Rooftop solar panels - ICMA - FlickrKota harus menjadi pusat upaya pengurangan emisi gas rumah kaca. Mengurangi emisi di sektor transportasi dan bangunan adalah kunci pencapai target Perjanjian Paris. Kesimpulan ini terungkap dari laporan International Energy Agency (IEA) yang dirilis awal Juni lalu.

Menurut perkiraan IEA, kota menyumbang dua pertiga permintaan energi dunia dan menjadi sumber dari 70% emisi karbon dari sektor energi. Setidaknya dua pertiga permintaan energi dunia berasal dari kota-kota di negara maju baru dan negara berkembang pada 2050. Dari saat ini hingga 2050, 40% bangunan baru akan didirikan di perkotaan. Jumlah perjalanan yang dilakukan oleh masyarakat di perkotaan di seluruh dunia juga akan naik 85%.

Tanpa perubahan kebijakan yang ada saat ini, tren di atas akan melipatgandakan emisi CO2 dari permintaan energi. Peluang muncul dari pertumbuhan wilayah perkotaan yang saat ini belum terwujud 100%. Kota bisa mengurangi permintaan energi sekaligus polusi dengan membangun akses ke energi modern dan bersih.

Sebagai contoh panel surya yang di pasang di atap bangunan di perkotaan, menurut IEA berpotensi memasok sepertiga dari permintaan energi di perkotaan pada 2050. Penggunaan panel surya ini akan diikuti dengan permintaan teknologi efisien energi lain seperti jendela dan alat-alat rumah tangga yang hemat energi, tak terkecuali alat transportasi yang hemat energi. Penggunaan moda transportasi publik dan mobil listrik akan mampu mengurangi investasi di sektor transportasi sebesar US$20 triliun.

Redaksi Hijauku.com