Oleh: Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan *
Enam-belas tahun silam tepatnya di bulan Februari di sebuah ruang sidang doktor, seorang mahasiswa S3 menjelaskan tentang rencana besar Eropa untuk menghubungkan listrik di Uni Eropa dengan sistem pembangkit besar bersumber energi listrik matahari yang berlimpah di wilayah gurun Sahara.
Skenario yang hendak dibangun adalah bagaimana Uni Eropa mendapatkan pasokan daya listriknya dari sumber energi terbarukan yang berasal dari negara di benua tetangganya yaitu Afrika dengan optimal. Namun hingga kini mega planning tersebut belum terwujud, padahal analisisnya demikian tajam dan sulit dibantah karena dilengkapi dengan data serta hasil simulasi yang akurat. Bahkan tahun 2009 ada perusahaan listrik di Eropa dengan serius menindaklanjuti studi tersebut.
Proyek yang menghubungkan sistem kelistrikan antar benua ini dikenal dengan istilah Supergrid, di Eropa “mimpi” itu dikenal dengan istilah European Supergrid. Niat dari konsep ini sebenarnya baik yaitu mengintegrasikan dan menyalurkan listrik berbasis energi terbarukan ke seluruh Eropa, sumber energinya dapat berasal dari berbagai tempat di Eropa sampai Afrika Utara. Beberapa kendala dari konsep ini menjadi perhatian seperti faktor teknis seperti rugi-rugi daya listrik yang terjadi karena panjangnya transmisi, keterjaminan suhu geopolitik, aspek sosial yang menyangkut rasa keadilan, hingga masalah finansial dan keekonomian.
Di Eropa konsep supergrid antar benua ini akhirnya layu sebelum berkembang, karena di benua biru itu sejak dua dekade ini menggencarkan konsep kelistrikan terdesentralisasi dengan banyaknya instalasi pembangkit tersebar distributed generation seperti solar panel, turbin angin dan CHP (combined heat and power) yang dapat dipasang dekat sekali dengan pusat beban.
Harga teknologinya yang semakin murah dan yang paling penting adalah masyarakat dapat menjadi owner dari pembangkit listrik tersebut dalam bentuk perorangan dengan PLTS atap atau membentuk koperasi yang dapat mengelola turbin angin di daerahnya sendiri yang kemudian listriknya dijual ke jaringan.
Sebagai gambaran sampai tahun 2020 kemarin, status kepemilikan pembangkit energi terbarukan saja di Jerman total kapasitas daya nya mencapai 118,3 GW dimiliki oleh 31,5% perseorangan/individu, mereka para petani mencapai 10,2%, perusahaana penyedia energi (skala kecil) 11,4%, perusahaan energi (skala besar) hanya 3,4% , perbankan 14,1%, wiraswasta 13,2% dan sisanya lain-lain.
Ini menunjukkan bahwa era transisi energi ditandai dengan bangkitnya peran people dalam bisnis penyediaan listrik di suatu negara. Ke depan bukan jamannya lagi listrik dikuasai hanya oleh segelintir perusahaan listrik swasta saja atau perusahaan listrik negara yang bahan bakar fosilnya masih disuplai dan dimiliki oleh sejumput pengusaha saja.
Konsep supergrid berseberangan dengan semangat people tadi, selain padat modal, konsep tersebut lebih cocok untuk diterapkan di negara-negara kontinental seperti Eropa, Amerika dan China / Asia, karena transmisi tegangan tingginya sebagain besar berada di daratan sehingga meminimalkan biaya.
Belum adanya best practice di negara kepulauan apalagi yang sebesar Indonesia, melangitnya biaya modal dan perawatan kabel bawah laut pasti akan berdampak pada tingginya biaya energi listrik rupiah per-kWh nya. Ditambah rentannya bencana alam serta sabotase kabel laut atau saluran udara yang sangat jauh jaraknya jangan juga diabaikan.
Konsep supergrid akan membawa kita kembali kepada ketergantungan power system pada jaringan listrik transmisi. Sudah jelas konsep ini didukung oleh perusahaan raksasa transmisi tegangan tinggi yang sebenarnya bisnisnya mulai meredup sejak meningkatnya distributed generation berkembang dan masuk ke jaringan tegangan rendah, dimana people itu berada dan kemudian mereka ini bertransformasi dari customer menjadi prosumer. Era baru yang sejatinya dapat dirasakan juga oleh people di negeri yang telah berusia 76 tahun ini.
Jadi alangkah baiknya jika pemerintah Indonesia fokus terlebih dulu dalam 20 tahun kedepan pada peningkatan prosentase energi terbarukan ke dalam jaringan listrik, termasuk peningkatan kualitas listrik di daerah 3T (Tertinggal, Terluar dan Terdepan). Pengintegrasian energi terbarukan dengan sektor-sektor lain seperti sektor industri (power to gas), sektor pertanian (agrovoltaic), sektor pertahanan negara (mobile tactical microgrids) , hingga antisipasi masuknya kendaraan listrik (mobil, motor dan perahu) yang akan semakin murah di tahun-tahun mendatang.
Supergrid, tschüß!
–##–
* Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan adalah Direktur Riset Tropical Renewable Energy Center (TREC) – Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Leave A Comment