Oleh: Farah Pramudita *

Krisis lingkungan yang terjadi seperti polusi industri, eksploitaisi sumber daya alam, dan efek kurang meratanya distribusi ekonomi sehingga menimbulkan kemiskinan dan pemukiman kumuh, itu semua hanyalah symptoms (gejala) yang terlihat, sedangkan sumber utama penyebab krisis lingkungan adalah cara berfikir (way of thinking) yang terefleksi dalam bahasa. Demikian Jeffrey Wollock membuka paragraf awal penelitiannya yang berjudul Linguistic Diversity and Biodiversity dengan kalimat tegas bahwa gejala krisis lingkungan yang terlihat sekarang jika ditarik ke belakang merupakan produksi dari cara  berfikir yang dimanifestasikan melalui bahasa.

Bahasa secara grammatical tidak berpengaruh terhadap lingkungan tetapi retorika bahasa memiliki pengaruh besar terhadap the way of thinking yang menentukan tindakan selanjutnya. Bahasa memainkan peranan penting untuk membaca lingkungan, retorika yang dibangun manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan dapat menentukan eksistensi keduanya sebab memiliki koneksi yang saling terhubung. Bahasa berevolusi sesuai dengan desain lingkungannya, bahasa akan mengalami perubahan ketika ekosistem yang menyangganya berubah.

Tumpukan sampah di sungai merupakan deskripsi gejala krisis lingkungan yang muncul ke permukaan, namun pencemaran sungai yang sesungguhnya merupakan efek dari pola kontruksi linguistik yang tidak tepat sehingga mempengaruhi cara berfikir, berkata, dan bertindak yang tidak tepat pula. Arran Stibbe seorang pakar ekolinguistik memberikan contoh untuk hal ini, bahasa marketing seperti diskon akan dipersepsikan masyarakat dengan banyak belanja. Tanpa disadari tindakan ini berujung pada pencemaran limbah dan sampah produk diskon di sungai. Komponen ekosistem sungai perlahan punah yang otomatis istilah-istilah biotik dan abiotiknya turut punah pula. Dengan demikian menggunakan bahasa yang tepat menjadi kolektif memori untuk menunjukkan sikap yang tepat pula terhadap lingkungan.

Hubungan Dialektikal

Intensitas informasi yang kerap muncul di tengah masyarakat akan mendominasi kognitif masyarakat dan menjalani kehidupan sesuai dengan informasi yang diterima. Dari sinilah runutan kontruksi linguistik bergulir hingga berdampak destruktif terhadap lingkungan. Proses yang melibatkan multidimensi ini tentunya harus menjadi evaluasi bersama bagaimana menghadirkan informasi yang membawa benefit bagi lingkungan. Pihak multidimensi yang memproduksi informasi ini merupakan representasi lingusitik dialektikal yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh praksis sosial yang terdiri dari ideologis, sosiologis, dan biologis. Dimensi ideologis merupakan aspek mental dan kognitif individu dan kolektif, dimensi sosiologis yaitu interaksi dengan komunitas sosial dan sistem di dalamnya dari tingkat rendah hingga tertinggi, dan dimensi biologis menggambarkan hubungan manusia dengan spesies lain seperti hewan, tanaman, dan lingkungan alam.

Oleh sebab itu, informasi (bahasa) terlahir dari sistem integral ideologis, sosiologis, dan biologis yang membentuk pola tindakan masyarakat terhadap lingkungannya. Dialog yang melibatkan praksis sosial merupakan langkah kolaboratif menangani krisis lingkungan agar nantinya konsesus yang dihasilkan dapat mengurangi efek destruktif  lingkungan. Peristiwa linguistik yang terjadi dalam komunikasi menjadi pencetus tindakan yang dihasilkan baik individual atau komunal. Maka hubungan bahasa dan lingkungan dapat saling memulihkan dengan sendirinya jika bahasa yang dibangun merupakan an appropriate linguistics dengan memproyeksikan respon (tindakan) masyarakat pasca pengambilan keputusan.

Hubungan bahasa dan lingkungan berlangsung dinamis karena pembangunan menuntut adanya perubahan lingkungan, ini diikuti pula oleh bahasa yang mengalami perubahan antara punah dan lahir muncul bahasa atau istilah baru. Pembangunan merupakan sebuah keniscayaan peradaban sebab generasi sosial harus bertumbuh dalam topos yang sesuai zamannya. Upaya kajian ekolinguistik bukan menghalangi pembangunan dan anti modernisasi namun harapan dari upaya ekolinguistik dialektikal ini adalah pembangunan progresif berjalan beriringan dengan kaidah konservasi lingkungan.

Bahasa Pemimpin

Dimensi sosiologis yang mengendalikan sistem sosial sekaligus memberikan pengaruh besar terhadap komunikasi serta kebijakan informasi memiliki andil besar untuk mengurangi potensi kerusakan lingkungan. Namun dimensi sosiologis ini sangat luas dan banyak kepentingan di dalamnya, terkadang bahasa yang digunakan hanya sebatas lips service untuk kepentingan diplomasi di depan publik.

Saat aktivis iklim Greta Thunberg mengatakan blah blah blah di hadapan forum Youth4Climate di Milan, Italia pada September 2021, sebagai bahasa mengkritik pidato para pemimpin negara yang kerap berbicara tentang program penyelamatan lingkungan dari krisis tapi sangat minim realisasi. Narasi yang disampaikan Thunberg diantaranya ” Pembangunan kembali yang lebih baik, blah blah blah. Ekonomi hijau, blah blah, blah. Nol bersih (emisi),  blah blah blah” .

Dalam kamus Oxford, blah sebagai noun, adjective, dan exclamation semuanya merujuk pada sesuatu yang membosankan atau tidak bermakna. Sudut pandang ekolingusitik menilai blah akan membangun kognitif masyarakat bersikap distrust kepada para pemimpin sebab blah penyamaran dari all talk and no action. Maka tidak heran buah dari bahasa diplomasi para pemimpin tentang lingkungan selalu dianggap blah blah blah oleh masyarakat.

Blah blah blah di indonesia juga didengungkan oleh sebagian kalangan atas program  pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur. Ini terjadi karena masih belum sampai pesan menyeluruh mengenai pemindahan IKN kepada masyarakat terkait dengan perencanaan ekologis mengingat Kalimantan merupakan paru-paru dunia sehingga dikhawatirkan ekosistem hutan akan terganggu karena pembangunan IKN.

Momentum ini seharusnya menjadi koreksi bagi pemerintah untuk membangun bahasa komunikasi yang membuat masyarakat optimis dengan rencana pemindahan IKN dan justru mereka turut mendukung program tersebut. Di dalam pemerintahan terjadi pengolahan gagasan,  regulasi, dan kebijakan yang semuanya  ditransfer kepada masyarakat melalui bahasa, maka pemerintah perlu mengemas bahasa yang dapat menggerakkan masyarakat bertindak serempak sebagai bentuk ketaatan kepada pemimpin.

Kekuatan bahasa yang terletak di dalam dimensi sosiologis membentuk peta jalan hidup karena paradigma tidak berdiri tunggal tapi senantiasa ada banyak pengaruh dari rantai sistem sosial. Ketika dengan entengnya melempar botol kemasan air minum di jalan, itu tidak semata keputusan pribadi, tapi itu merupakan keputusan dialektikal bahasa dan lingkungan. Peraturan “Jagalah kebersihan dan buanglah sampah pada tempatnya” sudah tidak berbekas di dalam ideologis lagi karena dimensi sosiologisnya tidak melakukan aturan itu, begitu pun dengan kondisi dimensi biologisnya sangat kontradiktif.  Bahasa peraturan tersebut berpotensi punah seiring dengan punahnya lingkungan yang bersih karena buang sampah sembarangan.

Pentingnya analisis ekolinguistik dalam konteks krisis lingkungan mengingatkan bahwa bahasa tidak hanya memiliki struktur tata bahasa tetapi juga memiliki banyak prinsip yang melatarbelakanginya seperti prinsip agama, ekonomi, politik, dan budaya. Dalam hal ini, ekolinguistik mendorong manusia memiliki kompetensi pelestarian lingkungan melalui ragam referensi meliputi  teks religi dan atau umum yang mendukungnya, dengan demikian diharapkan diskursus yang dibangun menghasilkan benefit bagi lingkungan.

–##–

* Farah Pramudita adalah anggota International Ecolinguistics Association.