Perjanjian Paris terancam gagal mencegah kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat Celcius. Walau semua negara memenuhi tekad mereka untuk memangkas emisi gas rumah kaca (GRK) sesuai Perjanjian Paris, suhu bumi diperkirakan akan naik antara 2,9-3,4 derajat Celcius pada akhir abad ini (2100).

Peringatan ini disampaikan oleh lembaga lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UN Environment, dalam laporan tahunan berjudul “Emissions Gap Report” yang dirilis Kamis, 3 November. Menurut laporan UN Environment, walau tekad pemangkasan emisi GRK sesuai Perjanjian Paris bisa terwujud, polusi gas rumah kaca akan menembus level 54-56 gigaton (Gt) emisi setara CO2 pada 2030.

Level ini 12-14 gigaton lebih tinggi dibanding batas emisi yang disyaratkan untuk menahan kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat Celcius pada akhir abad ini yaitu sebesar 42 gigaton. Satu gigaton emisi setara dengan jumlah polusi di sektor transportasi negara-negara anggota Uni Eropa (termasuk transportasi udara) selama satu tahun.

Negara yang telah meratifikasi Perjanjian Paris memiliki tekad pemangkasan emisi gas rumah kaca yang disebut “nationally determined contribution” (NDC). Para ilmuwan sepakat, emisi gas rumah kaca adalah penyebab pemanasan global dan perubahan iklim. Membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat Celcius pada akhir abad ini adalah solusi untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem seperti badai, kekeringan yang berkepanjangan, hujan dan banjir ekstrem. Fenomena cuaca ekstrem, menurut UN Environment, hanya bisa dikurangi walau dunia berhasil mencapai target kenaikan suhu bumi di bawah 1.5 derajat Celcius.

UN Environment menyerukan pemangkasan emisi gas rumah kaca 25% lebih tinggi guna mencegah dampak serius dari perubahan iklim. Tahun 2015 telah menjadi tahun terpanas sejak sistem pencatatan suhu bumi modern dimulai. Tren ini berlanjut hingga enam bulan pertama 2016. Jumlah polusi gas rumah kaca juga terus bertambah.

Menurut UN Environment, dunia memiliki peluang untuk memangkas emisi lebih besar melalui berbagai aksi. Amandemen Protokol Montreal misalnya, jika diberlakukan secara penuh, menurut UN Environment berpotensi mencegah kenaikan suhu bumi sebesar 0,5 derajat Celcius melalui pengurangan emisi HFC. Aktor-aktor non-negara seperti perusahaan, organisasi dan komunitas juga bisa membantu mengurangi emisi beberapa gigaton melalui aksi di sektor pertanian dan transportasi.

Solusi lain: investasi efisiensi energi naik 6% menjadi US$221 miliar pada 2015, menunjukkan upaya ini sudah berjalan. Menurut UN Environment, di sektor bangunan, aksi efisiensi energi berpotensi mengurangi emisi sebesar 5,9 gigaton. Aksi efisiensi di sektor industri berpotensi mengurangi emisi sebesar 4,1 gigaton dan transportasi sebesar 2,1 gigaton pada 2030.

Semua aksi tersebut juga menjadi bagian dari upaya pencapaian target pembangunan berkelanjutan atau SDGs (sustainable development goals). Sehingga, menurut UN Environment, menggabungkan aksi perubahan iklim melalui Perjanjian Paris dan SDGs akan menentukan keberhasilan pembangunan dunia paska 2030.

Redaksi Hijauku.com