Peringatan keras ini kembali disampaikan dalam laporan terbaru Intergovernmental Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) yang dirilis hari ini, 9 Februari di Manchester, Inggris. Laporan ini disiapkan selama tiga tahun oleh 79 ahli terkemuka dari 35 negara yang mewakili semua wilayah di dunia dengan menggunakan data ilmiah, melibatkan sektor swasta dan berkonsultasi dengan masyarakat adat dan masyarakat lokal.
Temuan utama dari laporan IPBES: Setiap bisnis bergantung dan berdampak pada keanekaragaman hayati. Pertumbuhan ekonomi global telah mengorbankan (menghilangkan) keanekaragaman hayati yang sangat besar, sehingga menimbulkan risiko sistemik yang kritis dan meluas terhadap ekonomi, stabilitas keuangan, dan kesejahteraan manusia.
Bahkan perusahaan yang mungkin terkesan jauh dari alam atau yang tidak melihat operasi mereka berbasis/ mengandalkan sumber daya alam, memiliki dampak secara langsung atau tidak langsung, dari sisi kebutuhan material, kondisi lingkungan – seperti mitigasi banjir dan pasokan air – termasuk kontribusi non-material seperti pada sektor pariwisata, rekreasi, pendidikan, dan nilai-nilai spiritual, estetika dan budaya.
Laporan yang disetujui oleh lebih dari 150 negara anggota IPBES, selama sesi ke-12 Pleno IPBES ini menemukan bahwa bisnis adalah aktor sentral atau pelaku utama untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati. Namun banyak perusahaan yang seringkali kekurangan informasi mengenai cara untuk mengatasi dampak dan ketergantungan mereka tersebut. Termasuk informasi mengenai risiko dan peluang yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati dan kontribusi alam kepada manusia.
Laporan ini menemukan bahwa kondisi bisnis beroperasi saat ini melanggengkan risiko sistemik yang akan melanggengkan degradasi lingkungan dan hilangnya keanekaragaman hayati. Bisnis sering tidak memperoleh insentif yang memadai, yang menghambat upaya mereka untuk membalikkan degradasi alam. Kondisi lingkungan kelembagaan yang minim dukungan, penegakan dan kepatuhan, yang memiliki kesenjangan yang signifikan dalam data dan pengetahuan menjadi penyebabnya.
Model bisnis di mana konsumsi material (sumber daya) terus meningkat dan fokus perusahaan pada pelaporan pendapatan triwulanan, semakin memicu laju degradasi alam di seluruh dunia. Laporan ini menegaskan, perubahan mendasar dimungkinkan dan diperlukan untuk menciptakan bisnis yang menguntungkan namun – pada saat yang sama – juga bermanfaat bagi keanekaragaman hayati dan manusia.
Perilaku Bisnis seperti Biasa (BAU)
Namun kondisi saat ini masih melanggengkan perilaku bisnis seperti biasa (BAU) dan tidak mendukung perubahan transformatif yang diperlukan untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati. Misalnya, pada tahun 2023, aliran keuangan publik dan swasta global dengan dampak negatif langsung terhadap alam, diperkirakan mencapai $7,3 triliun, di mana pembiayaan swasta menyumbang $4,9 triliun, dengan pengeluaran publik untuk subsidi yang berbahaya bagi lingkungan mencapai $2,4 triliun.
Sebaliknya, aliran keuangan publik dan swasta yang digunakan untuk konservasi dan restorasi keanekaragaman hayati hanya $220 miliar atau hanya 3% dari dana dan insentif publik yang dikategorikan berdampak negatif terhadap keanekaragaman hayati.
Sebuah survei terbaru di kalangan lembaga keuangan yang mewakili 30% nilai kapitalisasi pasar global menemukan tiga hambatan utama yang menghalangi penerapan penilaian dan manajemen risiko terkait alam yang lebih besar yaitu: a) akses ke data yang memadai, b) akses ke model yang andal dan c) akses ke skenario.
Tiga Karakteristik Interaksi
Laporan IPBES ini membantu menguraikan metode, metrik, dan alat kebijakan mana yang sesuai untuk ruang lingkup bisnis, membantu membawa kejelasan dan koherensi pada cara bisnis mengukur dan melaporkan interaksi mereka dengan alam. Targetnya adalah mengubah visi keberlanjutan perusahaan yang semula sukarela, menjadi peta jalan berbasis sains yang mendorong perubahan sistem.
Laporan ini mengusulkan tiga karakteristik menyeluruh yang dapat digunakan untuk menilai metode mana yang paling tepat untuk mengukur dan melaporkan interaksi bisnis dengan alam. Ketiga karakteristik tersebut bisa digunakan untuk bisnis apa pun, dari ukuran atau sektor apa pun. Karakteristik 1. Cakupan (geografis termasuk tingkat dampak dan ketergantungan); Karakteristik 2. Akurasi (sejauh mana hasil dengan benar menggambarkan apa yang dirancang untuk diukur); dan 3. Responsivitas (kemampuan metode untuk mendeteksi perubahan yang dapat dikaitkan dengan tindakan dan aktivitas bisnis).
Keputusan di tingkat operasional memerlukan informasi spesifik lokasi, yang dihasilkan melalui pendekatan ‘bottom-up’ termasuk pengamatan berbasis lokasi, pemantauan dan pemetaan partisipatif, dan analisis spasial yang dibangun di atas sumber data ini. Pendekatan yang lebih tepat di tingkat portofolio, perusahaan, dan rantai nilai termasuk metode ‘top-down’ seperti pendekatan siklus hidup (life cycle) dan model ekonomi lingkungan skala makro. Jika diperlukan, perusahaan juga dapat menggunakan data resolusi spasial yang lebih rendah tetapi dengan skala geografis yang lebih luas.
Pengetahuan Masyarakat Lokal
Temuan utama lainnya adalah bahwa bisnis dapat meningkatkan pengukuran dan pengelolaan dampak dan ketergantungan mereka terhadap alam melalui pendekatan yang tepat yang dilandasi oleh sains dan pengetahuan masyarakat adat dan lokal.
Prof. Ximena Rueda (Colombia), salah satu penyusun laporan ini menyatakan, “Data dan pengetahuan seringkali dipisahkan. Padahal literatur ilmiah tidak ditulis untuk kalangan bisnis dan kurang diterjemahkan dan memperhatikan kebutuhan bisnis sehingga memperlambat penyerapan penemuan ilmiah. Pemahaman dan pengakuan Perusahaan/bisnis terhadap masyarakat adat dan masyarakat lokal juga terbatas, padahal mereka selama ini menjadi pelindung keanekaragaman hayati yang memegang pengetahuan tentang konservasi, restorasi, dan penggunaan berkelanjutan.”
Alih-alih, perkembangan industri mengancam 60% tanah adat di seluruh dunia dan seperempat (25%) dari semua wilayah adat berada di bawah tekanan tinggi kegiatan bisnis yang mengeksploitasi sumber daya. Namun masyarakat adat dan komunitas lokal seringkali tidak terwakili secara memadai dalam penelitian bisnis dan pengambilan keputusan. “Kolaborasi yang saling menghormati, dalam berbagi dan menggunakan data, informasi, wawasan ilmiah serta pengetahuan masyarakat adat dan lokal bisa mengurangi risiko bisnis dan merealisasikan peluang,” ujar Prof. Rueda.
Prioritas dan Opsi untuk Aksi Bisnis
Laporan tersebut menjelaskan, semua bisnis, termasuk lembaga keuangan, memiliki tanggung jawab atas dampak dan ketergantungan bisnis mereka terhadap alam. Sejumlah tindakan transformatif yang dapat diambil saat ini – yang menguntungkan bisnis dan keanekaragaman hayati – adalah semua upaya yang meningkatkan efisiensi dan mengurangi limbah dan emisi.
“Memperbaiki hubungan dengan alam bukanlah pilihan opsional untuk bisnis – ini adalah keharusan. Ini sangat penting untuk keuntungan mereka, kemakmuran mereka dalam jangka panjang,” ujar Prof. Rueda.
Diperlukan perubahan transformatif untuk masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan. Namun, untuk menghindari greenwashing, penting bagi bisnis untuk memiliki strategi yang transparan dan kredibel, yang dengan jelas menunjukkan tindakan mereka dan bagaimana mereka berkontribusi pada upaya melestarikan keanekaragaman hayati dan. Perusahaan juga harus secara terbuka mengungkapkan dampak kegiatan, lobi mereka dan ketergantungan mereka terhadap alam.
Pesan penting lainnya dari laporan ini adalah, bahwa bisnis tidak dapat menciptakan perubahan sendiri. Diperlukan kolaborasi untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati. Kolaborasi bersama tindakan kolektif dan individu sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan bisnis berkontribusi pada masa depan yang adil dan berkelanjutan.
Lima komponen spesifik untuk mewujudkan hal tersebut adalah: kerangka kebijakan, hukum dan peraturan; sistem ekonomi dan keuangan; nilai-nilai sosial, norma, dan budaya; teknologi dan data; dan kapasitas dan pengetahuan. Laporan ini memberikan lebih dari 100 contoh spesifik tindakan nyata yang dapat diambil, di masing-masing dari lima komponen ini, oleh bisnis, pemerintah, pelaku keuangan, dan masyarakat sipil.
Data dan Angka – Statistik Utama dan Temuan dari Laporan IPBES
- $1,18 triliun-$130,11 triliun: Pertumbuhan ekonomi global antara tahun 1820 dan 2022 (dalam dolar 2011).
- +100% vs -40%: Peningkatan rata-rata per kapita dalam modal produksi manusia sejak 1992, versus pengurangan stok modal sumber daya alam.
- $7,3 triliun: Aliran keuangan publik dan swasta global pada tahun 2023 dengan dampak negatif langsung terhadap alam, di mana pembiayaan swasta menyumbang $4,9 triliun, dengan pengeluaran publik untuk subsidi yang berbahaya bagi lingkungan sekitar $2,4 triliun
- $220 miliar: Aliran keuangan publik dan swasta global yang diarahkan pada tahun 2023 untuk kegiatan yang berkontribusi pada konservasi dan restorasi keanekaragaman hayati.
- <1%: Melaporkan secara publik perusahaan yang menyebutkan dampak keanekaragaman hayati dalam laporan mereka.
- 60%: Pangsa tanah adat secara global terancam oleh pembangunan industri.
- 25%: Pangsa wilayah adat di bawah tekanan tinggi dari eksploitasi sumber daya.
- Setidaknya 8: Jumlah negara (bersama dengan Uni Eropa) yang Bank Sentral mereka telah menganalisis dampak eksposur lembaga keuangan mereka terhadap ketergantungan pada keanekaragaman hayati.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment