Green turtle swimming over coral reefs in Kona - Wikimedia Commons (500x375)Negara kepulauan menghadapi risiko empat kali lebih besar akibat kenaikan air laut dibanding rata-rata negara lain dunia. Kerugian yang diderita oleh negara berkembang kepulauan kecil (Small Island Developing States/SIDS) mencapai triliunan dolar. Hal ini terungkap dari berita Program Lingkungan PBB (UNEP) yang dirilis baru-baru ini.

Di semua negara berkembang kepulauan kecil, terumbu karang menjadi benteng terdepan dalam adaptasi perubahan iklim. Terumbu karang selama ini telah mengalami kerusakan akibat naiknya suhu permukaan air laut, yang menimbulkan efek pemutihan (bleaching), memicu kematian terumbu karang dunia.

Di wilayah Karibia misalnya, lebih dari 100% terumbu karang, terdampak efek pemutihan yang dipicu oleh pemanasan global. Ancaman iklim ini akan memerluas wilayah terumbu karang yang berisiko sebesar 90% pada 2030 dan lebih dari 100% pada 2050.

Menurut UNEP, kerusakan terumbu karang di 52 negara SIDS telah menimbulkan kerugian senilai US$11,9 triliun. Terumbu karang adalah lokasi keanekaragaman hayati yang menyimpan potensi perikanan dan berfungsi memelihara ekosistem laut. Secara total, dunia telah kehilangan tutupan terumbu karang seluas 34 juta hektar dalam dua dekade terakhir.

Sektor perikanan menjadi sumber kehidupan dan pangan utama di negara-negara SIDS, dengan porsi mencapai 12% dari Produk Domestik Bruto mereka. Di wilayah kepulauan Pasifik, ikan menjadi sumber protein utama masyarakat di pesisir pantai dengan porsi mencapai 90%.

Menurut Direktur Eksekutif UNEP, Achim Steiner, ke-52 negara kepulauan kecil ini hanya memroduksi kurang dari 1% gas rumah kaca dunia, namun lebih dari 62 juta orang yang tinggal di wilayah ini harus merasakan dampak terbesar akibat perubahan iklim dan kenaikan air laut.

Permukaan air laut dunia, menurut UNEP mengalami kenaikan rata-rata sebesar 3,2 mm per tahun, namun di Pulai Kosrae, Negara Federasi Mikronesia, air laut meningkat lebih tinggi, mencapai 10 mm per tahun. Negara-negara tropis di Pasifik Barat bahkan mengalami kenaikan air laut yang lebih parah lagi, mencapai 12 mm per tahun, antara tahun 1993 hingga 2009 – empat kali lipat rata-rata dunia.

Ancaman lain yang dihadapi oleh penduduk di negara-negara kepulauan ini adalah banjir yang semakin parah, erosi pantai, peningkatan keasaman air laut, kenaikan suhu di darat maupun di laut dan rusaknya infrastruktur akibat cuaca ekstrem seperti topan dan badai.

Sementara biaya energi listrik di SIDS diperkirakan akan naik 5 kali lipat lebih tinggi dari biaya listrik di Amerika Serikat. Upaya mamangkas ketergantungan bahan bakar fosil hingga separuhnya diperlukan guna menekan risiko kenaikan bahan bakar fosil.

Redaksi Hijauku.com