Oleh: Jalal *

Yet, until the tobacco industry is required to internalize its social and environmental harms, citizens, governments, future generations, and the earth are subsidizing the profits these companies reap.

Yogi Hendlin dan Stella Bialous (2019)

Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2020, yang jatuh pada tanggal 31 Mei, mengambil tema “melindungi kaum muda dari manipulasi industri dan mencegah mereka dari penggunaan tembakau dan nikotin” tak bisa datang lebih tepat waktu lagi.  Sudah terlampau lama industri rokok dibiarkan bahkan difasilitasi untuk mendapatkan pelanggan baru, yaitu anak-anak dan pemuda, agar industri ini bisa terus-menerus hidup dan memperoleh keuntungan.

Dilihat dari Indonesia, seluruh manipulasi industri rokok itu masih dan bahkan semakin kerap ditemukan.  Akibatnya sangat jelas: ketika di seluruh dunia prevalensi perokok turun, di negeri ini prevalensi itu terus meningkat.  Walaupun Pemerintah Republik Indonesia punya target formal penurunan prevalensi perokok, tak ada upaya berarti yang dilakukan untuk mencegah manipulasi itu. Upaya peningkatan kesadaran atas bahaya rokok tentu saja banyak dilakukan, tetapi itu semua seakan tak ada artinya di hadapan kekuatan modal besar dari industri.

Anak-anak dan Pemuda sebagai Sasaran

Mengapa industri rokok menyasar anak-anak dan pemuda?  Jawabannya sangat mudah dinalar. Konsumen mereka mengalami sakit dan meninggal gegara konsumsi produk itu.  Di Indonesia, dari 1,6 juta kematian di tahun lalu, 240.000 di antaranya disebabkan karena penyakit terkait rokok.  Jumlah perokok yang sakit berat lalu berhenti jelas berkali-kali lipat dari angka kematian itu.  Kalau industri rokok tidak melakukan tindakan untuk meregenerasi pelanggannya, maka industri ini akan kehabisan pembeli.

Beberapa penelitian di tingkat global sudah menunjukkan bahwa ada penyesalan hampir universal di kalangan perokok. Penyesalan itu bukan cuma ketika perokok atau mantan perokok meregang nyawa dengan penyakitnya, melainkan juga jauh sebelum itu.  Sakit berat yang membuat banyak perokok kehilangan pendapatan dan membayar ongkos berobat yang besar, ataupun sekadar sakit ringan yang membuat kenyamanan terganggu telah dilaporkan oleh para perokok sendiri sebagai motivasi untuk berhenti.

Tetapi, sebagaimana yang diungkapkan ilmu pengetahuan, berhenti merokok itu bukan proses yang mudah.  Nikotin membuat orang kecanduan, sehingga berhenti merokok itu membutuhkan perjuangan dan pada banyak kasus hanya bisa dilakukan dengan dukungan dan bantuan pihak lain.  Itulah mengapa di antara perokok yang sudah sakit berulang sekalipun, keberhasilan berhenti merokok itu jauh di bawah yang mereka sendiri harapkan.

Kalau penyesalan di antara konsumennya bersifat hampir universal, dan nikotin hanya bekerja mencegah orang untuk berhenti, tentu saja industri rokok perlu mencari cara untuk mendapatkan pelanggan-pelanggan baru, yang mau mencoba produknya lalu menjadi kecanduan.  Dokumen internal industri rokok atau pernyataan eksekutif mereka sendiri menunjukkan hal tersebut.

Di tahun 1973, perusahaan RJR menuliskan dalam memorandum untuk riset mereka, “Realistically, if our Company is to survive and prosper, over the long term, we must get our share of the youth market. In my opinion, this will require new brands tailored to the youth market.” Sembilan tahun kemudian, sebuah laporan Philip Morris menyatakan “Today’s teenager is tomorrow’s potential regular customer, and the overwhelming majority of smokers first begin to smoke while still in their teens… The smoking patterns of teenagers are particularly important to Philip Morris.

Menjerat Indonesia

Apakah itu cuma berlaku di luar Indonesia dan di masa lalu?  Tidak.  Di dalam film dokumenter tahun 2011, Sex, Lies and Cigarettes, Anne Edwards, seorang eksekutif Philip Morris menyatakan “If we stop selling cigarettes here (Indonesia) someone else is going to do it instead.”  Padahal, dia menyadari bahwa produk yang dijualnya itu memiliki dampak buruk.  Di film yang sama, dia berkomentar, “There is no doubt tobacco is a very harmful product that’s addictive and it kills people…it’s very, very sad that people do get sick from smoking.”  Bahkan, secara terbuka dia menyatakan bahwa seharusnya produk itu dilarang dijual.  “What I think is clear is if someone came to us with a cigarette today and said, hey, here is a new product, I’m going to bring it to market. Would it be allowed in the market anywhere? No, it would not. It is a very harmful product.”

Tetapi industri rokok terus menjual produknya di Indonesia.  Uang yang mereka gelontorkan untuk membuat dan menyebarluaskan iklan luar biasa besar.  Mereka mensponsori beragam acara dan menampilkan mereknya di acara-acara itu.  Pilihan mereka atas acara olahraga dan musik sangat jelas dipikirkan untuk menggaet kaum muda.  Sekolah-sekolah di Indonesia dikepung oleh warung dan kantin yang menjual rokok dengan tenda, spanduk dan baliho yang mengiklankan puluhan merek rokok.  Dan, agar anak-anak bisa membelinya, rokok terus diperdagangkan secara ketengan hingga sekarang.

Mungkin tidak perlu penelitian mendalam untuk tahu bahwa anak-anak dan pemuda yang dikelilingi oleh iklan, promosi dan sponsorship perusahaan rokok akan jatuh ke dalam jebakan itu.  Tetapi, buat yang mau mencari hasil-hasil penelitian, jumlahnya juga sangat banyak.  Anak-anak dan pemuda punya rasa ingin tahu yang besar, dan keingintahuan itu bisa diarahkan ke hal positif maupun negatif.  Anak-anak dan pemuda yang merokok sendiri banyak yang mengakui bahwa ketertarikan mereka untuk mencoba memang datang dari iklan, promosi dan sponsorhip.  Kesan keren, ‘gaul’, sukses, dan maskulin yang diprojeksikan oleh iklan rokok benar-benar membuat mereka terpancing, mencobanya, lalu terjerat candu nikotin.

Bukan Sekadar Dampak Kesehatan

Kalau dampak kesehatan dari konsumsi rokok sudah banyak diketahui—walau oleh cukup banyak pendusta tetap disangkal—dampak dari produksi dan konsumsi lainnya masih kurang diungkapkan.  Studi life cycle assessment atas produksi dan konsumsi rokok yang banyak dilakukan sejak sekitar tiga tahun lampau telah mengungkap dampak lingkungan yang sangat besar dari deforestasi dan degradasi lahan untuk budidaya tembakau hingga pencemaran jangka panjang dari filter rokok yang sebagian besarnya dibuang ke alam.  Para pakar seperti Hendlin dan Bialous, yang pernyataannya dikutip di awal tulisan ini, telah menyerukan kepada pemerintahan untuk menerapkan extended producer responsibility kepada perusahaan rokok lantaran besarnya dampak negatif lingkungan dari industri ini.

Dari sudut pandang sosial, beragam pelanggaran HAM yang dilakukan oleh industri ini telah banyak diungkapkan.  Mulai dari ditemukannya pemanfaatan tenaga kerja anak di kebun-kebun tembakau, tekanan kesejahteraan kepada para petani tembakau, hingga pelanggaran atas hak atas kesehatan untuk semua orang telah dituliskan di banyak laporan.  Tahun 2017 The Danish Institute for Human Rights melaporkan hasil penilaian mereka yang menggunakan UN Guiding Principles on Business and Human Rights.  Hasilnya? “According to the UNGPs companies should avoid causing or contributing to adverse impacts on human rights. Where such impacts occur, companies should immediately cease the actions that cause or contribute to the impacts. Tobacco is deeply harmful to human health, and there can be no doubt that the production and marketing of tobacco is irreconcilable with the human right to health. For the tobacco industry, the UNGPs therefore require the cessation of the production and marketing of tobacco.

Beragam studi juga telah menempatkan konsumsi rokok sebagai penyebab kemiskinan dan hambatan atas pengentasan kaum miskin.  Di Indonesia, setiap kuartal BPS menyatakan bahwa konsumsi rokok adalah penyumbang kemiskinan.  Kalau bertahun-tahun belanja rokok hanya dikalahkan oleh belanja makanan jadi dan beras, beberapa minggu lalu BPS mengeluarkan data baru yang menyatakan bahwa konsumsi rokok secara rerata telah mengalahkan konsumsi beras.  Survei Sosial Ekonomi Nasional yang diselenggarakan tahun lalu menemukan bahwa konsumsi rokok rerata rumah tangga Indonesia itu setara dengan penjumlahan konsumsi telur, susu dan sayuran.  Rokok memang menggusur pemenuhan nutrisi di banyak rumah tangga.

Dampak dari penggusuran nutrisi itu sangatlah mencemaskan.  Anak-anak di Indonesia menjadi lebih rendah modal awalnya dibandingkan dengan anak-anak negara lain.  Kalau kemudian di masa anak-anak atau pemuda mereka mulai merokok, modal tersebut terus terkikis.  Satu dekade lampau sebuah penelitian di Isreal menemukan bahwa di antara pemuda berusia 18-21 tahun yang tidak merokok rerata IQ-nya adalah 101.  Mereka yang merokok memiliki rerata IQ 94, dan mereka yang merokok di atas 1 bungkus per hari reratanya hanya 90.

Memilih Pembangunan Berkelanjutan

Seluruh hal yang diungkapkan itu menunjukkan bahwa produksi dan konsumsi rokok benar-benar bertentangan secara diametrikal dengan pembangunan berkelanjutan.  Kalau Indonesia ingin benar-benar mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di tahun 2030, maka produksi dan konsumsi rokok harus benar-benar dikendalikan.  Tak ada pilihan lain.

Dari sisi produksi, penerapan polluter pays principle yang telah digariskan di dalam UU PPLH sejak lebih dari satu dekade lampau seharusnya ditegakkan untuk industri ini.  Pemerintah yang keteteran mengurus limbah rokok seharusnya tak ragu menerapkan extended producer responsibility terhadap industri ini, mengingat dasar hukumnya juga sudah ada.  Dan, untuk mengendalikan konsumsi, berbagai instrumen yang sudah diketahui efektif berdasarkan ilmu pengetahuan juga harus diterapkan.  Cukai atau pajak dosa perlu diterapkan dengan sungguh-sungguh, dengan menghitung besaran kerusakan total yang ditimbulkan oleh industri rokok.  Iklan, promosi dan sponsorship—yang jelas-jelas memanipuasi anak-anak dan pemuda—juga harus dilarang sepenuhnya, seperti di negara-negara beradab.

Krisis COVID-19 ini jelas memberikan dampak negatif pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.  Walau secara sementara tampak kondisi lingkungan, terutama terkait emisi gas rumah kaca, membaik, namun tujuan-tujuan ekonomi dan sosial mengalami kemunduran yang signifikan.  Beban yang berat ini seharusnya memotivasi para pendukung pembangunan berkelanjutan untuk melihat secara saksama apa saja yang seharusnya dikendalikan dan dipromosikan dalam kerangka build back better.  Di antara banyak hal lain, produksi dan konsumsi rokok jelas adalah yang harus dikendalikan dengan ketat, dan kesehatan universal adalah yang harus dipromosikan dengan sungguh-sungguh.

–##–

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; penasihat keuangan berkelanjutan di Transformasi untuk Keadilan Indonesia; anggota dewan pengurus Komnas Pengendalian Tembakau; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA. Ia juga salah seorang deklarator Poros Hijau Indonesia dan Co-founder – ESG Indonesia.