Helium balloon over South Pole - NASA GoddardBanyak dari kita yang mengira bahwa lubang ozon adalah penyebab utama peningkatan suhu bumi. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah.

Penelitian ilmiah terbaru mengungkapkan, lubang ozon memengaruhi suhu bumi namun dengan cara yang tidak seperti yang kita bayangkan.

Dari analisis model komputer terungkap, lubang ozon meningkatkan suhu bumi – walau sedikit – dengan mengubah pola angin yang mendorong awan menjauhi Kutub Selatan. Saat awan bergeser, radiasi yang dipantulkan awan berkurang dan menyebabkan sedikit peningkatan suhu bumi.

Peta konsentrasi ozon di belahan bumi bagian selatan menunjukkan penipisan lapisan ozon di atas Kutub Selatan. Wilayah yang mengalami penipisan lapisan ozon ini disebut dengan “lubang ozon”. Lubang ozon inilah yang memicu perubahan pola angin dan tutupan awan.

“Kami terkejut dengan efek (lubang ozon) terhadap peralihan arah angin dan pola awan ini,” ujar Kevin Grise, ilmuwan iklim di Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University di Kota New York yang memimpin penelitian ini. Grise menyatakan, efek lubang ozon terhadap peningkatan suhu bumi ini – walau sedikit – penting guna memrediksi iklim wilayah bumi bagian selatan pada masa datang.

Dalam penelitian ini Grise berkolaborasi dengan Lorenzo Polvani dari Columbia University, George Tselioudis dari NASA Goddard Institute for Space Studies, Yutian Wu dari New York University, dan Mark Zelinka dari Lawrence Livermore National Laboratory.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam Geophysical Research Letters, jurnal milik American Geophysical Union. Setiap molekul ozon mengandung tiga atom oksigen yang terikat bersamaan.

Semua molekul ozon ini berkumpul di lapisan stratosfer sekitar 20 hingga 30 kilometer di atas permukaan bumi. Ketinggian lokasi lapisan ozon ini sekitar dua kali lipat ketinggian penerbangan pesawat komersial.

Lapisan ozon melindungi bumi dari radiasi ultraviolet yang – jika tidak dihadang oleh lapisan ultraviolet – akan menyebabkan kulit terbakar, kerusakan mata dan kanker kulit.

Pada periode 1980-an, tim ilmuwan menemukan fenomena menipisnya lapisan ozon di atas benua Antartika sepanjang musim semi di wilayah bumi bagian selatan. Penyebab “lubang” ozon ini adalah gas chlorofluorocarbons (CFC), seperti Freon, yang dipakai dalam produk-produk pendingin, kaleng aerosol dan cairan anti minyak, yang mengurai molekul ozon.

Walau pada 1987 Montreal Protocol telah melarang penggunaan CFC di seluruh dunia, lubang ozon terus ada selama berpuluh tahun kemudian.

Banyak orang yang kurang memahami mengenai hubungan lubang ozon dan pemanasan global. Survei yang dilakukan Yale University pada 2010 menemukan, 61%responden percaya lubang ozon adalah penyebab utama pemanasan global.

Penelitian terbaru ini menambah wawasan kita mengenai dampak lubang ozon terhadap perubahan iklim dan pemanasan global.

Redaksi Hijauku.com