Wind turbine - Brian Robert Marshall - Geograph (500x375)Dana $2,5 triliun akan diinvestasikan di energi baru dan terbarukan di Asia Pasifik guna memenuhi kebutuhan energi pada 2030.

Energi angin dan surya menyumbang hampir separuh dari total 2,7 Tera Watt (TW) kapasitas energi baru di wilayah ini.

Hal ini terungkap dari laporan Bloomberg New Energy Finance (BNEF) yang dirilis pada awal Juli. Didorong oleh biaya energi baru dan terbarukan yang semakin kompetitif, total bauran energi baru dan terbarukan akan mencapai 63% (1,7TW) pada 2030.

Menurut BNEF, wilayah Asia Pasifik secara total akan menginvestasikan dana sebesar $3,6 triliun dalam 15 tahun ke depan guna memenuhi kebutuhan energi pada 2030. Dua per tiga investasi ini masuk dalam teknologi energi baru dan terbarukan seperti angin, surya, pembangkit tenaga air dsb.

Menurut analis BNEF, Milo Sjardin, pertumbuhan energi surya akan mendominasi bauran EBT di Asia Pasifik dengan kapasitas mencapai 800 Giga Watt (GW) pada 2030. “Pendorongnya adalah alasan ekonomi bukan subsidi. Analisis kami menunjukkan, energi surya akan menjadi sangat kompetitif dibanding energi lain pada 2020, hanya enam tahun dari sekarang,” ujarnya.

Dominasi EBT di Asia Pasifik merupakan cerminan tren global dimana dunia akan menginvestasikan dana sebesar $7,7 triliun pada 2030. Sebanyak 66% dari investasi ini akan masuk ke teknologi EBT termasuk di pembangkit listrik tenaga air.

Namun bukan berarti ancaman polusi dari bahan bakar fosil akan berhenti. BNEF memerkirakan peningkatan emisi di Asia Pasifik akan terus terjadi akibat terus naiknya kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara sebesar 434 Giga Watt (GW) dan sebesar 314 Giga Watt di gas. Bahan bakar fosil akan terus menjadi sumber energi utama dunia dengan bauran sebesar 44% pada 2030, turun dari 64% di 2013.

Redaksi Hijauku.com