Oleh: Swary Utami Dewi *
Desa Katimpun. Aku kembali lagi ke desa ini sesudah sekian lama tidak menginjakkan kaki di sini. Dulu saat bergabung dengan program Kalimantan Forest and Carbon Partnership (KFCP), aku beberapa kali datang ke desa Dayak Kapuas ini. Kini, aku kembali datang bersama beberapa teman dari Balai Diklat (BD) Samarinda, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), beserta Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Kapuas Kahayan, 23-24 November 2020.
Katimpun sendiri merupakan desa di Kecamatan Mentangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, dan ditempuh sekitar dua jam dari Kuala Kapuas dengan speed boat. Percikan air Sungai Kapuas seakan mengucapkan selamat datang kembali padaku. Selepas senja, tibalah kami di Desa Katimpun. Sang Kepala Desa, Nanang, langsung mengajak kami semua ke rumahnya untuk beristirahat sejenak.
Sesudahnya, makan malam dilakukan di rumah Rusida. Perempuan mungil ini adalah ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Dare Jawet, yang menjadi bagian dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Desa Katimpun. KUPS ini sempat merasakan turbulensi ekonomi akibat pandemi yang membuat masyarakat desa sempat kehilangan harapan. Namun asa bersemi kembali saat Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk agroforestri di dua kabupaten di Kalimantan Tengah, juga turut menyentuh Desa Katimpun, pada Oktober – Desember 2020. Fokus PEN di sini adalah untuk meningkatkan kapasitas serta memberikan dukungan modal dan bibit bagi usaha agroforestri masyarakat. BP2SDM serta Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (Ditjen PSKL) KLHK bekerja sama menggawangi program tersebut. Khusus untuk Desa Katimpun, rotan budidaya menjadi andalan. Selain itu, masyarakat juga menanam sayur mayur dan beberapa bibit buah lainnya dari dukungan PEN agroforestri.
Semangat PEN agroforestri inilah yang lalu dikembangkan oleh KUPS Dare Jawet, yang sebelum pandemi memang sudah lama mengembangkan usaha kerajinan anyaman rotan. KUPS ini digerakkan perempuan. Lebih dari empat puluh perempuan yang terlibat kemudian bangkit lagi untuk melongok kebun rotan yang selama beberapa bulan terabaikan saat pandemi. Mereka juga berupaya bangkit meraih kembali pasar produk anyamannya serta berjuang meningkatkan nilai tambah tas rotan yang dihasilkan.
Sang pendamping kelompok, Nani, dari KPHL Kapuas Kahayan menceritakan bahwa sepulangnya dari pelatihan PEN agroforestri beberapa waktu lalu, kelompok Dare Jawet mulai menyingsingkan lengan baju. Kebun rotan di hutan desa Katimpun didatangi kembali. Semak belukar dan gulma yang mengganggu dibersihkan. Selain kembali merawat rotannya, para perempuan Katimpun juga menanam sayur mayur dan bibit lainnya yang diperoleh dari program PEN agroforestri.
Kembali ke rotan, untuk pasar, sang ketua Dare Jawet yang gesit, Rusida, kembali mengontak mitranya di Bali. Tentu saja ini tidak terlalu susah dilakukan. Sang pemasar adalah keluarganya sendiri, yang juga berasal dari Katimpun, lalu tinggal dan berusaha di Bali. “Harap-harap cemas juga,” tutur Rusida. Ternyata keberuntungan memang tidak meninggalkan mereka yang berupaya. Dare Jawet mulai Desember ini mendapat pesanan lagi seribu buah tas berbagai ukuran dan bentuk untuk kembali dipasarkan di Bali. Geliat ekonomi yang mulai bangkit di Pulau Dewata ini nampaknya menjadi berkah bagi Dare Jawet. Anggota kelompok pun makin giat mengerjakan pesanan tersebut.
Lalu untuk peningkatan kapasitas dalam meningkatkan nilai tambah produk rotannya, Dare Jawet kembali mendapat dukungan dari BP2SDM KLHK, khususnya BD Samarinda. Bentuknya adalah Pelatihan Pengolahan dan Pembuatan Kerajinan Rotan, pada 24-27 November 2020. Jika semula pengrajin perempuan Dare Jawet mampu menghasilkan tas anyaman bermotif, kali ini nilai tambah dilakukan dengan mengajarkan mereka cara memadukan tas atau dompet hasil anyaman rotan dengan kulit sintetis yang lembut dan berkualitas. Peserta pelatihan ini, selain dari KUPS Dare Jawet Desa Katimpun, juga ada yang berasal dari perwakilan pengrajin rotan perempuan dari Desa Kalumpang dan Sei Ahas. Kebetulan letak dua desa ini tidak jauh dari Katimpun dan perempuannya juga terampil menganyam rotan turun temurun.
BD Samarinda mendatangkan empat pelatih dari Desa Pulau Telo, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas, yang memang ahli dalam memadukan berbagai kerajinan anyaman rotan dengan kulit. Empat pelatih tersebut dipimpin oleh Fitri, yang ditemani oleh Rawati, Susi dan Mulyani.
Selain itu, Kepala BD Samarinda, Edi Kurniadi, juga menggandeng perakit mesin handal dari Palangkaraya, Mansur, untuk merakit mesin jahit serta memastikan Kelompok Dare Jawit bisa merawat mesin tersebut. Mesin jahit ini sendiri merupakan bantuan dari Balai PSKL Wilayah Kalimantan. Edi Kurniadi juga memberi motivasi agar LPHD Desa Katimpun dan KUPS Dare Jawet bisa mengembangkan Katimpun menjadi desa wisata rotan.
Sesuai harapan, sesudah pelatihan digelar selama empat hari, pada hari terakhir pelatihan, aku mendapat kiriman video dari sang pendamping, Nani. Aku memang hanya bisa datang di hari pertama pelatihan untuk memotivasi mereka agar selalu bersemangat Nampak dalam video tersebut, para perempuan Dayak yang ulet ini dengan bangganya berlenggak-lenggok membawa hasil kreasinya masing-masing, baik berupa tas atau dompet yang sudah berpadu cantik dengan kulit. Dan aku menyaksikan video tersebut dengan rasa bahagia.
–##–
* Swary Utami Dewi adalah Climate Reality Leader dan anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial.
Leave A Comment