Hal ini diungkap dalam laporan terbaru United Nations Environment Programme (UNEP) yang dirilis Selasa, 16 Mei 2023. “Cara kita memproduksi, menggunakan, dan membuang plastik mencemari ekosistem, menciptakan risiko bagi kesehatan manusia dan mendestabilisasi iklim,” kata Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen dalam berita Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Laporan berjudul, “Turning off the Tap: How the world can end plastic pollution and create a circular economy”, menguraikan skala dan sifat perubahan yang diperlukan untuk mengakhiri polusi plastik dan menciptakan ekonomi sirkular, ekonomi berkelanjutan, yang ramah terhadap manusia dan lingkungan.
Mengubah sistem
Laporan ini mengusulkan perubahan sistem yang dicapai melalui percepatan tiga perubahan utama – menggunakan kembali (reuse), mendaur ulang (recycle), dan mengarahkan Kembali (reorientation) dan mendiversifikasi (diversification) – untuk menangani warisan polusi plastik.
Laporan UNEP menemukan, dunia masih perlu menangani 100 juta metrik ton plastik dari produk sekali pakai dan berumur pendek per tahun pada tahun 2040, bahkan jika langkah-langkah di atas dilaksanakan. Tanpa aksi yang direkomendasikan, polusi plastic akan lebih parah lagi.
Membangun ekonomi sirkular
UNEP menyarankan negara-negara di dunia untuk menetapkan dan menerapkan standar desain dan keamanan dalam membuang limbah plastik yang tidak dapat didaur ulang dan memaksa produsen bertanggung jawab atas produk mereka yang mencemari lingkungan dengan mikroplastik.
Secara keseluruhan, pergeseran ke ekonomi sirkular akan menghasilkan penghematan $1,27 triliun, setelah menghitung biaya dan pendapatan dari daur ulang. Manfaat tambahan senilai $3.25 triliun akan dirasakan dari meningkatnya kualitas kesehatan, berkurangnya dampak krisis iklim, polusi udara, degradasi ekosistem laut, dan biaya litigasi.
Menciptakan 700.000 lapangan kerja
Manfaat lainnya, menurut laporan UNEP adalah terciptanya 700.000 pekerjaan baru pada tahun 2040, sebagian besar di negara-negara berpenghasilan rendah, yang secara signifikan meningkatkan mata pencaharian jutaan pekerja di lingkungan informal.
Biaya investasi untuk perubahan sistemik yang direkomendasikan cukup besar yaitu $65 miliar per tahun dibanding kerugian jika perubahan sistematis tersebut tidak dilakukan yang mencapai $113 miliar per tahun.
Sebagian besar dana ini menurut UNEP bisa diperioleh dengan mengalihkan investasi yang direncanakan untuk fasilitas produksi plastic baru atau retribusi produksi plastik baru ke dalam infrastruktur sirkular yang diperlukan.
Jangka waktu terbatas
UNEP menyatakan, perubahan sistem ini harus dilakukan segera. Penundaan perubahan sistematis ini selama lima tahun hanya akan menambah 80 juta metrik ton polusi plastik pada tahun 2040.
Seperti apa pasar sirkular yang direkomendasikan oleh UNEP ini? Semunya terfokus pada skema RRR + D. Berikut penjabarannya.
Penggunaan Kembali (Reuse): Laporan UNEP meminta negara dan perusahaan untuk mempromosikan opsi penggunaan kembali, termasuk botol isi ulang, dispenser curah, skema pengembalian deposit, dan skema pengambilan kembali kemasan, yang dapat mengurangi 30% polusi plastik pada tahun 2040. Untuk mewujudkan potensi ini, pemerintah harus menciptakan kebijakan yang mendukung bisnis penggunaan kembali ini.
Daur ulang (Recycle): Bisnis daur ulang yang lebih stabil dan menguntungkan akan bisa mengurangi polusi plastik tambahan sebesar 20% pada tahun 2040. Hal ini bisa dicapai melalui kebijakan: Menghapus subsidi bahan bakar fosil, memberlakukan kebijakan/pedoman desain produk untuk meningkatkan upaya daur ulang, dan langkah-langkah lain. Aksi-aksi ini akan meningkatkan pangsa pasar plastik yang dapat didaur ulang secara ekonomi dari 21% menjadi 50%.
Reorientasi dan diversifikasi (Reorientation and diversification): Mengganti produk secara hati-hati seperti pembungkus plastik, sachet, dan produk yang bisa dibawa pulang dengan produk yang terbuat dari bahan-bahan alternatif (seperti kertas atau bahan kompos) dapat mengurangi polusi plastik tambahan sebesar 17%.
Teknologi saat ini sangat memungkinkan dunia untuk menciptakan dan menerapkan semua solusi di atas. Yang diperlukan adalah niat untuk menciptakan kebijakan yang sesuai dengan upaya-upaya tersebut dan ketegasan dalam pelaksanaannya, seperti ketegasan dalam menerapkan prinisp EPR atau extended producer’s responsibility, yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas limbah dari produk-produk mereka. Solusinya di depan mata kita semua.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment