Oleh: Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan *

Hingga tahun 2020 ini capaian bauran Energi Terbarukan masih berada dalam kisaran 9-10 persen dari target 23 persen di tahun 2025. Untuk mengejar kekurangan 13 persen lagi bukanlah perkara mudah karena dibutuhkan upaya sinergi dan koordinasi ekstra antar kementerian mulai dari anggaran dan sinkronisasi program. Namun terkesan target ini hanya menjadi beban dan tanggung-jawab bagi Kementerian ESDM saja. Belum lagi bencana global Covid-19 yang membatasi ruang gerak dan memperlambat laju kerja.

Pemanfaatan energi matahari seperti solar panel sudah teruji sebagai salah satu pilihan teknologi yang paling cepat digunakan untuk mengejar angka penetrasi energi terbarukan di berbagai negara di dunia. Hal ini disebabkan karena harganya yang semakin murah, mudah dan cepat dalam instalasi, serta biaya operasi dan pemeliharaan yang sangat rendah.

Wajar jika sebagian besar negara berlomba untuk menggunakan teknologi ini, sehingga produsen solar panel terbesar dunia yaitu China terus menggenjot produksinya hingga menguasai nyaris 70 persen pasar dunia, hingga membanjiri negara-negara berkembang.

Ini berarti, semakin tinggi penggunaan panel surya di suatu negara maka semakin tinggi pula ketergantungannya dengan negara lain yang memproduksinya.

Dalam perspektif negara Industri pembuat teknologi energi terbarukan, negara berkembang adalah pasar yang menggiurkan, selain tidak ada hasil produk teknologi dalam negeri yang dimiliki, jumlah penduduknya pun besar dan akses fasilitas listrik masih belum merata. Selain itu potensi energi terbarukan di negara berkembang dinilai besar karena rata-rata berada di daerah tropis yang mempunyai durasi radiasi matahari yang lebih lama. Demikian juga dengan energi angin di beberapa lokasi ternyata cukup menjanjikan, terlebih potensi panas bumi yang luar biasa tapi masih minim digunakan.

Ceruk pasar inilah yang kemudian menjadi target ekonomi mereka, dimana penguasaan teknologi energi, khususnya konversi energi listrik adalah kata kuncinya.

Dengan demikian negara Industri mempunyai beberapa keuntungan sekaligus dalam pemanfaatan energi terbarukan, yaitu pertama mereka memproduksi teknologi tersebut untuk dijual ke negara lain, yang ujungnya adalah meningkatnya pendapatan negara mereka. Kedua, menggunakan teknologi tersebut untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam negerinya sendiri, dengan tujuan mengurangi pemakaian energi fosil yang mereka impor dari negara lain. Hal ini juga diperkuat dengan langkah percepatan peralihan mobil berbahan bakar menjadi mobil listrik.

Hasil sebuah studi tahun 2015 di Inggris menunjukkan bahwa penggunaan mobil listrik dapat memotong impor minyak bumi disana sebesar 40 persen dan penurunan emisi karbon hingga 47 persen pada tahun 2030.

Lalu apa peran negara berkembang dalam pemanfaatan energi terbarukan ini?. Sebagai contoh sederhana, dalam sistem PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang terdiri dari teknologi panel surya, inverter dan baterai, tidak satu pun dari ketiga komponen teknologi tersebut kita kuasai hingga menjadi produk hingga saat ini. Padahal sistem PLTS sederhana atau SHS/Solar Home System sudah diimplementasikan di Indonesia sejak 20-30 tahun yang lalu di desa-desa terpencil.

Teknologi inverter masih didominasi oleh produk Jerman dan China, demikian juga dengan baterai. Salah satu negara di Asia yang patut di contoh adalah India, penetrasi teknologi energi terbarukan sudah mencapai 36 persen dari total kapasitas daya listrik terpasang tahun 2018.

Yang lebih mengagumkan, India sudah berhasil membuat produk-produk energi surya,hingga diekspor ke mancanegara. Lalu bagaimana Indonesia?

Kenyataan lain, berdasarkan hasil survey yang kami lakukan dari 1.000 responden yang tinggal di Jabodetabek menunjukkan bahwa 85 persen responden ingin memasang PLTS atap dan 66 persen responden percaya bahwa PLTS atap dapat mengurangi tagihan listrik bulanan mereka. Namun masyarakat masih kesulitan untuk mendapatkan informasi dan konsultasi yang jelas dan terpecaya. Terbukti, jumlah rumah yang sudah memasang panel surya atap masih dibawah 0.1% (nol koma satu persen) dari total pelanggan PLN pada sektor rumah tangga di DKI Jakarta.

Sudah seharusnya PLN sebagai operator ketenagalistrikan dapat mengambil peran untuk melakukan pelayanan PLTS Atap dengan lebih serius, seperti layaknya PLN menawarkan kemudahan program tambah daya listrik ke masyarakat luas.

Masih ada juga yang berargumen bahwa listrik Jawa-Bali sudah over-supply. Pernyataan ini benar tetapi dari sebagian besar pasokan energi listrik tersebut berasal dari energi fosil yang sumbernya terbatas dan polutif. Atau mereka yang berpendapat bahwa listrik dari panel surya nilainya fluktuatif karena radiasi sinar matahari yang intermitten.

Semua hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan berlebihan karena sudah banyak pengalaman dari negara lain yang mampu mengatasi resiko itu. Salah satunya dengan penerapan teknologi smart grids dan matangnya perencanaan penentuan lokasi dan kapasitas PLTS yang tepat.

Dari gambaran di atas terlihat bahwa ada keinginan masyarakat khususnya mereka yang tinggal di kota untuk menggunakan panel surya, angka ini akan terus meningkat seiring dengan derasnya informasi, turunnya harga teknologi, terlibatknya perbankan untuk memberikan bantuan pinjaman dan yang paling penting adalah proaktifnya PLN dalam mempromosikan PLTS atap.

Pasar yang akan terus tumbuh ini tentunya harus dapat diantisipasi dengan matang oleh pemerintah, tentunya bukan dengan mengandalkan produk impor saja akan tetapi mempersiapkan produk dalam negeri. Oleh karena itu diperlukan revisi target bauran energi terbarukan yang lebih realistis untuk dapat dicapai yaitu sekitar 14-18 persen saja. Ini penting untuk relaksasi beban pikiran para pemangku kebijakan demi mempersiapkan langkah yang besar yaitu rekoordinasi semua pihak dalam menyusun rancangan strategi baru dan roadmap teknologi energi terbarukan sebagai produk unggulan dalam negeri, agar Indonesia dapat merintis produk lokal berbasis riset bersama antara perguruan tinggi, industri dan asosiasi.

Adapun produk impor yang berkualitas tentunya masih diperlukan untuk mengejar sisa target, dan dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, mengasah pengalaman dan meningkatkan keahlian serta memperdalam pemahaman teknologi energi terbarukan yang ada saat ini.

–##–

Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan adalah Direktur Tropical Renewable Energy Center Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan Kaprodi S2 Sistem Teknik Energi Universitas Indonesia