Deerfire - Wikimedia Commons (500x309)Daripada merugi lebih baik berinvestasi mengurangi risiko iklim dan membuat negara-negara di Eropa lebih kompetitif.

Tanpa adanya aksi, kenaikan suhu bumi diperkirakan mencapai 3,5°C, dengan nilai kerusakan akibat krisis iklim mencapai setidaknya €190 miliar ($260 miliar) atau 1,8% dari produk domestik bruto Eropa.

Hal ini terungkap dari hasil penelitian terbaru oleh Joint Research Centre, lembaga ilmu pengetahuan di bawah Komisi Eropa. Frekuensi kejadian iklim ekstrem, menurut JRC, akan berlipat ganda. Sebagai konsekuensinya, kematian yang terkait dengan suhu (panas maupun dingin) bisa mencapai 200.000 jiwa. Kerugian akibat banjir bisa melampaui €10 miliar (13,63 miliar) dan ancaman kebakaran hutan seluas 8000 km2 akan melanda wilayah bagian selatan Eropa.

Jumlah penduduk yang terdampak kekeringan, menurut JRC akan meningkat tujuh kali lipat dan risiko kerusakan wilayah pesisir, akibat kenaikan air laut, bisa naik lebih dari tiga kali lipat. Perhitungan kerugian ekonomi ini didasarkan atas skenario perubahan iklim pada akhir abad ini (sekitar 2080-an), diterapkan pada kondisi ekonomi dan jumlah penduduk saat ini.

JRC melakukan penelitian dampak perubahan iklim di 9 sektor yang berbeda: pertanian, risiko banjir dari sungai, kawasan pesisir, wisata, energi, kekeringan, kebakaran hutan, infrastruktur transportasi dan kesehatan manusia.

Menurut Komisioner Eropa, Connie Hedegaard, tanpa adanya aksi, kerugian yang dialami Eropa akibat krisis iklim akan sangat besar. “Jika kita tidak beraksi, ini akan jadi ‘solusi’ paling mahal dari semua solusi,” tuturnya. “Daripada merugi akibat kerusakan, lebih baik kita berinvestasi untuk mengurangi risiko iklim dan membuat negara-negara di Eropa lebih kompetitif,” tambahnya lagi.

Menurut data JRC, kematian prematur menyumbang lebih dari separuh kerugian/hilangnya kesejahteraan akibat krisis iklim dengan nilai €120 miliar (163 miliar), diikuti oleh kerugian yang dialami oleh wilayah pesisir (€42 miliar) dan pertanian (€18 miliar).

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia sudah seharusnya memerhitungkan strategi pembangunan mendatang dengan mengantisipasi risiko dan kerugian akibat krisis iklim. Sebanyak 80% bencana yang dialami Indonesia menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana adalah bencana hidrometeorologis. Mari terus beraksi atasi krisis iklim.

Redaksi Hijauku.com