China Flag - SW1994 - PixabayChina dan Korea Selatan secara resmi mengirimkan target perubahan iklim paska 2020. Target tersebut dikirim ke UNFCCC, Selasa, 30 Juni 2015, enam bulan menjelang pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim ke-21 (COP 21) yang akan berlangsung Desember ini di Paris, Perancis.

Dalam dokumennya, Korea menyatakan akan memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 37% dari jumlah emisi sesuai skenario bisnis seperti biasa (business-as-usual) yaitu sebesar 850,6 juta ton emisi setara CO2 pada 2030 dari semua sektor ekonomi. Sementara China berencana memangkas emisi CO2 per unit Produk Domestik Bruto sebesar 60-65% dari angka tahun 2005.

Menarik mengamati aksi perubahan iklim dari China ini. Tidak hanya memangkas emisi CO2, China juga menargetkan peningkatan konsumsi energi primer dari selain bahan bakar fosil sebesar 20%, menambah volume hutan sebesar 4,5 miliar meter kubik (m3) dari angka tahun 2005, serta menargetkan pencapaian emisi puncak pada 2030.

Terlepas dari indikator-indikator yang memancing interpretasi, China, dalam sepuluh tahun terakhir telah melakukan berbagai aksi iklim yang mengagumkan. Raihan ini mereka sampaikan dalam dokumen yang dikirim ke UNFCCC.

Hingga 2014, China berhasil memangkas emisi CO2 per unit Produk Domestik Bruto sebesar 33.8% dibanding tingkat emisi pada 2005. Sumbangan konsumsi energi primer yang berasal dari bahan bakar non-fosil mencapai 11,2% pada tahun 2014. Sementara penambahan volume hutan yang berhasil diraih pada 2014 mencapai 2,188 miliar meter kubik dengan penambahan luas hutan mencapai  21,6 juta hektar dibanding tahun 2005.

Semua capaian di atas, terutama capaian pengurangan emisi, tidak bisa diraih tanpa prestasi di energi terbarukan. Pada 2014, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga air China naik 2,57 kali lipat menjadi 300 GW (gigawatt) dibanding tahun 2005. Kapasitas terpasang energi angin yang terhubung dengan jaringan listrik (on-grid wind power) mencapai 95,81 GW atau naik 90 kali lipat dari tahun 2005. Sementara kapasitas terpasang energi surya melonjak 400 kali lipat pada 2014 menjadi 28,05 GW dibanding angka tahun 2005.

Namun semua prestasi tersebut belum mengubah fakta bahwa China merupakan negara penghasil emisi terbesar di dunia. Amerika Serikat menduduki posisi kedua. Amerika Serikat dalam dokumen yang dikirim ke UNFCCC pada 31 Maret menyebutkan akan memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 26-28% dari angka 2005 pada 2025 – lima tahun lebih cepat dari ambisi China.

China dalam dokumennya juga menggarisbawahi tiga isu penting. Pertama, kesepakatan perubahan iklim yang akan dibahas akhir tahun ini harus menyebutkan secara tegas kontribusi negara maju terhadap dana perubahan iklim atau Green Climate Fund sebesar minimal US$100 miliar per tahun mulai tahun 2020. Yang kedua kesepakatan perubahan iklim harus bersifat mengikat secara hukum atau legally binding. Dan yang ketiga negara maju akan mendukung aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, menjamin transparansi, transfer teknologi serta pengembangan kapasitas guna mengembangkan dan menerapkan aksi perubahan iklim.

Tarik menarik kepentingan antara negara maju dan berkembang diperkirakan masih terus berlangsung menjelang COP 21 di Paris. Hal ini terutama diwakili oleh kepentingan dua negara adidaya yaitu Amerika Serikat dan China. Namun satu hal yang pasti, krisis perubahan iklim harus ditangani. COP21 akan menjadi kesempatan terakhir bagi para pemimpin dunia saat ini, untuk beraksi demi kesejahteraan dan keselamatan generasi mendatang.

Redaksi Hijauku.com