Saat negara-negara adidaya dengan pongahnya mengeluarkan triliunan dolar untuk membiayai perang, dana untuk adaptasi perubahan iklim dan pemanasan global terus mengering. Ini adalah bentuk kegagalan dunia, tidak hanya secara finansial, namun juga secara moral, dalam mengatasi krisis iklim.
Laporan UNEP terbaru 2026 Adaptation Gap Report: Ready? Not membeberkan fakta bahwa arus pembiayaan internasional untuk adaptasi perubahan iklim (public adaptation finance) melambat di seluruh dunia, mencapai $28,2 miliar – $31,7 miliar atau hanya naik $1 miliar antara tahun 2023 dan 2024. Bahkan jika upaya untuk melipatgandakan aliran pembiayaan publik internasional ke negara-negara berkembang hingga tahun 2035 berhasil, hanya 20-29% kebutuhan pembiayaan adaptasi global (setelah memperhitungkan inflasi) yang akan terpenuhi.
Laporan UNEP menyatakan, dengan pemanasan global yang diperkirakan melebihi 1,5°C, kerugian serta kerusakan akibat krisis iklim akan terus naik. Arus pembiayaan ke negara-negara yang kurang berkembang (Least Developed Countries) dan negara-negara berkembang kepulauan kecil (Small Island Developing States) meningkat secara riil antara 2019 dan 2024, tapi turun dari puncaknya di tahun 2022 pada saat pembiayaan tersebut seharusnya meningkat.
Kebutuhan negara-negara berkembang untuk membiayai aksi adaptasi perubahan iklim diperkirakan mencapai $305 miliar per tahun hingga tahun 2035. Angka $305 miliar ini diperoleh dari estimasi berbasis model yang dihitung menggunakan data Nationally Determined Contributions (NDCs) dan rencana adaptasi nasional (National Adaptation Plans). Kebutuhan ini di luar kebutuhan dana adaptasi sektor swasta, yang menurut laporan UNEP bisa melipatgandakan angka tersebut.
Dunia Belum Siap Beradaptasi
“Dunia belum siap beradaptasi dengan kondisi perubahan iklim saat ini. Apalagi jika nanti pemanasan global melampaui 1,5°C,” ujar Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP sebagaimana dikutip dalam berita Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Menurut Inger, harapannya ada di Konferensi Perubahan Iklim ke-31 (COP31) di Turki di mana negara-negara dunia harus fokus untuk mencapai “Aspirasi Global Mutirão” yang dibuat di COP sebelumnya (COP30) untuk melipattigakan (triple) pembiayaan adaptasi pada tahun 2035. Jika COP31 berhasil mengubah janji-janji adaptasi menjadi aksi meningkatkan pembiayaan adaptasi internasional hingga 2-3 kali lipat, arus pembiayaan adaptasi internasional ke negara-negara berkembang akan naik menjadi US$85-120 miliar per tahun hingga tahun 2035.
Kabar buruknya, bahkan jika upaya tersebut berhasil, angka US$85-120 miliar di atas hanya akan memenuhi memenuhi 20-29% kebutuhan pembiayaan adaptasi global per tahun untuk negara-negara berkembang dan 49-83% kebutuhan negara-negara paling miskin (Least Developed Countries) dan negara-negara berkembang kepulauan kecil (Small Island Developing States) yang paling menderita akibat perubahan iklim dan pemanasan global.
Kabar baiknya negara di bawah Persetujuan Paris masih bisa memenuhi janji Glasgow Climate Pact yang dibuat tahun 2021 di COP26 di Skotlandia untuk menggandakan pembiayaan adaptasi perubahan iklim menjadi $40 miliar pada 2025 dari level tahun 2019.
Kabar baik lainnya, arus dana adaptasi antar negara-negara berkembang melalui kerjasama pembangunan (South to South cooperation) juga melalui Bank Pembangunan Multilateral (Multilateral Development Banks/MDBs) juga naik secara signifikan dari $3,8 miliar di 2019 menjadi $9,6 miliar di 2024. Arus pendanaan adaptasi swasta juga meningkat antara 15-20%.
Kegagalan Moral dan Kelembagaan
Bandingkan semua angka pembiayaan adaptasi di atas dengan biaya yang dihabiskan oleh Amerika Serikat – yang telah keluar dari Paris Agreement atau Persetujuan Paris – untuk perang di Iran. Amerika Serikat menurut sumber resmi Pentagon menghamburkan dana setidaknya $47,1 miliar per 16 Oktober 2026. Dengan potensi konflik yang terus meningkat, uang yang dibakar Amerika Serikat di perang Iran bahkan bisa mencapai sekitar $2 miliar hingga $3 miliar per bulan.
Angka itu melampaui aliran riil dana adaptasi ke seluruh dunia yang mencapai $28,2 miliar – $31,7 miliar pada 2024 dan target peningkatan pembiayaan adaptasi Glasgow Climate Pact yang sebesar $40 miliar pada 2025.
Hijauku.com menilai, secara khusus, ini adalah bentuk kegagalan Amerika Serikat sebagai salah satu negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia untuk –secara moral dan finansial – mengatasi kerusakan akibat krisis iklim. Alih-alih membantu negara miskin dan berkembang, Amerika Serikat menggunakan dana tersebut untuk membiayai perang yang telah membunuh pemimpin Iran, ilmuwan, anak-anak dan warga sipil.
Secara umum, kondisi dana adaptasi yang terus mengering adalah akibat minimnya komitmen negara-negara maju untuk mengubah janji menjadi aksi. Apalagi di tengah kondisi perekonomian global yang makin tidak kondusif akibat konflik di Timur Tengah dan bencana iklim yang terus memburuk.
Kembali ke Laporan UNEP, UNEP juga menggarisbawahi, faktor pendanaan saja, tidak memadai. Kemajuan juga bergantung pada berbagai faktor kelembagaan yang membantu menerjemahkan prioritas adaptasi menjadi aksi atau langkah-langkah yang bisa dilaksanakan.
Pemerintah di bawah Persetujuan Paris sudah mengambil langkah termasuk dengan mengadopsi undang-undang perubahan iklim, menciptakan platform pembelajaran kebijakan, meningkatkan koordinasi antar sektor dan level pemerintahan, serta membangun mekanisme khusus untuk memobilisasi dan mengelola pembiayaan iklim.
Kondisi pendanaan Loss and Damage bisa menjadi contoh. Saat dibuka untuk pertama kali, Loss and Damage Fund menghasilkan permintaan senilai $2,8 miliar, melebihi batas pendanaan awal sebesar $342 juta. Ini menunjukkan besarnya permintaan sekaligus kesenjangan yang belum terpenuhi.
Laporan UNEP menemukan pentingnya upaya untuk meningkatkan kapasitas penilaian, dukungan keuangan dan teknis yang memadai dan dapat diprediksi, prosedur akses pendanaan Loss and Damage yang lebih sederhana, serta partisipasi yang lebih bermakna dari komunitas terdampak sehingga rencana aksi adaptasi iklim menjadi lebih inklusif.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment