Cyclist - Wikimedia CommonsInternational Agency for Research on Cancer (IARC), lembaga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang meneliti kanker menyatakan polusi udara luar ruang memicu kanker pada manusia. Hal ini terungkap dalam siaran pers WHO yang dirilis Kamis (17/10).

Menurut IARC, polusi udara masuk dalam kelompok pertama (Group 1), yang berarti terdapat bukti-bukti yang cukup bahwa polusi udara adalah pemicu penyakit kanker. Hasil penelitian IARC menyimpulkan, polusi udara memicu kanker paru-paru dan memiliki korelasi positif sebagai penyebab kanker saluran pernafasan.

Partikel-partikel halus – komponen utama polusi udara yang dievaluasi secara terpisah – juga masuk dalam kategori pemicu kanker pada manusia (Group 1). Evaluasi IARC menunjukkan, risiko kanker paru-paru terus meningkat seiring dengan meningkatnya level polusi partikel-partikel halus dan polusi udara.

Walau komposisi dan konsentrasi polusi udara dari satu wilayah dengan wilayah lain berbeda, menurut IARC kesimpulan ini ini berlaku untuk semua wilayah di dunia. Polusi udara sudah lama diketahui sebagai pemicu gangguan jantung dan pernafasan.

Data terakhir yang tersedia (2010) menyebutkan, jumlah kematian akibat kanker paru-paru yang dipicu oleh polusi udara mencapai 223.000 jiwa. “Udara yang kita hirup mengandung unsur-unsur pemicu kanker,” ujar Dr Kurt Straif dari IARC. “Kita tahu bahwa polusi udara luar ruang tidak hanya mengganggu kesehatan namun juga menjadi faktor lingkungan utama penyebab kematian akibat kanker.”

Sebelumnya IARC sudah mengklasifikasikan berbagai bahan kimia dan polusi udara luar ruang sebagai pemicu kanker, termasuk asap mesin disel, cairan pelarut (solvent), metal dan debu. Namun kesimpulan yang menyatakan polusi udara – secara keseluruhan – memicu kanker adalah pengumuman WHO yang pertama.

Sebelum kesimpulan ini diambil, IARC meneliti lebih dari 1000 penelitian ilmiah di lima benua. Tim peneliti menganalisis efek kanker dari berbagai jenis polutan yang ada di udara – terutama partikel-partikel halus dan polusi dari sektor transportasi – yang dipicu oleh semakin banyaknya kasus kesehatan di Eropa, Amerika Selatan dan Utara serta Asia.

“Mengklasifikasikan polusi udara luar ruang sebagai pemicu kanker adalah langkah penting,” ujar Dr Christopher Wild, Direktur IARC. “Laporan ini harus menjadi faktor pendorong yang kuat bagi dunia untuk segera beraksi menanggulangi masalah polusi udara,” tuturnya.

Ada sejumlah aksi yang bisa dilakukan untuk mengurangi polusi udara. Penelitian Purdue University menggarisbawahi pentingnya kebijakan lingkungan dan udara bersih guna mengatasi masalah polusi udara di perkotaan.

Redaksi Hijauku.com