Wind farm - footloosietyBerbagai analisis menyimpulkan, untuk mencegah kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat Celsius di atas suhu masa pra-industri, dunia perlu membatasi kenaikan emisi CO2 antara 10-20 Giga ton (Gt) pada 2050 – tergantung pada level emisi saat ini.

Dan pada 2008, para pemimpin dunia yang hadir dalam pertemuan G8 di Hokkaido, Jepang setuju untuk memangkas separuh emisi CO2 dunia (15 Gt dari total 30 Gt) pada 2050, untuk menghambat efek pemanasan global.

Penelitian terbaru dari Energy Futures Lab dan Grantham Institute for Climate Change, lembaga milik Imperial College London menyatakan, sepuluh wilayah dunia berpotensi membantu membatasi emisi dari sektor energi global sebesar 15 Gt pada 2050.

Kesepuluh wilayah tersebut adalah negara-negara OECD di Eropa, negara-negara Eropa Timur, negara-negara OECD di Amerika Utara, negara-negara Amerika Latin, China, India, negara OECD di Asia Pasifik, negara-negara Asia yang lain, negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, serta negara di wilayah Sub-Sahara Afrika.

Dengan menggunakan model yang memerhitungkan pemakaian listrik, transportasi, bangunan dan sektor industri di semua wilayah di atas, tim peneliti bisa memerkirakan tren energi dan skenario biaya bahan bakar fosil pada masa datang.

Mereka juga bisa memerkirakan biaya penerapan teknologi rendah karbon guna mengetahui perubahan dalam sistem energi dunia pada 2050. Tujuannya adalah untuk memerhitungkan biaya mitigasi menuju target pembatasan emisi 2 derajat Celcius.

Analisis ini keluar pada saat yang tepat: seiring dikeluarkannya laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) ke-5. Dari hasil penelitian ini terungkap, jika tren penggunaan energi saat ini berlanjut, emisi akan meningkat sekitar 50 Gt per tahun pada 2050. Sementara konsumsi bahan bakar fosil akan naik 50% dibanding level saat ini.

Guna membatasi emisi dari penggunaan energi dan konsumsi bahan bakar fosil, diperlukan transisi ke berbagai teknologi rendah karbon di berbagai sektor ekonomi. Pemakaian energi terbarukan dan energi penangkapan karbon (carbon capture) juga berperan penting dalam memangkas emisi di industri listrik dunia. Menimbang risiko keamanan, penggunaan energi nuklir seharusnya dihindari.

Biaya untuk membatasi emisi CO2 ini menurut tim peneliti mencapai $2 triliun per tahun atau 1% dari Produk Domestik Bruto dunia pada 2050. Biaya ini bisa jauh lebih murah tergantung harga bahan bakar fosil pada masa datang.

Ada tiga langkah utama yang harus dilakukan sektor industri, bangunan dan transportasi untuk mengurangi emisi karbon. Langkah pertama adalah peningkatan penggunaan listrik – dan mengurangi pembakaran langsung bahan bakar fosil. Langkah kedua adalah peningkatan efisiensi energi. Dan langkah terakhir adalah peningkatan pemakaian energi nabati.

Jika semua itu dilakukan, efisiensi penggunaan energi bisa meningkat hingga 30% pada 2050. Permintaan akan bahan bakar fosil juga bisa dikurangi hingga 40% pada 2050, dibanding jika tidak ada program pengurangan emisi. Kabar baiknya, semua negara bisa turut beraksi mengurangi emisi menuju ekonomi yang rendah karbon. Mari beraksi.

Redaksi Hijauku.com