Oleh: Swary Utami Dewi *
Adalah perlu, penting dan layak untuk mendorong dan mengembangkan sistem pangan berkelanjutan ala Indonesia. Sistem pangan berarti melakukan proses secara terpadu, komprenhensif dan kolaboratif dari hulu sampai ke hilir. Berkelanjutan berarti bisa terus terlestari dan tidak hanya tersedia bagi generasi kini, tapi juga mendatang. Dan ini mensyaratkan keseimbangan antara lingkungan, sosial dan pertumbuhan ekonomi. Lalu, khas Indonesia berarti berfokus pada kearifan dan keunggulan dalam negeri. Ada pesan kebanggaan lokal yang diusung di sini.
Semua itu menjadi pemahaman yang bisa disarikan dari webinar menarik bertemakan “Sistem Pangan Berkelanjutan Indonesia” yang diusung oleh The Climate Reality Indonesia (TCRI), yang dinahkodai Amanda Katili. Webinar ini digelar atas kerjasama dengan asosiasi kabupaten Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). Dua pegiat sekaligus pengusaha perempuan pangan berkelanjutan hadir dalam webinar ini, yakni Tissa Aunilla (co-founder dari Pipiltin Cocoa) dan Ruri Arimbi (pendiri dan direktur PT Nectars Natura Karya). Bertindak sebagai moderator adalah Gita Syahrani yang merupakan Kepala Sekretariat LTKL.
Beberapa pengalaman dan contoh menarik tentang upaya mendorong dan mengembangkan pangan berkelanjutan tergambar dalam webinar ini. Tissa Aunilla, misalnya, mendirikan usaha berbasis coklat dengan merek dagang Pipiltin Cocoa. Pipiltin mendorong promosi coklat asli Indonesia. Perusahaan ini secara konsisten memang memakai bahan dasar kokoa asli Indonesia, yang tumbuh di Jawa Timur, Bali, bahkan Aceh. Tentu saja ini sangat layak ditonjolkan karena Indonesia merupakan penghasil terbanyak coklat ke-3 di dunia, setelah Ghana dan Pantai Gading.
Selain mengandalkan bahan coklat tanpa pengawet yang asli Indonesia dan bermutu tinggi serta memiliki karakter rasa yang khas dari setiap daerah di Indonesia tanpa ditambah perasa, Pipiltin juga menyajikan keragaman hasil olahan produk coklat. Produknya terdiri dari berbagai jenis kudapan ringan, kue, selai sampai ke coklat batang dengan berbagai pilihan rasa. Juga ada minuman coklat buatan dapur sendiri maupun coklat bubuk.
Tissa menegaskan bahwa dalam setiap produknya selalu ada informasi asal usul coklat, apakah itu organik atau tidak, apakah ada kandungan alergan dan sebagainya. Informasi tentang produk adalah penting agar konsumen bisa memilih apa yang tepat bagi dirinya. Pencantuman informasi penting dan menarik tentang produk dengan berbagai keunikannya menurut Tissa menjadi kunci penting dari bisnis berkelanjutan yang ditekuninya.
Jika Tissa mengembangkan usaha pangan yang ada di hilir, Ruri Arimbi berfokus pada usaha di hulu pangan. Ruri mengembangkan pertanian organik langsung bersama petani di wilayah Jawa Barat. Pilihan usaha perempuan muda ini merupakan perwujudan idealismenya. Ruri memilih organik karena aman dan ramah lingkungan dan sudah tentu berkelanjutan. Sementara bekerja langsung bersama petani adalah dalam rangka untuk tumbuh, berkembang dan sejahtera bersama petani. Bagi lulusan universitas negeri ternama ini, bisnis pangan yang baik adalah bisnis yang memperhatikan kesejahteraan petani sebagai penghasil produk mentah pangan. “Tidak adil jika pengusahanya kaya, sementara petani yang merupakan produsen hidupnya tidak sejahtera, ” tegas Ruri.
Ruri tidak main-main dengan ucapannya. Ia bahkan menerapkan sistem gaji yang lebih tinggi pada setiap petani mitranya dibandingkan dirinya. “Gaji petani saya lebih tinggi dari gaji saya sendiri,” tuturnya tersenyum. Jika petani tidak sejahtera maka mereka tidak akan mau tetap bertanam dan bertani. Itulah prinsip Ruri. Selain itu, Ruri juga tidak segan-segan turun langsung ke lahan bekerja bersama para petani. “Panas-panas ya jalani saja. Karena memang berusaha bersama petani juga berarti mengalami apa.yang petani alami,” ujar Ruri.
Dalam webinar ini turut hadir Antarjo, yang merupakan Sekretaris Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Antarjo sangat menghargai apa yang dilakukan oleh Tissa dan Ruri. Keduanya merupakan contoh baik bagi semua, utamanya kaum muda, bahwa berusaha di bidang pangan berkelanjutan adalah layak dan menguntungkan. Prinsip yang diterapkan Tissa yang bangga akan coklat Indonesia dan menerapkan sistem informasi asal usul serta keunggulan coklatnya diapresiasi oleh Antarjo. Ia juga menyatakan salut dengan idealisme Ruri yang bekerja bersama petani dengan pendekatan organik dan melakukan sistem kerja yang menguntungkan petani.
Menurut Antarjo, apa yang dilakukan kedua perempuan muda ini sejalan dengan upaya Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pertanian, untuk mendorong agar para pengusaha muda mau terjun bersama petani dan menerapkan bisnis yang berkelanjutan dan saling menguntungkan bersama petani.
Selain tiga narasumber tersebut, dalam webinar ini juga hadir Nelson Pomalingo, yang merupakan Bupati Gorontalo. Nelson memaparkan komoditas pertanian unggulan Kabupaten Gorontalo berupa jagung dan kelapa. Jagung mentah Gorontalo bahkan sudah diekspor ke beberapa negara. Selain itu, kabupaten ini juga mengembangkan budidaya ternak sapi sebagai andalan daerahnya.
Beberapa masukan kepada Bupati Gorontalo agar bisa memadukan tanaman yang lebih beragam dan tidak fokus pada satu dua produk semata muncul dalam diskusi. Ada harapan agar Kabupaten Gorontalo juga bisa mengembangkan sistem agroforestri yang lebih mengutamakan keragaman tanaman.
Variasi tanaman pangan adalah penting untuk menjamin keberlanjutan ekologi di Gorontalo yang nantinya diharapkan mampu menyumbang pada ketahanan pangan dan ketahanan iklim.
–##–
* Swary Utami Dewi adalah Pegiat Perhutanan Sosial, anggota Climate Leaders dari The Climate Reality Indonesia
Leave A Comment