JAKARTA, 13 Agustus 2020 – Kualitas udara yang buruk memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama kesehatan pernapasan yang rentan di masa pandemi Covid-19 ini. Menurut Novita Natalia Kusumawardani, salah satu hal yang menyebabkan kualitas udara menjadi buruk adalah pembakaran sampah domestik secara sembarangan.

Novita lalu memulai petisi di laman Change.org untuk mengajak masyarakat Jakarta lebih peduli terhadap kualitas udara di Jakarta. Salah satunya dengan menghentikan pembakaran sampah domestik secara sembarangan.

Dalam petisi yang dapat diakses di www.change.org/LangitBiruJakarta itu, Novita menyebutkan bahwa dalam kualitas udara yang buruk mempengaruhi kesehatan pernapasan, terutama bagi kelompok-kelompok rentan seperti ibu hamil dan lansia, yang dapat memperburuk keadaan dan berpotensi meningkatkan kasus Covid-19 di ibukota.

“Kalau ada satu hal yang kita dapat pelajari dari krisis Covid-19 ini adalah bahwa paru-paru kita penting. Orang-orang dengan paru-paru lemah, akan semakin rentan menjadi korban virus seperti ini,” tulis Novita dalam petisinya.

Atas dasar itu, Novita meminta Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk lebih tegas lagi dalam mengatasi permasalahan udara di ibukota, terutama terkait pembakaran sampah domestik yang masih banyak ditemukan di Jakarta.

“Meskipun Perda No.3 Tahun 2013 sudah mengatur larangan aktivitas pembakaran sampah, namun sayangnya hal tersebut hanya jadi sebatas aturan semata, tidak pernah ada penerapan di lapangan secara nyata,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Novita, aktivitas pembakaran sampah juga turut dilakukan oleh industri dan pada praktiknya, pengawasan dan penindakan terhadap aktivitas ini juga dilakukan secara tidak transparan oleh pemerintah DKI Jakarta.

“Melalui petisi ini, saya meminta Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengambil langkah preventif dalam menanggulangi masalah polusi udara di Jakarta yang disebabkan oleh pembakaran sampah baik oleh masyarakat maupun industri,” tegasnya.

Setelah seminggu petisi ini berjalan ternyata telah menarik perhatian dan dukungan dari sejumlah publik figur diantaranya Addie M.S dan Titi Rajo Bintang.

“Saya sangat senang mendukung petisi ini karena mendorong masyarakat dan seluruh pihak menghentikan pembakaran sampah sembarangan yang dampak buruknya merugikan banyak pihak,” ujar Addie M.S.

Sementara itu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di isu lingkungan, Greenpeace, mengeluarkan rilis terkait kualitas udara Jakarta di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang masih dalam kategori tidak sehat.

“Selama penerapan PSBB, kualitas udara di Jakarta tidak mengalami perbaikan yang signifikan. Terhitung sejak 10 April – 4 Juni 2020, tingkat konsentrasi PM 2.5 berada pada kategori Moderate dan Tidak Sehat untuk Kelompok Sensitif. Bahkan di Jakarta Selatan ada 24 hari tidak sehat,” ujar Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, dalam rilis yang tertuang di laman greenpeace.org.

Menurut Greenpeace, kualitas udara selama masa awal bekerja di rumah, masa PSBB diberlakukan dan Masa Transisi konsentrasi PM 2.5 di DKI Jakarta tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

“Adaptasi kebiasaan baru atau kondisi new normal yang digaungkan pemerintah, hanya terletak pada protokol kesehatannya saja, tapi upaya perbaikan polusi udara dengan menekan dan mengontrol sumber pencemarnya tidak ada yang berubah,” pungkasnya.

*Untuk mengetahui jumlah terakhir penandatangan petisi #LangitBiruJakarta klik di sini 

Kontak Media :

Novita Natalia K – Penggagas Petisi (0877-8273-7358)

Ori Sanri Sidabutar – Associate Campaigner Change.org Indonesia (0877-8433-5149)