Jungle - Stokpic - PixabayIndonesia memerlukan investasi US$600 juta per tahun guna memertahankan tutupan hutan. Aksi ini penting bagi perekonomian dan mata pencaharian penduduk lokal.

Hal ini terungkap dari hasil penelitian Perserikatan Bangsa Bangsa terbaru yang dirilis Rabu, 8 Juli 2015. Penelitian berjudul “Forest Ecosystem Valuation Study: Indonesia ” ini menyatakan, dana tersebut diperlukan untuk menjaga fungsi jasa lingkungan hutan yang penting bagi perekonomian nasional.

Program pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Lahan atau REDD+ akan berfungsi sebagai katalis bagi rehabilitasi hutan dan jasa lingkungan kehutanan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, meluncurkan laporan ini secara langsung di Jakarta.

Menurut Direktur Eksekutif Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Achim Steiner, hutan tropis Indonesia merupakan hutan terbesar ketiga di dunia. Hutan di Indonesia tidak hanya penting bagi mitigasi perubahan iklim dalam skala nasional dan global, namun juga membantu Indonesia melakukan transisi menuju ekonomi hijau.

Pada level provinsi, hutan penting sebagai sumber nutrisi dan air bersih yang sangat membantu perekonomian penduduk yang tinggal di sekitar hutan.

Salah satu mekanisme yang bisa diterapkan adalah pengelolaan hutan berbasis komunitas. Sebagai informasi, Indonesia saat ini sudah memiliki program hutan kemasyarakatan (HKm) sebagai bentuk kegiatan pengelolaan hutan berbasis komunitas.

Program REDD+, menurut laporan ini bisa berperan penting dalam menyediakan sumber pendapatan alternatif bagi komunitas melalui skema jasa lingkungan.

Jasa lingkungan menurut PBB merupakan komponen terbesar dari pendapatan rumah tangga bagi masyarakat miskin yang hidup di sekitar hutan. Penelitian di Kenya, Tanzania dan Panama menunjukkan, kerugian dari deforestasi jauh lebih tinggi dibandingkan manfaatnya.

Hutan menjadi sumber mata pencaharian utama di wilayah-wilayah terpencil dan menjadi panyokong sektor ekonomi yang lain. Sebagai contoh, hasil penelitian di Nusa Tenggara Timur menunjukkan pentingnya hutan dalam menjaga produktivitas pertanian dan sumber lapangan kerja. Sebanyak 80% penduduk NTT bekerja di sektor pertanian.

Menurut UNEP, Penelitian Valuasi Ekosistem Hutan (Forest Ecosystem Valuation Study) bisa menjadi awal dalam memahami peran jasa lingkungan hutan di Indonesia. Penelitian ini sekaligus menjadi dasar penelitian-penelitian selanjutnya – baik kualitatif maupun kuantitatif – mengenai dampak perusahaan tutupan hutan secara sosial dan ekonomi.

Redaksi Hijauku.com