Oleh: Dicky Edwin Hindarto dan Kafiuddin *

Akhirnya WHO sebagai lembaga yang mempunyai otoritas dalam menjaga kesehatan penduduk seluruh planet bumi mengeluarkan fatwa bahwa virus corona atau COVID-19  bisa ditularkan melalui udara (airborne) minggu lalu. Hal yang sebenarnya sudah sangat terlambat, karena banyak kasus penularan virus justru banyak terjadi di ruangan AC tertutup secara airborne, termasuk di Indonesia.

Bagi banyak peneliti kesehatan, para ahli HVAC (Heating Ventilating and Air Conditioning), maupun ahli pandemi, penularan virus COVID-19  secara airborne sebenarnya tidak terlalu mengagetkan karena banyak virus yang dapat ditularkan melalui media udara atau airborne.  Virus TBC contohnya, Ebola, atau bahkan influensa, bisa ditularkan melalui perantaraan udara, dan masih ada melayang-layang di udara bahkan setelah pembawa virusnya tidak ada di ruangan.  Virus COVID-19  yang mempunyai ukuran tidak jauh berbeda dengan virus lain, juga bisa melayang di ruangan, terutama ruangan tertutup ber-AC.

Bertahannya virus di ruangan akan sangat tergantung dari jenis virusnya. Virus cacar air misalnya, akan mampu bertahan berhari-hari di dalam ruangan ber-AC.  Dan menurut penelitian banyak ahli, virus COVID-19  ini akan mampu bertahan di dalam ruangan tertutup ber-AC minimal selama 8 jam setelah terlepas dari inangnya.  Dan banyak ahli yang memperhitungkan virus COVID-19 mampu bertahan lebih lama dari itu, bahkan 18 jam.

Bagi pemerintah, pelaku bisnis, dan banyak pihak yang selalu mengandalkan siaran pers, pernyataan, dan kajian WHO sebagai dasar pengambilan keputusan, konfirmasi bahwa virus ini kemudian bisa menular melalui perantaraan udara dan bukan hanya melalui percikan droplets tentu saja kemudian menimbulkan banyak implikasi.  Harus segera dilakukan antisipasi, sehingga apa yang kemudian dipercaya selama ini bahwa virus ini tidak bisa menyebar melalui udara, terutama ruang ber-AC, ternyata sebaliknya, dan bahkan tingkat infeksinya bisa sangat cepat.

Hal ini mungkin juga menjadi salah satu penyebab utama semakin meningkatnya jumlah infeksi yang terjadi di Indonesia, terutama di kota-kota besar, setelah dibukanya kembali bisnis dan perkantoran. Idiom “new normal” yang dipopulerkan pemerintah untuk menjalankan lagi ekonomi dan berkantor serta menjalankan industri lagi, ternyata dibarengi dengan peningkatan jumlah pasien positif COVID-19. Infeksi banyak terjadi karena kemungkinan penyebaran virus melalui media udara diabaikan.

Di mana Airborne Virus COVID-19 Potensial Menyebar?

Virus COVID-19  potensial menyebar secara airborne pada ruang tertutup ber-AC, yaitu antara lain ruangan di dalam rumah tinggal, kendaraan, dan ruangan di bangunan komersial.  Jenis-jenis ruangan tersebut memungkinkan terjadinya penularan melalui media udara serta aerosol dan bukan hanya droplet atau percikan, terutama karena adanya udara yang berputar karena dorongan dari blower AC.

Ruangan AC di dalam rumah tinggal adalah yang paling tidak berisiko untuk terjadinya infeksi dibanding yang lainnya.  Pertama karena di dalam ruangan rumah tinggal semua penghuninya dikenal, termasuk kesehatan dari tiap penghuni.  Kedua, jenis AC split membuat udara hanya bersirkulasi di dalam ruangan itu sendiri yang bersifat individual.

Udara yang masuk ke unit AC split adalah udara yang berbalik (100% udara balik) dari ruangan itu juga dan dihembuskan kembali ke ruangan. Sebaiknya pada ruangan dengan AC split setiap hari diberi kesempatan dibuka ventilasi agar udara segar dapat masuk. Hal ini lebih kepada kebutuhan akan oksigen dalam ruangan. Sepanjang orang-orang di dalam rumah sehat atau tidak membawa virus, maka penghuni akan tetap sehat semua.

Mirip dengan rumah tinggal, kendaraan pribadi ber-AC juga paling tidak berisiko terjadi infeksi, karena penumpang adalah diri sendiri atau orang yang dikenal oleh pengemudi. Sangat berbeda dengan kendaraan umum yang ber-AC, tidak ada jaminan bahwa di dalam satu ruang kendaraan tersebut semua sehat. Bis AC, kereta rel listrik dan kereta jarak jauh, MRT, atau bahkan pesawat udara dan kapal laut, adalah beberapa kendaraan umum yang berpotensi menjadi tempat infeksi COVID-19  secara airborne.

Karena kemampuan virus COVID-19 yang bisa bertahan lebih dari 8 jam, maka dimungkinkan penumpang yang bahkan sudah turun berjam-jam sebelumnya, virusnya masih tertinggal dan beterbangan di ruang AC kendaraan. Terutama apabila tidak ada jendela atau pintu yang terbuka atau AC disetel dan dikondisikan dengan minim fresh air atau udara luar.

Dan yang kemudian akan mempunyai potensi besar menjadi tempat terjadinya penularan virus COVID-19  adalah bangunan komersial, yaitu gedung perkantoran, mal, hotel, apartemen, dan rumah sakit, terutama yang menggunakan AC sentral.  Di dalam bangunan ada banyak orang yang kita tidak tahu kondisi kesehatan sebenarnya. Tindakan pemindaian temperatur tubuh yang biasa dilakukan sebenarnya hanyalah langkah awal dalam meminimalisasi terjadinya penularan, untuk menghindari orang yang memiliki symptom pembawa virus masuk ke dalam gedung.

Di dalam bangunan, AC sentral adalah alat utama kenyamanan ruang yang terdiri dari sistem pendingin dan pengondisian ruang yang terpusat, udara dingin disirkulasikan melalui sistem saluran duct ke AHU (Air Handling Unit) yang kemudian didistribusikan kembali ke seluruh ruangan.  Sistem tata udara atau AC di dalam bangunan komersial adalah sistem yang paling memiliki potensi terhadap penularan.

Dalam sistem AC sentral ini, sebanyak 85%-90% adalah merupakan udara balik dari ruangan itu sendiri, sedang 10-15% merupakan udara segar dari luar ruangan dan semuanya dicampur oleh AHU (Air Handling Unit) untuk didistribusikan ke seluruh penjuru ruangan dan bangunan. Karena AC sentral merupakan sistem berkapasitas besar yang tersambung ke seluruh bangunan dan seluruh lantai di dalam bangunan bertingkat tersebut, maka terbuka kemungkinan terjadinya sebaran virus COVID-19  dari lantai mana saja yang kemudian bersirkulasi ke dalam seluruh bangunan tersebut.

Bagaimana Mengurangi Risiko Terinfeksi Airborne Virus COVID-19?

Cara yang paling utama dan paling efektif adalah dengan tetap di rumah saja.  Atau kalau terpaksa bepergian harus menggunakan kendaraan pribadi dan bukan kendaraan umum ber-AC. Cara ini sebenarnya yang paling efektif dalam mencegah penyebaran virus COVID-19 .  Merebaknya lagi pandemi di Jakarta adalah karena dibukanya lagi kegiatan ekonomi, banyaknya penggunaan kendaraan umum, dan juga meningkatnya aktivitas di bangunan komersial.

Tapi bagaimana kalau terpaksa harus menggunakan kendaraan umum dan malah menjalankan aktivitas di dalam bangunan komersial secara berjam-jam?

Tiga acara utama yang kemudian dianjurkan oleh pemerintah, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan sering mencuci tangan atau membersihkan tangan dengan menggunakan hand sanitizer menjadi syarat mutlak untuk dilakukan. Kendaraan umum ber-AC adalah tempat yang paling sulit untuk menjaga jarak antar penumpang, karena itu penggunaan masker, terutama yang berstandar medis atau bahkan rangkap, harus dipakai selama ada di dalam kendaraan umum.

Pada kendaraan transportasi umum kita perlu lebih waspada, karena kabin penumpang yang relatif kecil, sementara besaran partikel droplet yang lebih besar tentu akan lebih mungkin ikut bersirkulasi dan dihembuskan ke seluruh penjuru ruang, sehingga kemungkinan terisap akan lebih besar. Face shield yang selama ini dipakai tidak akan efektif karena hanya akan menangkal droplets, sehingga harus dilengkapi dengan masker yang sesuai standar.

Pemakaian masker kesehatan atau dengan standar yang lebih tinggi lagi, semacam N95, sangat disarankan apabila memang terpaksa menggunakan transportasi umum. Untuk pesawat terbang dan kereta api, dimungkinkan pemasangan filter khusus untuk mencegah infiltrasi virus.  Sementara optimasi udara segar dari luar atau fresh air harus juga dilakukan.

Sementara infeksi yang terjadi secara airborne di bangunan komersial akan lebih besar kemungkinannya karena waktu tinggal individu lebih lama dibandingkan dengan rata-rata waktu tempuh di transportasi umum. Bangunan komersial yang kemudian paling berisiko menjadi pusat infeksi adalah rumah sakit, yang selain kebanyakan menggunakan AC sentral juga menjadi pusat pengobatan dan penyembuhan dari pasien COVID-19 .

Untuk itu, selain masker yang mutlak tidak boleh dilepas di dalam bangunan komersial dan juga jaga jarak serta cuci tangan, maka berbagai perbaikan dan modifikasi harus dilakukan oleh pengelola bangunan komersial, mulai dari pembatasan jumlah individu di dalam bangunan, pemasangan filter HEPA di sistem chiller bangunan, sampai pada meminimalisasi penggunaan AC, terutama AC sentral.

Hal ini sebenarnya sudah pernah dibahas dan didiskusikan pada webinar yang pernah dilakukan oleh Yayasan Mitra Hijau pada awal April 2020.  Pada saat itu, jauh sebelum WHO mengumumkan kalau virus COVID-19 itu bisa melalui airborne penularannya, para ahli Indonesia bahkan sudah memikirkan pencegahan infeksi virus COVID-19  melalui airborne.

Beberapa Teknik Pencegahan Infeksi Airborne Virus COVID-19  di Bangunan Komersial

Beberapa teknik pencegahan infeksi virus COVID-19  di bangunan komersial secara airborne adalah sebagai berikut.

Meminimalisasi penggunaan AC sentral, yang bisa dilakukan terutama pada wilayah umum seperti lobi utama, ruang pertemuan, atau pun ruang kerja yang memiliki jendela. Pemanfaatan ventilasi alami misalnya bisa diterapkan untuk ruang tunggu di rumah sakit atau di bank.

Mengurangi jam kerja dan jam buka untuk perkantoran dan pusat perbelanjaan, artinya juga mengurangi risiko infeksi.  Selain itu pembatasan jumlah individu atau penghuni gedung akan efektif hasilnya serta para penghuni harus menggunakan masker secara benar.  Hunian dalam bangunan dibatasi sampai maksimal 20 m2 per individu, dari standar kenyamanan bangunan komersial sebelumnya, yaitu 10 m2 per individu.

Bangunan komersial harus membuat perbaikan sistem tata udaranya dengan menambahkan filter. Sistem HVAC harus memenuhi standar, dilakukan perawatan dan pembersihan rutin, serta dilakukan penambahan menggunakan filter HEPA MERV 14 dan UV pada instalasi duct AHU-nya untuk pencegahan infiltrasi virus.

Terdapat beberapa jenis filtrasi yang bisa digunakan dalam sistem HVAC di bangunan komersial, terutama di ruang isolasi di rumah sakit, seperti HEPA filter dan lampu UV. HEPA filter bahkan sistem prafiltrasi, bisa juga kemudian dipakai untuk jenis bangunan komersial lain seperti perkantoran, hotel, dan mal.

Bangunan komersial juga harus dilengkapi dengan sistem exhaust bangunan agar udara dalam terjadi pergantian dan sirkulasi sebanyak minimal 12 kali volume bangunan. Hal ini cukup dilakukan saat selesai jam kantor.

Pengaturan suhu dan kelembaban pada kisaran 50-70% dan suhu ruang yang berkisar 24 (plus minus 2) derajat Celsius. Untuk bangunan komersial non rumah sakit pengaturan suhu dan kelembaban yang mengurangi berkembang biaknya virus ini bisa segera dilakukan, namun untuk rumah sakit akan cenderung sedikit kurang nyaman untuk petugas medis berbaju APD lengkap.

Pengaturan fresh air atau udara segar dari luar bangunan mutlak untuk kemudian dioptimalkan walau pun risikonya adalah meningkatnya penggunaan listrik.  Di rumah sakit bahkan return air atau udara balik ke chiller harus dipastikan bukan berasal dari area yang kemungkinan ada pasien COVID-19 .

Yang kemudian harus dilakukan oleh pemerintah dan semua media adalah mengampanyekan dan menyampaikan kepada masyarakat dan semua pihak terkait tentang cara-cara mengurangi risiko infeksi COVID-19  secara airborne. Dan yang lebih penting lagi adalah penegakan peraturan untuk mencegah semakin meluasnya penularan pandemi di Indonesia.

Teknik pencegahan infeksi di atas tidak bisa menjamin 100% tidak terjadinya infeksi yang disebabkan oleh penularan virus COVID-19  secara airborne. Penularan secara airborne pada ruangan tertutup ber-AC ini hanya bisa diminimalisasi dan hanya bisa dicegah apabila tidak ada pembawa virus di dalam ruangan, atau tidak ada individu sehat yang bisa tertular.

Dan semua teknik pencegahan di atas juga akan sangat tergantung pada tingkat kepatuhan individu dalam menjalankan protokol kesehatan, melakukan perbaikan sistem HVAC, maupun terutama mengurangi aktivitas yang berisiko terjadinya penularan COVID-19 .  Tidak kalah penting adalah selalu menjaga kesehatan dan imunitas tubuh.

Pada akhirnya kalau semua usaha sudah dilakukan, maka hasil akhirnya bukan lagi kita yang menentukan, tapi Sang Pemilik Hidup kita.

–##–

* Dicky Edwin Hindarto adalah praktisi masalah energi dan Kafiuddin adalah praktisi masalah HVAC (Heating Ventilating and Air Conditioning).