Penyakit menular, krisis mata pencaharian dan cuaca ekstrem menjadi tiga risiko utama yang harus dihadapi dunia hingga dua tahun ke depan. Di tengah cengkraman pandemi COVID-19, penyakit menular menempati posisi teratas (58%) dalam Global Risks Report 2021 (GRR 2021) atau Laporan Risiko Global 2021, berdasarkan Survei Persepsi Risiko Global (Global Risks Perception Survey/GRPS) terbaru yang dilaksanakan oleh World Economic Forum (WEF).
Posisi risiko kedua ditempati oleh krisis mata pencaharian (55,1%) akibat kesenjangan dalam perawatan kesehatan, pendidikan, stabilitas keuangan dan teknologi. Laporan GRR 2021 menyatakan, pandemi COVID-19 tidak hanya mencabut lebih dari dua juta jiwa saat laporan ini diturunkan namun dampak ekonomi dan kesehatan jangka panjang akibat COVID-19 akan terus berlanjut dan
memiliki konsekuensi yang menghancurkan.
Laporan GRR 2021 menyebutkan, pandemi telah membuat masyarakat di seluruh dunia kehilangan jam kerja yang setara dengan hilangnya 495 juta pekerjaan pada kuartal kedua tahun 2020 saja. Kesenjangan ini akan terus meningkat seiring dengan ketimpangan dalam perawatan kesehatan, pendidikan,stabilitas keuangan dan teknologi. Krisis ini telah memukul negara dan kelompok masyarakat tertentu secara tidak proporsional.
Laporan ini menyatakan, hanya 28 negara yang ekonominya tumbuh pada tahun 2020. Sehingga hampir 60% responden GRPS mengidentifikasi “penyakit menular” dan “krisis mata pencaharian” sebagai ancaman jangka pendek utama dunia. Kehilangan nyawa dan mata pencaharian juga akan meningkatkan risiko konfik sosial atau yang dalam bahasa WEF disebut sebagai “erosi kohesi sosial” (peringkat ke-9 dengan nilai 35,6%) yang juga diidentifikasi sebagai ancaman kritis jangka pendek dalam GRPS.
Risiko jangka pendek tertinggi berikutnya atau posisi ke-3 ditempati oleh cuaca ekstrem (52,7%). Laporan GRR 2021 menyatakan cuaca ekstrem dipicu oleh kegagalan aksi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia.
Tak satupun negara yang kebal terhadap risiko bencana iklim ini sehingga risiko bencana ini akan terus berlanjut baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Meskipun pandemi COVID-19 – yang memicu “lock down” di seluruh dunia – menyebabkan emisi gas rumah kaca global turun pada paruh pertama tahun 2020, konsetrasi emisi GRK dunia akan kembali kembali naik saat ekonomi kembali menggeliat. “Pergeseran menuju ekonomi yang lebih hijau tidak dapat ditunda sampai guncangan pandemi mereda,” tulis WEF.
Hijauku.com telah menurunkan analisis membangkitkan ekonomi paska COVID-19. Berbagai analisis ilmiah juga telah mengaitkan munculnya pandemi COVID-19 dengan kerusakan lingkungan dan habitat. Dalam laporan Hijauku.com sebelumnya terungkap, lebih dari 70% penyakit seperti COVID-19 yang menginfeksi tubuh kita berasal dari tumbuhan, satwa liar (TSL) dan ternak. Deforestasi, perluasan lahan dan eksploitasi pertanian, tambang, pembangunan infrastruktur seperti jalan yang serampangan serta eksploitasi perdagangan tumbuhan dan satwa liar telah mendorong menularnya penyakit dari TSL ke manusia.
Data menunjukkan, manusia telah merusak lebih dari 75% daratan dunia, menghancurkan lebih dari 85% lahan basah (danau, situ, empang, rawa dan paya) dan menggunakan lebih dari sepertiga lahan dan 75% air tawar untuk produksi pertanian dan peternakan.
Dan perilaku manusia ini telah terbukti – berulang-ulang kali – memicu penyakit dan bencana alam seperti bencana banjir dan tanah longsor yang saat ini melanda berbagai wilayah di Indonesia! Akankah kita terus membiarkan keserakahan dan kejahatan segelintir manusia, memicu penyakit dan bencana yang merugikan masyarakat dunia?
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment