah, totalitas rakyat, dan totalitas tindakan yang mengarah pada satu kesimpulan yang tak terelakkan: niat untuk menghapus sebuah bangsa demi mewujudkan visi Israel Raya.

Mengikuti Jejak Uang: Mesin Komplisitas Korporasi Global

Namun, bagi saya yang mengikuti dengan lekat soal tanggung jawab bisnis, pekerjaan Albanese yang paling mengguncang dan memang pada akhirnya memicu sanksi dari Washington adalah keberaniannya untuk menantang modal global. Dalam laporan ketiganya pada Juni 2025, From Economy of Occupation to Economy of Genocide, Albanese tidak hanya menuding negara, tetapi juga menunjuk jari ke arah ruang-ruang rapat pimpinan puncak perusahaan di New York, London, dan kota-kota besar lainnya di seluruh dunia.

Ia memetakan dengan presisi luar biasa bagaimana ‘Kapitalisme Rasial Kolonial’ telah memungkinkan ekonomi pendudukan bermutasi menjadi bentuknya yang lebih jahat lagi: ekonomi genosida. Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Lockheed Martin, Palantir, Caterpillar, Chevron, hingga penyedia layanan komputasi awan seperti Amazon dan Google (melalui Projek Nimbus), disebut namanya secara langsung. Albanese membuktikan bahwa genosida modern tidak hanya didanai oleh uang pembayar pajak di Israel, Amerika Serikat, dan para pendukungnya; tetapi juga oleh investasi reksadana, obligasi negara, dan algoritma Kecerdasan Buatan seperti Lavender dan Gospel yang memasok daftar target pembunuhan massal.

Dengan berpegang pada Prinsip-Prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan HAM, Albanese memberikan landasan hukum yang kokoh bagi gerakan masyarakat sipil global. Ia mengingatkan para eksekutif korporasi, universitas, dan institusi keuangan bahwa melanjutkan bisnis seperti biasa (business as usual) dengan Israel bukan lagi sekadar masalah etika atau tanggung jawab sosial perusahaan pinggiran, melainkan keterlibatan langsung dalam kejahatan internasional yang dapat berujung pada tuntutan pidana atas kejahatan perang dan genosida.

Utang Dunia pada Sang Pahlawan dan Peta Jalan Menuju Keadilan

Upaya untuk membungkam Albanese—puncaknya adalah sanksi AS pada Juli 2025 yang menuduhnya melakukan lawfare—justru menjadi bukti paling nyata dari kebenaran yang ia bawa. Seperti yang dicatat oleh para pendahulunya, Richard Falk, John Dugard, dan Michael Lynk, serangan terhadap Albanese adalah serangan terhadap kemerdekaan hukum internasional itu sendiri. Pada saat yang sama Amerika Serikat yang semakin telanjang kebejatannya di bawah Donald Trump menjatuhkan sanksi padanya, rezim yang sama berusaha membubarkan UNRWA, satu-satunya pilar institusional yang menjaga hak untuk kembali (right of return) bagi jutaan pengungsi Palestina.

Berkat kerja kerasnya yang tak kenal lelah, yang dirangkum dalam buku tersebut, dunia kini tidak lagi memiliki alasan untuk berlindung di balik ketidaktahuan atau ambiguitas diplomatik. Albanese telah memberikan kepada masyarakat global, pembuat kebijakan, dan sistem peradilan sebuah pemahaman yang komprehensif. Ia tidak hanya mendiagnosis penyakit; ia memberikan resep tindakan yang jelas, terukur, dan mendesak. Dunia berhutang padanya untuk melaksanakan rekomendasi-rekomendasi ini:

Pertama, embargo senjata total dan sanksi ekonomi: negara-negara wajib menghentikan aliran senjata dan menerapkan sanksi diplomatik serta ekonomi hingga Israel mematuhi perintah ICJ untuk mengakhiri pendudukan dan genosida.

Kedua, akuntabilitas korporasi dan keharusan divestasi: investigasi dan penuntutan terhadap eksekutif perusahaan yang mengambil untung dari penghancuran Gaza. Institusi keuangan, dana pensiun, dan universitas harus segera mendivestasi aset mereka dari mesin perang dan pemukiman ilegal.

Ketiga, pernyataan bahwa Israel adalah rezim aparteid: mengaktifkan kembali mekanisme internasional, seperti Komite Khusus Anti-Aparteid PBB, untuk secara resmi mengisolasi Israel di panggung global dan menerapkan sanksi komprehensif seperti yang pernah meruntuhkan rezim apartheid di Afrika Selatan.

Keempat, perlindungan tanpa syarat untuk UNRWA: melindungi dan mendanai badan pengungsi Palestina sebagai benteng terakhir dari komitmen internasional terhadap keadilan historis dan hak asasi manusia.

Bulan yang Terbit dari Kegelapan

Mengambil judul dari metafora puisi Mahmoud Darwish, A Moon Will Rise from the Darkness, karya dan perjuangan Albanese adalah sebuah pengingat bahwa di tengah keputusasaan yang paling kelam, keadilan tetap mungkin dicapai jika kita yang berani menyalakan pelita. Francesca Albanese telah dengan sangat berani mengorbankan kenyamanan hidupnya, menghadapi ancaman penjara, dan menanggung kampanye fitnah global yang kejam, hanya untuk memastikan bahwa hukum internasional tidak mati di reruntuhan Gaza.

Dunia benar-benar berhutang budi padanya. Menurut saya, utang kolektif itu mustahil bisa dibayar hanya dengan pujian, simpati, atau penghargaan dalam wujud apapun. Utang itu hanya dapat dilunasi melalui tindakan kolektif yang radikal: ketika warga negara di seluruh dunia menuntut pemerintah mereka untuk menghentikan komplisitas, ketika serikat pekerja memblokir kargo senjata, ketika konsumen menolak membeli barang dan jasa dari perusahaan-perusahaan bejat penangguk untung dari genosida, dan ketika para pelaku dan pendukung genosida akhirnya dihadapkan pada keadilan di Den Haag.

Ketika dunia akhirnya terbangun dari tidurnya yang panjang dan mematikan ini, mereka akan menemukan bahwa Francesca Albanese telah meninggalkan peta jalan menuju keadilan. Kini, terserah pada kita semua untuk menyusuri jalan tersebut. Karena seperti yang ia buktikan melalui setiap halaman laporan dan setiap risiko yang ia ambil, sejarah tidak secara otomatis berpihak pada keadilan. Semoga saja masa depan akhirnya akan tunduk pada mereka yang menolak untuk berpaling dari keadilan.

–##–

Jakarta, 16 Juli 2026 12:45