31 Oktober 2019, Medan, Indonesia – Pemerintah Nasional dan Daerah, pihak swasta, perwakilan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan organisasi masyarakat berkumpul di Kota Medan dalam lokakarya dua hari yang membahas pengembangan ekonomi dan manajemen sumber daya alam di provinsi Sumatera Utara dan Aceh. Lokakarya ini merupakan inisiatif dari Koalisi untuk Kesejahteraan Berkelanjutan (Coalition for Sustainable Livelihoods), sekelompok organisasi pemberdayaan masyarakat dan sektor swasta yang bekerja sama dengan pemerintah untuk memajukan pembangunan berkelanjutan di kawasan ini.

“Tanggung jawab dan tindakan perusahaan sangat penting. Banyak perusahaan membuat perbaikan tetapi mereka tidak dapat membuat perubahan yang diperlukan dengan bertindak sendiri. Pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil semuanya memiliki aspirasi yang sama untuk kawasan ini, yaitu pembangunan ekonomi, peningkatan taraf hidup dan lingkungan yang sehat. Untuk mencapai itu, kita perlu bertindak secara kolektif,” demikian ungkap Ketut Sarjana Putra, Vice President Conservation International Indonesia.

Pada pembukaan acara, H. Musa Rajekshah, Wakil Gubernur Sumatera Utara mengatakan, “Upaya menjaga hutan yang sedang dikerjakan saat ini juga harus menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Hutan dan alam bukan hanya untuk kehidupan kita sekarang tetapi juga untuk anak cucu nantiny. Pengelolaan ruang harus berdasarkan kepada sensitivitas ekologi dan sosial menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan pembangunan.”

Menurut Nassat Idris, Direktur Senior Program Terrestrial Conservation International Indonesia, Provinsi Sumatera Utara dan Aceh adalah daerah produksi kritis untuk komoditas utama seperti kelapa sawit, coklat, kopi, karet, dan kayu—tanaman yang sangat penting bagi perekonomian lokal dan mata pencaharian jutaan petani. Wilayah ini juga menampung sumber daya alam yang luas, termasuk hutan yang menjadi andalan masyarakat untuk air tawar, stabilitas iklim, dan pengurangan risiko banjir dan tanah longsor yang dalam beberapa kasus dipicu oleh deforestasi.

Rata-rata produktivitas kelapa sawit oleh produsen kecil di Sumatera Utara dan Aceh adalah 35% di bawah tingkat hasil yang dicapai oleh perkebunan perusahaan di provinsi yang sama, demikian temuan dari Koalisi. “Oleh karena itu, meningkatkan produktivitas petani kecil di kawasan ini dengan praktek pertanian lestari merupakan strategi utama dalam memperkuat kesejahteraaan petani yang menjadi salah satu tema utama dari lokakarya ini,” kata Nassat.

Sejalan dengan itu, Mamat Rahmat, Kasubdit Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi KSDAE, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menambahkan bahwa, “Pada prinsipnya, konservasi tidak bisa dipisahkan dari pembangunan berkelanjutan dan kehidupan manusia. Untuk itu, upayanya pun tak bisa hanya dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, melainkan semua elemen harus telibat. Manusia akan selalu membutuhkan alam,”

Pendapat juga datang Julhadi Siregar, ketua kelompok tani, Tapanuli Selatan, “Pertemuan ini memberikan peluang penting bagi orang-orang seperti saya untuk berbicara tentang apa yang terjadi di kampung dan kebun kami. Bantuan yang kita butuhkan dari pemerintah dan perusahaan untuk meningkatkan produksi kehidupan yang lebih layak.”

Olivier Tichit, Direktur rantai pasokan berkelanjutan Musim Mas mengutarakan, “Inisiatif dari CSL ini juga bisa digambarkan untuk mendekatkan petani dan pasar. Petani memerlukan lingkungan yang sehat terutama bagi tanaman seperti karet, kopi, kelapa sawit dan lainnya agar produksi nya baik. Di sisi lain, pasar juga harus memahami kondisi petani dan juga kebijakan pemerintah.”

Hasil tambahan dari pertemuan dua hari ini, termasuk:

• Rencana Aksi Bersama yang disempurnakan untuk peningkatan kapasitas petani, memperkuat tata kelola hutan, membangun kapasitas dan memulihkan hutan untuk inisiatif tingkat kabupaten diawali di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dan Kabupaten Aceh Tamiang di Aceh.
• Garis besar untuk keseluruhan kelembagaan, struktur dan kriteria keanggotaan Koalisi.
• Kerangka kerja untuk mengidentifikasi lokasi proyek dan mengukur kemajuan inisiatif berdasarkan matriks Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDGs/ Sustainable Development Goals).
• Penguatan visi Koalisi untuk secara kolaboratif menghasilkan investasi dan kemitraan publik-swasta yang diperlukan mendukung rencana aksi pemerintah untuk mengurangi kemiskinan, mendorong pembangunan ekonomi dan melestarikan alam yang diandalkan daerah ini untuk kesejahteraannya.

Lokakarya ini adalah yang kedua yang diadakan oleh Koalisi untuk Kesejahteraan Berkelanjutan (CSL) sejak diluncurkan pada 2018. Organisasi-organisasi yang tertarik untuk bergabung dengan Koalisi atau belajar lebih banyak dapat mengunjungi Conservation.org/CSL.

Pengembangan Koalisi dan organisasi lokakarya telah didukung oleh Barry Calllebaut, Conservation International, Danone, Earthworm Foundation, IDH, Dana Penghidupan, Mars, International Mondelēz, PepsiCo, UNDP, Unilever, dan Walmart Foundation.

–##–

Hetty Tambunan
North Sumatra Communication and Outreach Coordinator
Conservation International Indonesia
E-mail: htambunan@conservation.org
Phone: +62812.603.1984