Oleh: T.H. Hari Sucahyo *
Ada masa ketika seseorang dapat menutup mata, menarik napas dalam-dalam, lalu mengenali rumah hanya dari aroma tanah yang baru diguyur hujan. Bunyi burung pada pagi hari menjadi penanda musim, desir angin di antara pepohonan menjadi penenang, dan aliran sungai yang jernih seolah menyimpan ingatan tentang generasi yang pernah hidup berdampingan dengan alam tanpa banyak mempertanyakan keberlanjutannya.
Secara perlahan, lanskap yang dahulu menjadi bagian dari identitas itu berubah. Pepohonan menghilang, sungai kehilangan kejernihannya, udara terasa lebih panas, dan musim datang dengan pola yang semakin sulit ditebak. Perubahan tersebut bukan hanya mengubah rupa bumi, melainkan juga menggeser ruang batin manusia. Di tengah perubahan itulah muncul sebuah perasaan yang sulit dijelaskan dengan kosakata yang selama ini kita kenal.
Bahasa selalu berkembang mengikuti pengalaman manusia. Ketika dunia berubah, bahasa pun mencari cara untuk menamai pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah dirasakan secara kolektif. Dalam konteks krisis iklim, lahirlah istilah solastalgia, sebuah gabungan dari kata ‘solace’ dan ‘nostalgia’, dikaitkan dengan pengalaman seseorang saat ini dan yang telah dialaminya tentang lingkungan yang berubah.
Maknanya lebih dalam terkait dengan kata-kata Latin ‘sōlācium’ yang berarti kenyamanan; ‘solus’, yang berarti kehancuran dan pengabaian; dan akar kata Yunani ‘algia’ yang merujuk pada rasa sakit atau kesedihan. Kata yang mengandung makna jauh melampaui sekadar kesedihan. Istilah ini mempertemukan gagasan tentang kenyamanan yang perlahan menghilang dengan rasa kehilangan yang justru dialami ketika seseorang masih berada di tempat yang disebut rumah.
Tidak ada perpindahan, tidak ada pengasingan secara fisik, tetapi lingkungan yang selama ini memberi rasa aman telah berubah sedemikian rupa sehingga rumah terasa asing bagi penghuninya sendiri. Perasaan itu mungkin muncul ketika seseorang kembali ke desa tempat ia dibesarkan, tetapi sawah telah berganti menjadi kawasan industri, hutan kecil tempat bermain masa kanak-kanak berubah menjadi deretan bangunan, atau mata air yang dahulu tak pernah kering kini tinggal cerita yang diwariskan dari orang tua.
Kenangan masih tersimpan utuh dalam ingatan, tetapi kenyataan yang berdiri di hadapan mata tidak lagi mampu menghidupkan rasa yang sama. Ada jurang yang memisahkan masa lalu dengan masa kini, dan jurang itu menghadirkan kesedihan yang tidak selalu mudah dipahami oleh orang lain. Perubahan iklim mempercepat lahirnya pengalaman seperti ini di berbagai penjuru dunia.
Suhu bumi yang terus meningkat membuat musim menjadi tidak menentu, kekeringan berlangsung lebih panjang, hujan turun dengan intensitas yang sulit diprediksi, dan berbagai bencana ekologis hadir lebih sering daripada sebelumnya. Ketika sebuah ekosistem berubah, manusia yang hidup di dalamnya tidak hanya kehilangan sumber daya alam, tetapi juga kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Alam bukan sekadar latar tempat manusia menjalani kehidupan. Alam adalah ruang tempat ingatan, budaya, tradisi, dan identitas bertumbuh bersama.
Hubungan antara manusia dan lingkungan sesungguhnya jauh lebih intim daripada yang sering dibayangkan. Sejak lahir, seseorang belajar mengenali dunia melalui bentang alam di sekitarnya. Warna langit pada sore hari, aroma dedaunan setelah hujan, suara serangga ketika malam tiba, atau bentuk pegunungan di kejauhan perlahan membentuk rasa memiliki. Semua pengalaman itu menyusun identitas secara diam-diam.
Karena itu, ketika lanskap berubah secara drastis, yang terluka bukan hanya lingkungan, melainkan juga struktur emosional manusia. Kesedihan ekologis sering kali tidak terlihat. Ia tidak meninggalkan luka yang kasatmata, tetapi tumbuh perlahan dalam bentuk kecemasan, kehilangan arah, bahkan kelelahan psikologis. Seseorang mungkin merasa gelisah setiap kali melihat sungai yang dipenuhi sampah atau hutan yang terbakar.
Perasaan itu bukan semata-mata karena menyaksikan kerusakan alam, melainkan karena menyadari bahwa sesuatu yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kini sedang lenyap tanpa dapat dipulihkan sepenuhnya. Kesedihan seperti ini sering kali berlangsung lama karena objek yang dirindukan masih ada secara fisik, tetapi telah kehilangan makna yang dulu melekat padanya.
Istilah solastalgia pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Australia Glenn Albrecht pada tahun 2003 untuk menjelaskan pengalaman emosional masyarakat yang hidup di wilayah dengan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia. Seiring waktu, istilah tersebut tidak lagi terbatas pada konteks tertentu. Para peneliti di bidang psikologi, kesehatan masyarakat, hingga kebijakan lingkungan menggunakannya untuk memahami bagaimana perubahan ekologis memengaruhi kesehatan mental.
Di tangan filsuf Prancis Baptiste Morizot, konsep ini juga berkembang menjadi cara membaca relasi manusia dengan dunia yang sedang mengalami krisis iklim. Kesedihan terhadap alam dipahami bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai tanda bahwa manusia masih memiliki kemampuan untuk merasakan keterhubungan dengan kehidupan di luar dirinya. Dalam masyarakat modern, hubungan tersebut sering kali terputus oleh cara pandang yang menempatkan alam semata sebagai sumber daya.
Hutan dihitung berdasarkan nilai ekonominya, sungai diukur dari kapasitas produksinya, dan tanah dipandang sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologis. Akibatnya, kerusakan lingkungan dianggap sebagai biaya pembangunan yang wajar. Padahal setiap pohon yang ditebang, setiap rawa yang dikeringkan, atau setiap spesies yang punah membawa konsekuensi yang jauh melampaui angka dalam laporan ekonomi. Ada memori kolektif yang ikut menghilang bersama perubahan tersebut.
Masyarakat adat di berbagai wilayah telah lama memahami bahwa manusia bukan pusat dari seluruh kehidupan. Mereka memandang sungai sebagai saudara, hutan sebagai ruang bersama, dan gunung sebagai bagian dari tatanan kosmis yang harus dihormati. Cara pandang semacam ini tidak lahir dari romantisme terhadap alam, melainkan dari pengalaman panjang hidup dalam ekosistem yang saling bergantung.
Ketika keseimbangan itu terganggu, bukan hanya alam yang menderita, tetapi juga manusia yang menjadi bagian darinya. Perubahan iklim membuat pelajaran tersebut kembali terasa relevan. Gelombang panas yang semakin ekstrem, naiknya permukaan laut, kebakaran hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga cuaca yang tidak menentu menunjukkan bahwa krisis ekologis bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung.
Di tengah situasi ini, rasa sedih terhadap alam menjadi pengalaman yang semakin banyak dibagikan, meskipun sering kali tidak memiliki nama dalam percakapan sehari-hari. Kehadiran istilah solastalgia membantu memberi bentuk pada emosi yang selama ini mengendap tanpa kata. Namun memberi nama pada sebuah perasaan bukanlah akhir dari perjalanan. Bahasa yang baru justru mengajak manusia untuk melihat kenyataan dengan lebih jernih.
Kesedihan terhadap lingkungan dapat menjadi pintu masuk menuju kesadaran ekologis yang lebih mendalam. Ketika seseorang merasa kehilangan karena hutan menghilang atau sungai tercemar, perasaan itu menunjukkan bahwa hubungan dengan alam belum sepenuhnya terputus. Masih ada kepedulian yang dapat menjadi dasar bagi tindakan kolektif. Harapan ekologis tidak selalu lahir dari optimisme yang berlebihan.
Ia sering tumbuh dari keberanian untuk mengakui bahwa ada yang sedang rusak dan membutuhkan perhatian bersama. Kesedihan tidak harus dimaknai sebagai akhir, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang mendorong perubahan. Dalam banyak gerakan lingkungan, rasa kehilangan justru menjadi sumber energi untuk merawat kembali bentang alam yang tersisa.
Menanam pohon, memulihkan sungai, melindungi kawasan hutan, mengurangi konsumsi yang berlebihan, atau mendukung kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan merupakan bentuk-bentuk nyata dari harapan yang bekerja. Di tingkat yang lebih personal, merawat hubungan dengan alam dapat dimulai dari tindakan sederhana.
Meluangkan waktu berjalan di ruang hijau, mengenali nama-nama pohon di sekitar tempat tinggal, mendengarkan suara burung pada pagi hari, atau sekadar memperhatikan perubahan musim merupakan cara untuk menghidupkan kembali kepekaan ekologis yang sering terkikis oleh ritme kehidupan modern. Kedekatan seperti itu mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup terpisah dari lingkungan.
Setiap napas bergantung pada hutan, setiap tetes air berasal dari siklus alam, dan setiap makanan merupakan hasil kerja panjang berbagai makhluk hidup yang saling menopang. Solastalgia mengajarkan bahwa kehilangan tidak selalu terjadi karena kita meninggalkan sebuah tempat. Kadang-kadang tempat itulah yang perlahan meninggalkan kita. Rumah tetap berdiri, jalan masih dapat dilalui, dan langit masih terbentang di atas kepala, tetapi sesuatu yang membuat semuanya terasa akrab telah berubah.
Perasaan itu mungkin tidak dapat dihapus sepenuhnya, tetapi dapat menjadi pengingat bahwa keberlangsungan kehidupan manusia tidak pernah dapat dipisahkan dari keberlangsungan bumi yang dihuninya. Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, kita membutuhkan lebih dari sekadar teknologi dan kebijakan. Kita juga membutuhkan bahasa yang mampu menampung pengalaman batin manusia, agar kesedihan tidak berhenti sebagai beban pribadi, melainkan berubah menjadi kesadaran bersama.
Kata-kata memiliki kemampuan membentuk cara kita memahami dunia. Dengan mengenali solastalgia, kita tidak hanya menemukan istilah baru, tetapi juga menyadari bahwa merawat bumi berarti merawat ruang emosional tempat manusia membangun rasa memiliki. Ketika hutan kembali tumbuh, sungai kembali mengalir jernih, dan keanekaragaman hayati memperoleh kesempatan untuk pulih, yang dipulihkan bukan hanya ekosistem, melainkan juga ikatan batin manusia dengan tempat yang selama ini memberinya kehidupan.
Di sanalah harapan ekologis menemukan maknanya yang paling mendalam: bukan sekadar menyelamatkan alam demi masa depan, melainkan menjaga rumah bersama agar tetap mampu menghadirkan rasa tenteram bagi setiap generasi yang akan datang.
_________
* T.H. Hari Sucahyo adalah Peminat bidang Keutuhan Ciptaan dan Keanekaragaman Hayati dan Penggagas Forum Grup Diskusi “BENIH”
Leave A Comment