Oleh: Mohammad Fadli *

Sangat jarang ada guru yang berdedikasi membudayakan bersepeda ke sekolah atau #Bike2School di tengah arus urbanisasi dan desain kota yang  memanjakan kendaraan bermotor sebagai moda transportasi utama.

Namun tidak bagi Bambang Haris, seorang guru dari SMPN 14 Gresik yang kerap mendorong gerakan Bike2School di sekolah tempat dia mengajar. Beliau dengan tegas mengadvokasi agar anak-anak muridnya mengutamakan bersepeda, berjalan kaki, atau menggunakan transportasi ke sekolah. Termasuk dengan meneruskan peraturan wajib bersepeda sejak sekolah berdiri mulai tahun 1983.

Moralitas yang dibangun pak Bambang Haris dan segenap entitas SMPN 14 Gresik ini lebih terdepan dibanding guru dan orang tua pada umumnya. Beliau mengajarkan bahwa berbuat baik juga dapat diwujudkan dengan tidak menggunakan kendaraan bermotor saat ada moda transportasi lain yang lebih ramah lingkungan.

Sepeda tidak memakan banyak energi dan tidak mengeluarkan polusi udara dan jejak karbon CO2. Artinya, beliau mengajarkan bahwa saat ada pilihan yang untuk tidak merugikan orang lain baik jangka pendek maupun dalam jangka panjang, maka pilihan tersebutlah yang kita ambil.

Pembangunan karakter seperti ini tidak kita temukan di kurikulum sekolah kita yang belum sampai tingkatan bahwa manusia Indonesia dapat berkontribusi secara tidak langsung terhadap dunia, dengan mengeliminir perilaku boros energi dan boros emisi yang dalam jangka panjang dapat merugikan diri sendiri atau pun orang lain.

Berbeda dengan kurikulum negara-negara maju seperti Swedia atau Denmark yang mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan dengan mengintegrasikannya ke dalam setiap aspek keseharian bagi siswa di Sekolah Dasar, negara kita masih terfokus pada peningkatan skill untuk bertahan hidup atau mencari uang tanpa diiringi dengan pendidikan moral yang sudah sewajarnya untuk ditanamkan sejak dini.

Padahal sesuai dengan kurikulum Merdeka yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan, bahwa untuk menjadi Profil pelajar pancasila, semuanya tercermin pada Pelajar Bersepeda.

Gerakan Bike2School perlu didukung oleh sistem zonasi sekolah yang memperkecil jarak antara rumah dengan sekolah, serta didukung oleh infrastruktur kota yang ramah bersepeda.

Bukan melulu soal jalur sepeda, tetapi juga pendisiplinan pengguna kendaraan bermotor yang kerap kali melebihi batas kecepatan, penggunaan kendaraan bermotor yang berlebihan, serta tata ruang kota dalam lingkup yang lebih luas.

Belum lagi gempuran “Motor Listrik terselubung” atau Motor Listrik yang menyerupai sepeda, yang juga sudah mulai menjangkiti anak-anak di bawah umur di pelosok perkampungan. Bukan cuma soal faktor ekonomi (murah), tapi hendaknya generasi muda perlu diberi pemahaman bahwa dahulukanlah mana moda yang lebih ramah lingkungan dan aman, daripada yang memakan banyak energi/emisi dan bahkan justru cenderung berbahaya untuk diri sendiri.

Jangan sampai generasi seterusnya akan kaget pada saat krisis energi dan krisis sumber daya alam menimpa di masa mendatang, mereka baru sadar bahwa sepeda adalah moda transportasi paling efisien dibanding moda transportasi lain yang menggunakan energi fosil atau listrik yang bersumber dari batu bara, yang juga menggunakan batre yang boros nikel dan limbahnya yang belu dapat dikelola dengan baik oleh negara.

–##–

* Mohammad Fadli adalah Penglaju Bersepeda, Pengelola akun ig koalisipesepeda, Pengelola portal petabersepeda.id