Ancaman kerusakan akibat krisis iklim, meningkatnya perpecahan sosial dan risiko atau kejahatan yang berhubungan dengan internet (siber) menjadi tiga risiko utama yang paling dikhawatirkan oleh masyarakat dunia di 2022. Temuan ini disampaikan dalam laporan Global Risks Report 2022 yang diterbitkan Global Risks Initiative hari ini, 11 januari 2022 di Jenewa, Swiss.

Memasuki tahun ketiga pandemi, risiko iklim masih terus mendominasi kekhawatiran masyarakat dunia. “Krisis iklim tetap menjadi ancaman jangka panjang terbesar yang dihadapi oleh manusia,” ujar Peter Giger, Group Chief Risk Officer, Grup Asuransi Zurich. Kegagalan dalam mengatasi perubahan iklim menurut Peter akan memangkas PDB global hingga satu per enamnya (17%). Apalagi komitmen yang diambil pada COP26 masih sangat kurang untuk mencapai target 1,5° C.

Laporan ini juga meyakini pemulihan ekonomi global tidak akan stabil dan timpang dalam tiga tahun ke depan. “Disrupsi di bidang kesehatan dan ekonomi memperburuk keretakan sosial. Kondisi ini menciptakan ketegangan. Kolaborasi antara masyarakat dan komunitas internasional menjadi fundamental untuk memastikan pemulihan global yang lebih merata dan cepat,” ujar Saadia Zahidi, Managing Director, Forum Ekonomi Dunia (WEF).

Konferensi perubahan iklim yang telah berlangsung sejak 1979 terbukti gagal dalam meningkatkan dan memperkuat ambisi untuk mamangkas emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim dan pemanasan global. Konsentrasi emisi gas rumah kaca terus naik mencapai 417,43 PPM dalam minggu pertama 2022 naik dari 415,44 PPM pada periode yang sama tahun lalu. Saat emisi GRK naik, suhu permukaan bumi juga terus meningkat.

Suhu permukaan bumi telah naik 1,1° C paska revolusi industri dipicu oleh kenaikan konsentrasi polusi gas rumah kaca di atmosfer. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) bahkan sudah memperingatkan sejak 2020 bahwa Suhu Bumi Akan Melonjak dalam 5 Tahun ke Depan.

Saat suhu bumi meningkat, cuaca dan iklim menjadi semakin ekstrem. Cuaca ekstrem tidak hanya menimbulkan bencana yang mencabut jiwa dan menghilangkan harta, namun juga merusak perekonomian masyarakat terutama petani dan nelayan kecil yang berada di garis kemiskinan. Cuaca ekstrem merusak pola tanam petani dan hasil panen mereka, menghalangi nelayan untuk melaut sehingga semakin memperparah perekonomian masyarakat di wilayah pesisir.

Menurut Zahidi, para pemimpin dan pemangku kepentingan dunia harus bersatu dan berkoordinasi untuk mengatasi tantangan global yang terus berlangsung serta membangun ketahanan untuk mengatasi krisis berikutnya.

Peter Giger menambahkan, belum terlambat bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk beraksi dan mengupayakan transisi yang inovatif, ambisius dan inklusif untuk melindungi ekonomi dan masyarakat. Namun kalimat ini akan seperti angin surga jika tidak disusul dengan aksi yang ambisius berikutnya. Aksi yang dilandasi oleh keprihatinan yang mendalam, untuk menciptakan dunia yang aman, makmur dan lestari berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Redaksi Hijauku.com