Car refill transportation transport - Skitterphoto - pexelsIntensitas energi dunia meningkat, tapi masih jauh di bawah target perubahan iklim. Negara-negara dunia semakin efisien menggunakan energi. Intensitas energi dunia – rasio energi yang diperlukan untuk menghasilkan setiap unit Produk Domestik Bruto – naik menjadi 1,8% pada 2015.

Hal ini terungkap dari laporan IEA (International Energy Agency) yang dirilis, Senin, 10 Oktober. Kenaikan intensitas energi juga berarti, dunia memerlukan lebih sedikit energi untuk bertumbuh. Kenaikan ini melampaui tingkat intensitas energi pada 2014 yang 1,5% dan tiga kali lipat di atas rata-rata intensitas energi dalam 10 tahun terakhir.

Peningkatan efisiensi energi ini terutama dipimpin oleh China dan negara-negara berkembang. Yang cukup mengesankan, kenaikan efisiensi energi terjadi saat kondisi harga energi rendah. Namun, menurut IEA, dunia masih perlu terus meningkatkan efisiensi energi guna mencapai target perubahan iklim.

Melalui Perjanjian Paris yang akan diberlakukan pada tanggal 4 November nanti, dunia bertekad memangkas emisi gas rumah kaca guna menekan kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat Celcius. Pembakaran energi berbahan bakar fosil menyumbang 55% polusi GRK dunia. Guna memastikan dunia tetap berada di jalan yang tepat menuju penggunaan energi yang rendah karbon, intensitas energi harus naik menjadi setidaknya 2,6% per tahun.

Banyak aksi yang bisa dilakukan dari level individu hingga level manufaktur. Meningkatkan standar efisiensi bahan bakar mobil misalnya, menurut IEA bisa menghemat 2,3 juta barel minyak pada 2015 atau 2,5% dari pasokan minyak dunia.

Standar efisiensi saat ini sudah mengatur 30% jenis penggunaan energi global naik dari hanya 11% pada 2000. Dengan menerapkan standar efisiensi energi negara-negara IEA berhassil menghemat biaya energi $540 miliar sejak 2000 hingga 2015.

Tingkat intensitas energi China misalnya, saat ini telah mencapai 5,6% – naik dari 3,6% sepuluh tahun lalu – didorong oleh aksi efisiensi energi, tekad mereka beralih ke energi bersih dan energi terbarukan serta memerangi polusi. Permintaan energi primer China hanya naik 0,9% pada 2015, terendah sejak 1997, sementara ekonomi mereka tumbuh 6.9%. Tanpa aksi China, intensitas energi dunia hanya aka mencapai 1,4% pada 2015. Sebanyak 80% konsumsi energi dunia berasal dari bahan bakar fosil dengan jumlah emisi mencapai 32,3 Giga ton (Gt) pada 2014.

Redaksi Hijauku.com