Saipan - Micronesia - SidsnetHari Lingkungan Hidup Sedunia menggarisbawahi ancaman perubahan iklim dan pemanasan global yang semakin nyata.

Apa yang Anda rasakan bila tinggal di sebuah negara kepulauan kecil di tengah samudera, saat mendengar bahwa air laut akan terus naik menenggelamkan tempat tinggal Anda? Bagi kita yang tinggal di Indonesia, seharusnya tidak sulit untuk merasakan dampaknya.

Menurut Badan Informasi Geospatial, Indonesia adalah negara kepulauan dengan 13.466 pulau yang telah terdaftar dan berkoordinat. Selain lima pulau utama yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, ribuan pulau kecil bertebaran di seluruh wilayah Indonesia.

Di wilayah pesisir, masyarakat sudah banyak yang merasakan dampak kenaikan air laut, membawa rob menenggelamkan tanah dan rumah tinggal. Di Muara Gembong, Bekasi misalnya, tampak rumah-rumah yang tak berpenghuni rusak terendam oleh air laut. Abrasi pantai memerparah kondisi ini ditambah ketiadaan vegetasi pelindung seperti hutan bakau dan hutan mangrove.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menyoroti isu yang sama. Melalui tema “Raise your voice not the sea level,” Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berupaya mengajak warga dunia untuk peduli pada isu lingkungan dan perubahan iklim yang memicu kenaikan air laut dan kemusnahan spesies.

Dunia mengenal kelompok Small Island Developing States (SIDS) atau negara berkembang yang terletak di kepulauan kecil. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini didedikasikan untuk menghargai keteguhan dan ketegaran mereka dalam menghadapi dampak pemanasan global dan perubahan iklim.

Jumlah penduduk dan negara yang rentan terhadap kenaikan air laut tidak main-main. Ada 52 negara dengan total jumlah penduduk 62,3 juta jiwa. Mereka menguasai 30% zona ekonomi eksklusif terbesar di dunia dan berperan penting dalam melindungi laut/samudera.

Menurut Program Lingkungan PBB, penelitian ilmiah menunjukkan, pada 2100, pemanasan global bisa memicu kenaikan air laut hingga mencapai ketinggian dua (2) meter, menjadikan banyak negara anggota SIDS ini – termasuk Maladewa, Kiribati dan Tuvalu – rentan tak bisa dihuni.

Bahkan sebelum hal tersebut terjadi, penduduk di negara-negara kepulauan kecil – sebagaimana warga Indonesia yang tinggal di wilayah pesisir – sudah merasakan masalah lingkungan, seperti kesulitan air bersih, abrasi dan intrusi air laut, serta tantangan ekonomi akibat cuaca yang semakin ekstrem.

Namun penduduk di negara-negara kepulauan kecil ini tak hanya diam menyerah pada kondisi alam. Hal ini yang disampaikan oleh rekan-rekan aktifis yang berasal dari negara-negara kepulauan kecil saat mengikuti Global Power Shift di Istanbul, Turki, pertengahan tahun lalu. “We are not drowning, we are fighting!” tegas mereka.

Negara-negara ini juga terus berinvestasi menuju terciptanya ekonomi hijau. Di Barbados misalnya, negara ini menjadi contoh negara yang menerapkan ekonomi hijau dengan berinvestasi dalam Program Pemanas Tenaga Surya yang mampu menghemat energi antara US$135,5-US$137 juta sejak program ini diluncurkan pada tahun 1970-an. Indonesia yang kaya akan panas bumi dan energi terbarukan seharusnya tidak ketinggalan.

Aksi mereka tidak sia-sia. Suara mereka kini menggema ke seluruh dunia. PBB meminta dunia membantu menyuarakan masalah perubahan iklim dan kenaikan air laut ini. “Raise your voice, not the sea level.” Mari suarakan kepedulian kita terhadap lingkungan. Jangan hanya diam. Bersama kita bisa menjadi solusi masalah lingkungan dunia.

Redaksi Hijauku.com