Coal burning power station in Poland - Wikimedia CommonsGrup beranggotakan 70 investor global, dengan nilai aset mencapai $3 triliun, menuntut 40 perusahaan bahan bakar fosil terbesar di dunia menciptakan aksi perusahaan yang rendah karbon. Ini bukan pertama kalinya sekelompok investor menuntut perusahaan agar lebih ramah lingkungan. Jumlah investor hijau terus bertambah dan beberapa bursa saham dunia salah satunya Bursa Saham New York bahkan juga memiliki inisiatif hijau sendiri.

Kali ini investor meminta perusahaan minyak, gas, batu bara dan kelistrikan untuk menghitung kembali perubahan harga dan permintaan bahan bakar fosil dunia dan dampaknya terhadap rencana bisnis mereka.

Aksi yang dikoordinasikan oleh CERES ini dilakukan dalam bentuk surat yang ditandatangani oleh seluruh investor dan telah dikirimkan ke semua perusahaan fosil terbesar dunia bulan lalu.

Aksi adalah respon dari laporan Carbon Tracker berjudul “Unburnable Carbon” yang dirilis April 2013, yang menemukan bahwa pada 2012 saja, 200 perusahaan publik terbesar di industri fosil bersama-sama menghabiskan dana $674 miliar untuk menemukan dan mengembangkan cadangan bahan bakar fosil baru yang ternyata tidak pernah dimanfaatkan.

Aset-aset ini dihapusbukukan karena tidak lagi kompetitif (bisa bersaing) dengan bahan bakar alternatif lain. Faktor lain adalah munculnya standar udara bersih dan upaya mengurangi polusi karbon untuk mengatasi perubahan iklim dan pemanasan global.

Menurut para investor, daripada membuang-buang dana untuk menemukan dan mengembangkan cadangan fosil yang ternyata tidak pernah dimanfaatkan, mereka meminta perusahaan untuk turut beraksi mengatasi perubahan iklim.

“Selama ini perusahaan fosil adalah penghasil polusi karbon terbesar. Ini adalah peluang untuk memimpin aksi mengatasi risiko perubahan iklim,” ujar Mindy Lubber, Presiden Ceres.

Laporan Hijauku.com sebelumnya menyebutkan, 10% dari 500 perusahaan publik terbesar, memroduksi 73% emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh grup Global 500.

“Pasar tahu, jika perusahaan mampu mencegah alokasi biaya untuk proyek tinggi karbon yang ternyata terbuang, aksi tersebut akan meningkatkan keuntungan bagi para pemegang saham. Perhitungan permintaan dan harga bahan bakar fosil saat ini telah berubah. Tapi perusahaan masih saja menggelontorkan modal dengan cara yang sama,” ujar James Leaton, Direktur Riset di Carbon Tracker.

Menurut laporan Carbon Disclosure Project (CDP), perusahaan dengan kinerja iklim dan karbon terbaik terbukti lebih menguntungkan dan memiliki kondisi keuangan yang lebih baik. Sehingga semakin banyak perusahaan yang sadar perubahan iklim.

Pekerja di perusahaan ramah lingkungan juga lebih produktif dibanding pekerja perusahaan konvensional. Saatnya perusahaan fosil beraksi hijau dengan mengembangkan energi yang lebih bersih dan kompetitif pada masa datang.

Redaksi Hijauku.com