Deforestation - Wikimedia CommonsMencegah penggundulan hutan atau deforestasi saja tidak cukup untuk menjaga fungsi hutan sebagai penyimpan karbon. Hal ini terungkap dari hasil kajian dari tim peneliti lintas negara yang diterbitkan dalam Wiley Online Library baru-baru ini.

Menurut tim peneliti, selama ini, upaya konservasi hutan, penelitian, kebijakan dan aksi mitigasi perubahan iklim lebih banyak berfokus pada upaya mengatasi deforestasi. Padahal setiap tahun aksi penebangan selektif, kebakaran lahan (understory fires) dan kerusakan habitat mengganggu fungsi hutan sebagai penyimpanan karbon.

Tim peneliti kemudian melakukan kajian lapangan terbesar sepanjang sejarah untuk mengetahui dampak dari gangguan manusia ini terhadap simpanan karbon di atas permukaan maupun di dalam tanah di hutan-hutan tropis.

Hasilnya, menurut tim peneliti, tanaman dan pepohonan yang menjadi lokasi penyimpanan karbon terbesar, sangat sensitif terhadap gangguan manusia.

Lokasi hutan yang mengalami penebangan selektif dan kebakaran lahan rata-rata memiliki simpanan karbon di atas permukaan tanah 40% lebih sedikit dibanding hutan primer (hutan alami) yang tidak diganggu oleh aktivitas manusia.

Tim peneliti dari Inggris, Brasil dan Swedia menyatakan bahwa hutan yang telah mendapatkan gangguan manusia tersebut secara struktur lebih mirip dengan hutan sekunder. Hutan sekunder adalah hutan yang tumbuh alami setelah mengalami penebangan atau kerusakan.

Kedalaman tanah juga berpengaruh terhadap kapasitas penyimpanan karbon di atas permukaan tanah di hutan yang sudah dirusak. Menurut tim peneliti, tanah hingga kedalaman 30 cm tidak terlalu terdampak oleh pembalakan dan kebakaran hutan.

Karbon yang hilang akibat ulah manusia dan emisi yang menyertainya belum banyak dihitung dalam kapasitas penyimpanan emisi gas rumah kaca, padahal emisi tersebut bisa mencapai 40% dari jumlah total karbon yang hilang dari deforestasi dalam wilayah tersebut.

Tim peneliti menyimpulkan, program konservasi yang ditujukan untuk menjamin kemampuan hutan menyimpan karbon dalam jangka panjang, seperti REDD+, tidak akan maksimal kecuali pemerintah atau negara bisa mencegah deforestasi juga degradasi hutan/lahan, termasuk penebangan selektif, kebakaran hutan dan kerusakan habitat.

Redaksi Hijauku.com