Oil well fire in Kuwait - Wikimedia CommonsKoalisi Iklim dan Udara Bersih menyeru dunia bersama-sama membersihkan polusi udara yang mencabut lebih dari 6 juta nyawa setiap tahun di seluruh dunia.

Hal ini disampaikan oleh sejumlah menteri lingkungan hidup, CEO, pejabat pemerintahan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat yang berkumpul di Oslo, Norwegia, Selasa (3/9).

Mereka merayakan upaya dan kemajuan yang telah mereka capai selama 18 bulan dalam memangkas polutan iklim jangka pendek (short-lived climate pollutants, SLCPs).

Bård Vegar Sohjell, Menteri Lingkungan Hidup Norwegia, menyatakan, koalisi ingin negara lain juga beraksi mengurangi polusi udara. “Upaya konkret untuk mengurangi polusi udara di negara berkembang sangat penting. Norwegia akan menambah bantuan senilai $20 juta guna memangkas emisi iklim jangka pendek terutama di negara berkembang,” tuturnya sebagaimana dikutip dalam rilis berita Program Lingkungan PBB (UNEP).

Saat ini anggota Koalisi Iklim dan Udara bersih sudah mencapai 72 negara dan organisasi. Mereka mengupayakan pemangkasan emisi metana dan karbon hitam dari industri minyak dan gas bumi serta dari sampah padat di perkotaan dan di lokasi pembuangan sampah akhir.

Semua anggota koalisi juga setuju dengan upaya mengurangi produksi dan konsumsi hydrofluorocarbons (HFC) di bawah Protokol Montreal dan menyatakan komitmennya untuk mendukung target jangka panjang menghilangkan polusi partikulat dan emisi karbon hitam yang berasal dari mesin dan kendaraan berat bermesin disel.

Dengan bantuan terbaru dari Norwegia, mereka juga berkomitmen untuk membantu negara-negara yang ingin menciptakan strategi nasional pengurangan emisi iklim jangka pendek dan memodernkan pabrik batu bata penghasil polusi karbon di seluruh dunia.

“Intervensi mengurangi polusi iklim jangka pendek bisa membawa manfaat besar bagi kesehatan, termasuk mencegah penyakit pneumonia pada anak-anak dan penyakit tidak menular (non-communicable diseases) seperti penyakit paru-paru dan jantung kronis,” ujar Hans Troedsson, Direktur Eksekutif dari Kantor Direktor Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Anak-anak dan wanita di negara berkembang adalah korban utama dari polusi iklim jangka pendek ini,” tuturnya.

Mengenali dampak polusi udara terhadap kesehatan adalah salah satu cara menyosialisasikan pemanasan global dan perubahan iklim. Metana dan karbon hitam – selain memicu masalah kesehatan – juga memicu krisis lingkungan (pemanasan global) dan krisis iklim. Penting bagi masyarakat mengetahui bahwa semua faktor-faktor tersebut saling terkait.

Redaksi Hijauku.com